Keping Hati

RiniKa
Chapter #14

Keping 13 (Jarak yang Kembali Tumbuh)

Ada masa ketika Nara merasa hidup akhirnya mulai berpihak kepadanya. Perasaan itu tidak datang seperti kebahagiaan yang besar dan menggelegar. Tidak ada peristiwa istimewa yang membuatnya tiba-tiba merasa hidupnya sempurna. Kebahagiaan Nara justru tumbuh dari hal-hal sederhana yang sebelumnya tidak pernah ia miliki. Pagi yang tidak lagi dipenuhi kecemasan tentang uang makan, anak-anak yang bisa bersekolah dengan lebih tenang, warung yang sudah mempunyai pelanggan tetap, dan Wahyu yang tidak lagi dipandang sebelah mata.

Warung Mbak Nara semakin stabil. Setelah bertahun-tahun, Nara mulai merasakan bahwa hidupnya memiliki arah. Ia bahkan mulai mampu memikirkan masa depan tanpa merasa takut.

Hubungannya dengan keluarga pun perlahan membaik. Tidak semua luka sembuh, tetapi tidak semua luka harus terus berdarah. Nara sudah belajar menerima bahwa beberapa orang mungkin tidak akan pernah menjadi seperti yang ia harapkan. Namun, selama mereka tidak lagi datang membawa pertengkaran, ia memilih untuk menjaga jarak yang sehat dan membiarkan hubungan berjalan sewajarnya.

Dengan ibunya, Nara rutin berkomunikasi. Tidak setiap hari, tetapi cukup untuk membuat hubungan mereka tidak sepenuhnya terputus. Bu Ratmi sesekali menelepon untuk menanyakan anak-anak. Kadang mereka berbicara tentang harga kebutuhan rumah, tentang kesehatan, atau tentang kabar saudara.

Dengan keluarga ayahnya pun keadaan mulai lebih tenang. Tidak ada lagi pertengkaran besar yang membuat Nara harus memilih untuk pergi. Bahkan beberapa kali ia datang ketika ada acara keluarga.

Nara tidak merasa diterima sepenuhnya, tetapi setidaknya ia tidak lagi merasa harus membuktikan bahwa dirinya pantas berada di sana.

Mungkin itulah salah satu bentuk kedewasaan yang baru dipahaminya.

Tidak semua pintu yang pernah tertutup harus didobrak agar terbuka kembali.

Ada pintu yang cukup diketuk sekali. Jika tidak dibukakan, seseorang bisa memilih berjalan pulang ke rumahnya sendiri. Dan rumah itu kini sudah dimiliki Nara.

Namun, kehidupan tidak pernah benar-benar berhenti menguji seseorang hanya karena ia mulai bahagia. Beberapa bulan setelah keadaan keluarganya membaik, kabar tentang Bu Yuli datang.

Perempuan yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari kehidupan Pak Imam itu meninggal setelah mengalami sakit yang cukup lama. Kabar tersebut sampai kepada Nara melalui telepon keluarga. Tidak ada pertengkaran ketika kabar itu datang. Tidak ada perasaan menang. Tidak ada pula kepuasan karena orang yang pernah membuat masa kecilnya terasa asing akhirnya pergi dari kehidupannya. Yang ada justru kesunyian.

Nara duduk cukup lama setelah telepon ditutup. Ia memandang anak-anak yang sedang bermain di ruang depan, kemudian memandang Wahyu yang sedang menghitung uang hasil warung. Ada banyak hal yang pernah dilakukan Bu Yuli kepadanya. Ada kalimat-kalimat yang masih diingat. Ada perlakuan yang pernah membuatnya merasa tidak memiliki tempat di rumah ayahnya sendiri. Namun, kematian membuat semua itu terasa berbeda.

Nara tidak lupa. Tetapi ia juga tidak ingin membawa kebencian itu sampai akhir hidupnya.

Sejak hari itu, hubungan Nara dan ayahnya sedikit berubah. Pak Imam mulai lebih sering menghubungi Nara. Awalnya hanya menanyakan kabar. Setelah itu menanyakan anak-anak. Kemudian mulai bercerita tentang keadaan rumah, pekerjaannya, dan rasa sepi yang muncul setelah Bu Yuli tidak ada. Nara mendengarkan. Ia tidak ingin terlalu cepat berharap, tetapi ada bagian kecil dalam dirinya yang mulai kembali bergerak. Bagian dirinya yang selama bertahun-tahun masih menunggu seorang ayah.

Pak Imam mulai datang sesekali ke Kota Baru. Kehadiran itu perlahan membuat hati Nara hangat. Ia mulai mengenal ayahnya dalam bentuk yang berbeda. Tidak sempurna, tetapi lebih dekat. Pak Imam mulai terlihat berusaha memperbaiki sesuatu yang selama puluhan tahun rusak. Ia mengatakan bahwa ia tidak ingin menikah lagi. Kalimat itu sederhana. Namun bagi Nara, kalimat itu memiliki arti yang jauh lebih besar.

Pak Imam mengatakan bahwa ia sudah cukup menikah. Ia ingin menjalani sisa hidupnya dekat dengan anak dan cucu. Ia tidak ingin lagi mencari pasangan. Ia merasa usianya sudah tidak muda dan ingin menikmati hari-hari yang tersisa bersama keluarganya.

Nara tidak banyak menanggapi.

Ia hanya tersenyum kecil.

Tetapi malam itu, setelah warung ditutup, ia terus memikirkan perkataan ayahnya.

Untuk pertama kalinya, Nara membayangkan sesuatu yang selama ini hampir tidak pernah berani ia bayangkan.

Mungkin kali ini ia benar-benar akan memiliki seorang ayah.

Bukan ayah yang hanya datang sesekali. Bukan ayah yang selalu memiliki keluarga lain. Bukan ayah yang membuatnya merasa harus bersaing untuk mendapatkan perhatian.

Mungkin sekarang Pak Imam benar-benar akan tinggal sebagai ayahnya.

Harapan itu tumbuh pelan-pelan.

Nara bahkan mulai membayangkan anak-anaknya bisa lebih dekat dengan kakeknya. Ia membayangkan hari-hari ketika mereka bisa berkumpul tanpa ketegangan. Ia membayangkan dirinya dapat menelepon ayah hanya untuk bertanya apakah sudah makan. Ia membayangkan hal-hal kecil yang selama ini terasa terlalu mewah bagi seorang anak seperti dirinya.

Namun Nara tidak tahu bahwa harapan yang terlalu lama disimpan di dalam hati bisa terasa lebih menyakitkan ketika kembali runtuh.

Pada tahun yang sama, Nenek Parni meninggal.

Kabar itu datang pada pagi hari.

Nara sedang menyiapkan sarapan ketika telepon berdering. Begitu mendengar suara di ujung sana, tangannya berhenti bergerak. Ia berdiri di dapur dengan pisau masih berada di dekat talenan, sementara pikirannya seperti kehilangan arah.

Nenek Parni telah menjadi salah satu sedikit orang yang membuat Nara merasa memiliki tempat untuk pulang.

Meskipun hidup mereka tidak pernah benar-benar mudah, perempuan tua itu pernah menjadi rumah ketika rumah lain terasa asing. Ia tidak banyak bertanya. Ia tidak memaksa Nara memilih pihak. Ia hanya menyediakan tempat untuk duduk, sepiring nasi, dan seseorang yang bersedia mendengarkan.

Kematian Nenek Parni membuat Nara seperti kehilangan bagian terakhir dari masa kecilnya.

Ia pulang untuk pemakaman.

Di rumah yang dulu sering menjadi tempatnya berlindung, Nara duduk di antara keluarga yang datang. Banyak wajah yang sudah berubah. Banyak orang yang semakin tua. Banyak suara yang dulu akrab kini terdengar asing.

Nara memandangi tubuh neneknya untuk waktu yang lama.

Ada banyak hal yang ingin ia katakan, tetapi tidak ada satu pun yang bisa keluar.

Ia ingin berterima kasih.

Ia ingin meminta maaf.

Ia ingin mengatakan bahwa sekarang ia sudah memiliki rumah sendiri. Ia ingin mengatakan bahwa hidupnya ternyata tidak berakhir seperti yang dulu ia takutkan. Ia ingin mengatakan bahwa anak kecil yang dulu sering merasa sendirian akhirnya berhasil tumbuh.

Namun, Nenek Parni sudah tidak bisa mendengarnya.

Nara hanya menangis dalam diam.

Setelah pemakaman selesai, ia berdiri cukup lama di depan makam. Angin bergerak pelan di antara pepohonan. Tanah merah masih basah. Orang-orang satu per satu mulai meninggalkan pemakaman.

Saat itu Nara menyadari bahwa semakin dewasa seseorang, semakin banyak pula orang yang harus ia relakan pergi.

Dan tidak semua perpisahan memberi kesempatan untuk mengatakan selamat tinggal.

Setelah kematian Nenek Parni, Nara semakin dekat dengan Pak Imam.

Keduanya sama-sama kehilangan seseorang yang pernah menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka. Pak Imam kehilangan ibunya. Nara kehilangan nenek yang membesarkannya dengan cara yang tidak sempurna, tetapi penuh ketulusan.

Mereka seperti memiliki kesedihan yang sama.

Untuk beberapa waktu, hubungan mereka terasa sangat dekat.

Lihat selengkapnya