Warung itu tidak langsung menjadi besar. Tidak ada hari ketika Nara dan Wahyu bangun pagi lalu mendapati halaman mereka dipenuhi pelanggan. Tidak ada seseorang yang datang membawa modal besar. Tidak ada orang kaya yang tiba-tiba menawarkan bantuan. Tidak ada keberuntungan yang jatuh begitu saja dari langit.
Yang ada hanya meja kayu yang mereka beli dengan uang tabungan seadanya, kompor dia tungku, beberapa piring, sebuah etalase kecil, dan tangan yang setiap hari dipaksa bekerja lebih keras daripada kemarin.
Warung makan itu mereka beri nama Warung Mbak Nara. Nama yang sederhana.
Pada saat awal, warung mereka bahkan belum layak disebut ramai. Pagi hari Nara memasak nasi sebelum matahari muncul. Ia menanak beras dengan takaran yang sangat hati-hati karena satu gelas beras pun memiliki nilai. Ia membuat sayur dalam jumlah sedikit. Lauk hanya beberapa macam. Sambal diletakkan di wadah kecil. Tempe dan tahu digoreng sedikit demi sedikit.
Ia belajar menghitung bukan hanya uang, tetapi juga berapa potong tempe yang boleh digoreng. Berapa banyak nasi yang harus dimasak. Berapa banyak minyak yang boleh digunakan. Berapa banyak cabai yang bisa dibeli. Semuanya dihitung.
Sebab dulu, ketika mereka masih hidup dengan penghasilan Wahyu sebagai tukang tambal ban dan kuli bangunan, mereka terbiasa menghitung uang untuk makan sampai hari berikutnya. Sekarang mereka masih menghitung hal yang sama, hanya saja jumlah yang harus dihitung bertambah. Ada modal, belanja, listrik, gas, uang sewa, kebutuhan rumah, dan ada anak yang harus dipikirkan.
Kontrakan Nara merupakan kontrakan yang lingkungannya banyak kos-kosan, banyak kaum rantau pekerja yang tidak sempat masak.
Saat hari pertama jualan, yang membeli hanya beberapa orang. Hari kedua lebih sedikit. Hari ketiga hampir tidak ada. Nara pernah duduk di belakang etalase sambil menatap lauk yang masih utuh sampai siang. Nasi di dalam magic com tinggal sedikit, tetapi bukan karena habis dimakan pembeli, melainkan sebagian harus mereka makan sendiri.