Setelah melahirkan, kehidupan Nara berubah menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda. Waktu seolah-olah menjadi milik seorang bayi kecil yang setiap beberapa jam menangis karena lapar, terbangun karena popok basah, atau sekadar ingin digendong.
Bayi itu diberi nama Najwa. Nama itu dipilih Nara dan Wahyu dengan banyak pertimbangan sederhana. Mereka ingin anak pertama mereka memiliki nama yang lembut, nama yang ketika dipanggil terasa seperti doa. Bagi Nara, nama itu bukan sekadar nama seorang anak. Najwa adalah alasan baru baginya untuk bertahan.
Hari-hari pertama setelah melahirkan tidak mudah. Tubuh Nara belum benar-benar pulih. Ia sering merasa lelah bahkan ketika baru saja bangun dari tidur. Malam-malam yang dulu diisi dengan tidur panjang berubah menjadi malam yang terpotong-potong oleh tangisan kecil. Kadang Nara menangis diam-diam. Bukan karena ia tidak bahagia menjadi seorang ibu, justru karena ia sangat bahagia.
Kebahagiaan itu membuatnya takut. Ia takut kehilangan. Ia takut suatu hari nanti Najwa merasakan kesepian yang sama seperti dirinya. Karena itu, Nara menjadi ibu yang sangat memperhatikan anaknya. Ia memastikan Najwa tidak terlalu lama menangis. Ia selalu berusaha ada ketika anak itu membutuhkan sesuatu.
Wahyu melihat perubahan itu. Nara yang dahulu keras kepala dan mudah tersulut emosi kini memiliki kelembutan yang berbeda ketika berhadapan dengan anaknya.
Wahyu sebagai seorang ayah juga sangat siaga. Ia mau menidurkan Najwa, juga mengganti popok di malam hari. Bahkan pria itu lebih luwes daripada Nara. Ketika Najwa sakit, Wahyu juga mau menjaganya semalaman.
-------
Waktu terus berjalan. Najwa tumbuh menjadi anak yang ceria. Pada saat usia bocah itu dua tahun, mereka mendapat kabar bahwa Dinda akan menikah. Kabar itu sebenarnya sederhana. Tetapi bagi Nara, pernikahan Dinda membawa banyak kenangan lama yang selama bertahun-tahun berusaha ia simpan jauh-jauh.
Keluarga besar mulai bersiap datang ke ibu kota. Pak Imam dan Yuli ikut sibuk mempersiapkan pernikahan. Keluarga dari berbagai tempat datang dan berkumpul. Rumah yang mereka tempati menjadi lebih ramai dari biasanya.
Pemandangan yang Nara lihat membuat sesuatu seperti mengganjal di dalam hatinya. Ia melihat bagaimana Pak Imam begitu memperhatikan pernikahan Dinda. Banyak hal yang dipersiapkan. Banyak hal yang dibicarakan. Banyak keputusan yang melibatkan Pak Imam.
Pria itu terlihat seperti seorang ayah yang benar-benar sedang mempersiapkan pernikahan putrinya. Nara ingat, bagaimana dulu saat dia menikah. Bagaimana Imam benar-benar hanya berperan sebagai wali nikah, tanpa bertanya apa-apa saja yang dibutuhkan. Nara tahu, pernikahannya yang terkesan mendadak dan memaksa, seharusnya tak banyak menuntut. Namun, Nara tetaplah seorang manusia, seorang anak yang terkadang tidak bisa mengendalikan rasa irinya.
Ia ingin ayahnya melihatnya sebagai anak perempuannya. Namun, yang ia dapatkan hanyalah rasa sepi yang tidak pernah benar-benar hilang. Kini, bertahun-tahun kemudian, Nara melihat perhatian yang begitu besar diberikan kepada Dinda. Perhatian yang dahulu ia tunggu. Perhatian yang dahulu ia kira tidak akan pernah datang. Perhatian yang nyatanya mampu mengusik hatinya.
Malam setelah beberapa keluarga berkumpul, Nara duduk di teras sambil memandangi Najwa yang tertidur di pangkuannya. Lampu menerangi wajah kecil itu. Nara mengusap rambut Najwa perlahan. Ia tiba-tiba membayangkan jika suatu hari anaknya menikah, ia tidak ingin menjadi ibu seperti ayahnya. Ia tidak ingin membuat anaknya bertanya-tanya apakah dirinya cukup penting untuk diperjuangkan.
Nara ingin menjadi orang pertama yang berdiri ketika Najwa membutuhkan bantuan. Ia inggin selalu hadir. Pikiran itu membuat matanya panas. Nara menunduk, mencium kening sang putri. Di dalam hati, ia membuat janji yang tidak pernah ia ucapkan kepada siapa pun, apa pun yang terjadi, Najwa tidak akan tumbuh dengan perasaan bahwa dirinya tidak diinginkan.
-------
Pernikahan Dinda akhirnya berlangsung. Rumah kontrakan penuh orang. Suara musik, kendaraan, tawa, dan percakapan bercampur menjadi satu. Pak Imam tampak sibuk ke sana kemari menyalami tamu-tamunya. Yuli juga sibuk mengurus banyak hal. Untuk beberapa waktu, semua orang terlihat bahagia. Namun, setelah acara selesai, suasana perlahan berubah. Kelelahan yang selama ini ditahan mulai menemukan tempatnya.
"Kamu ya, Mas... dari dulu seperti itu! Masalah uang selalu saja aku yang back-up. Punya suami, nggak punya suami, rasanya bagiku sama saja!" keluh Yuli, beberapa hari setelah acara hajatan. Semua keluarga sudah kembali ke rumah masing-masing. Termasuk Nenek Parni. Masalah dipicu karena uang hasil kondangan orang-orang tidak menutup semua pengeluaran.
"Dari dulu aku selalu diam. Kamu hina aku segimanapun aku diam. Kamu hina aku, mengatakan ke teman-temanmu kalau aku hanya tukang ojekmu, aku diam. Kamu melarangku membiayai putriku, aku menuruti. Sekarang hanya karena menuruti gengsimu, lalu utang nggak ketutup, kamu lampiaskan padaku?! Aku itu suami kamu, Yul! Tapi selama kita menikah, kamu sama sekali tidak pernah menghormatiku, menghargaiku!" Unek-unek yang ada di hati Imam akhirnya keluar juga.
Berawal dari situ, hubungan mereka semakin tidak baik-baik saja. Setiap hari selalu saja ada pertengkaran. Untuk menenangkan pikiran, Imam memutuskan untuk pulang kampung.
Di kampung, Imam menceritakan semuanya pada Nenek Parni. Wanita tua itu hanya bisa mendukung apa pun nanti keputusan Imam.
Tanpa sepengetahuan Yuli, Imam mengurus perceraian. Dengan bantuan pengacara, semuanya berjalan mulus. Saat palu sudah diketuk, Imam kembali ke ibukota. Namun, Yuli sama sekali belum tahu tentang statusnya yang sekarang sudah menjadi janda.