Keputusan untuk pergi tidak pernah benar-benar terasa ringan bagi Nara. Bahkan ketika langkahnya sudah menjauh dari kampung, ketika jalan setapak yang selama ini ia kenal mulai berganti menjadi jalan raya, dan ketika rumah-rumah yang dikenalnya perlahan hilang dari pandangan, ada sesuatu yang tetap tertinggal di dadanya. Bukan keberanian, melainkan rasa bersalah.
Nara dan Wahyu pergi tanpa memberi tahu banyak orang. Mereka hanya membawa beberapa pakaian dalam dua tas besar, beberapa perlengkapan Najwa, dokumen-dokumen penting, serta sedikit uang hasil jual motor. Tidak ada perpisahan. Tidak ada pelukan panjang. Tidak ada keluarga yang mengantar sampai terminal. Bahkan Nenek Parni pun tidak tahu ke mana mereka pergi. Tidak seorang pun.
Tidak ada yang tahu bahwa saat meninggalkan kampung, Nara sedang mengandung anak kedua. Kehamilan itu sebenarnya sudah diketahui Nara beberapa minggu sebelumnya. Awalnya ia mengira tubuhnya hanya kelelahan. Sejak Najwa masih kecil, tidur Nara memang tidak pernah benar-benar cukup.
Tetapi ketika rasa mual semakin sering datang dan haidnya tidak kunjung tiba, Nara mulai curiga. Ia memeriksakan diri diam-diam. Hasilnya membuatnya duduk lama di sebuah bangku kayu di depan tempat pemeriksaan. Hamil. Nara mengusap perutnya yang belum terlalu tampak. Ada kehidupan kecil yang sedang tumbuh di sana. Anak kedua. Kabar itu seharusnya membuat seorang ibu bahagia. Dan Nara memang bahagia, tetapi bersamaan dengan kebahagiaan itu, muncul kecemasan yang begitu besar. Mereka bahkan belum memiliki rumah sendiri, pekerjaan Wahyu tidak menentu. Uang juga tidak memiliki. Karena itulah keputusan untuk merantau menjadi semakin bulat.
-------
Perjalanan terasa panjang, terutama bagi Nara yang harus memangku Najwa hampir sepanjang perjalanan. Sesekali anak itu tertidur di pangkuan ibunya. Sesekali ia terbangun dan bertanya apakah mereka sudah sampai.
Saudara Wahyu tinggal di Kota Baru, kota yang cukup ramai. Rumahnya tidak besar, tetapi mereka memiliki usaha warung makan. Cukup ramai, bahkan sudah memiliki beberapa pegawai.
Ketika Nara dan Wahyu tiba, saudara Wahyu menerima mereka dengan baik. "Kalian tinggal di sini dulu saja," katanya.
Nara merasa lega karena tidak perlu membayar sewa. Tidak perlu memikirkan biaya makan untuk beberapa waktu.
Wahyu langsung membantu di warung makan itu. Pagi-pagi sekali ia sudah bangun untuk mengangkat karung beras, membersihkan meja, membeli bahan makanan, dan membantu memasak. Siang hari, ia melayani pelanggan. Malam hari, ia membersihkan warung sebelum akhirnya tidur.
Nara pun tidak ingin hanya duduk diam. Meskipun sedang hamil, ia membantu mencuci piring, memotong sayuran, membungkus makanan, sambil menjaga Najwa. Awalnya ia merasa sungkan, tetapi setelah beberapa hari, rasa sungkan itu perlahan berubah menjadi kebiasaan.
Rumah saudara Wahyu menjadi tempat mereka bertahan. Bukan rumah mereka sendiri. Namun, cukup untuk membuat mereka tidak tidur di jalan.
Lima bulan mereka tinggal di sana. Lima bulan yang mengajarkan Nara bahwa hidup di perantauan berbeda dengan kehidupan di kampung.
Suatu malam, ketika semua orang sudah tidur, Nara duduk di lantai kamar sambil memandangi perutnya. Najwa tidur di sebelahnya.
Wahyu baru saja masuk setelah membantu menutup warung. "Kamu belum tidur?"
Nara menggeleng. "Takut."
Wahyu duduk di sampingnya, lalu bertanya, "Takut apa?"
Nara mengusap perutnya. "Nanti kalau melahirkan?"
"Kita akan cari kos-kosan."
Nara mengangguk. Ia lega. Karena tidak mungkin akan terus-menerus penumpang pada saudara Wahyu, meskipun Wahyu juga bekerja pada mereka.
-------
Wahyu akhirnya mendapatkan sebuah kamar kos kecil. Ukuran kamarnya hanya sekitar dua kali dua meter. Sangat sempit. Di salah satu sudut terdapat lemari kecil untuk pakaian. Ada kasur lantai tipis yang hanya berukuran 80x200cm. Kamar mandi berada di luar dan digunakan bersama penghuni kos lainnya.
Ketika pertama kali melihat kamar itu, Nara hanya berdiri di ambang pintu.
"Kecil ya, Mas," katanya pelan.
Wahyu mengangguk. "Yang penting kita punya tempat sendiri."
Nara melihat ke dalam. Kemudian melihat Najwa. Anaknya tersenyum sambil memegang ujung bajunya.
"Ya." Nara tersenyum. "Yang penting kita punya tempat sendiri."
Hari itu mereka pindah. Tidak banyak barang yang harus dibawa. Kamar dua kali dua meter itu menjadi rumah mereka.
Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan kampung, Nara merasa ia memiliki ruang yang benar-benar menjadi miliknya. Kecil, pengap, sempit. Namun, milik mereka.
-------
Kamar berukuran dua kali dua meter itu perlahan menjadi tempat yang akrab bagi Nara. Di luar kamar, suara orang-orang yang tinggal di kos masih terdengar. Ada pintu yang dibuka, suara sandal diseret, suara keran kamar mandi, dan sesekali suara kendaraan dari jalan depan.
Nara sudah terbiasa. Ia bahkan mulai hafal kapan penghuni kamar sebelah biasanya pulang, kapan kamar mandi mulai sepi, dan kapan suara kendaraan di luar berkurang.
Malam itu, Najwa sudah tidur. Anak kecil itu meringkuk di samping dinding dengan bantal tipis di bawah kepalanya. Rambutnya sedikit berantakan. Tubuh kecilnya terlihat semakin kecil karena kamar yang sempit itu.