Beberapa bulan kemudian, Ratmi membeli telepon genggam baru dengan uang yang dikumpulkannya sendiri. Ponsel lamanya sudah sering mati dan sulit digunakan, sehingga ia menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membeli yang baru.
Nara mengetahui kabar itu ketika Ratmi meneleponnya sambil terdengar bersemangat. Ia bercerita tentang ponsel barunya seperti seorang anak yang baru mendapatkan sesuatu yang menyenangkan. Nara ikut senang mendengarnya, apalagi selama ini ibunya jarang membeli sesuatu untuk dirinya sendiri.
"Jangan lupa belajar video call, Bu. Biar nanti bisa lihat cucu-cucu."
"Iya. Tapi Ibu masih bingung. Ini banyak sekali tombolnya."
Nara tertawa kecil. Ia kemudian mengajari ibunya melalui telepon. Mulai dari menyimpan nomor, mengirim foto, sampai menggunakan media sosial.
Awalnya Ratmi hanya menonton video dan membaca unggahan orang lain. Namun, beberapa minggu kemudian, ia mulai mengenal banyak orang melalui media sosial. Salah satunya seorang pria yang sering mengirim pesan kepadanya.
Nara tidak mengetahui hal itu sampai adiknya yang tinggal bersama Ratmi di kampung menelepon.
"Mbak, aku mau cerita soal Ibu."
Nara yang sedang melipat pakaian berhenti. "Kenapa Ibu?"
"Ibu sekarang sering ngobrol sama laki-laki lewat HP. Hampir setiap malam."
Nara terdiam sejenak. Ia tidak ingin langsung berpikiran buruk. Ratmi sudah dewasa dan tentu memiliki hak untuk berteman dengan siapa saja. Namun, nada suara adiknya terdengar cukup khawatir.
"Memangnya siapa orangnya?"
"Enggak tahu. Ibu enggak pernah cerita. Tapi kalau ada aku, HP-nya sering disembunyikan."
Sejak saat itu, Nara mulai memperhatikan perubahan pada ibunya. Setiap kali menelepon, Ratmi terkadang terdengar terburu-buru. Beberapa kali ia juga menolak video call dengan alasan sedang sibuk.
Kekhawatiran Nara semakin besar.
Ia takut Ratmi ditipu. Ia takut pria itu hanya memanfaatkan kesepian ibunya. Tetapi daripada bertanya langsung dan membuat Ratmi tersinggung, Nara mengambil jalan yang keliru.
Ia menyadap ponsel Ratmi dengan bantuan sang adik.
Awalnya Nara hanya ingin memastikan bahwa ibunya baik-baik saja. Namun, setelah melihat percakapan Ratmi dengan pria tersebut, ia justru semakin penasaran. Percakapan yang awalnya biasa berubah menjadi lebih akrab. Pria itu sering menanyakan kabar Ratmi, mengingatkan makan, dan memberikan perhatian yang membuat Ratmi terlihat senang.
Nara membaca semuanya dengan perasaan tidak tenang.
Ia tahu dirinya telah melakukan sesuatu yang salah. Ponsel itu milik Ratmi. Kehidupan pribadi ibunya bukan sesuatu yang berhak ia awasi begitu saja. Tetapi rasa takut membuat Nara terus mencari tahu. Apalagi setelah mendapati si pria mengirim pesan tidak sopan.
Sampai akhirnya Ratmi mengetahui apa yang dilakukan anaknya.
Telepon Ratmi masuk menjelang sore.
"Kenapa kamu menyadap HP Ibu?"
Nara langsung terdiam.
Ia mencoba menjelaskan bahwa dirinya hanya khawatir. Ia mengatakan bahwa adiknya lebih dulu bercerita dan ia takut Ratmi berhubungan dengan orang yang berniat buruk.
Namun, Ratmi tidak mau mendengarkan.
"Ibu sudah tua, bukan berarti Ibu enggak punya kehidupan sendiri. Kamu enggak berhak mengawasi Ibu seperti itu."
Nara menunduk meskipun Ratmi tidak bisa melihatnya.
"Iya, Bu. Nara salah. Maaf."
Tetapi amarah Ratmi belum reda. Percakapan itu berakhir dengan suara Ratmi yang meninggi dan telepon yang ditutup secara sepihak.
Nara mengira masalah tersebut selesai.
Ternyata keesokan harinya, luka lama kembali terbuka.
Saat Nara sedang berada di bakal calon warung keduanya, ia langsung terpaku pada kalimat pertama.
ANAK DURHAKA! TIDAK TAHU TERIMA KASIH!
Kalimat itu pernah membuatnya merasa kecil.
Dan kali ini, kalimat yang sama kembali datang dari orang yang sejak awal ingin ia pertahankan.
Nara membaca pesan berikutnya dengan dada yang semakin berat. Ratmi kembali menuduhnya tidak tahu berterima kasih, ikut campur dalam kehidupan ibunya, dan merasa paling benar.
Nara tidak membalas.
Ia hanya mematikan layar ponsel dan meletakkannya dalam keadaan tertelungkup di atas meja.
Namun, pesan itu sudah telanjur melakukan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar membuatnya marah.
Pesan itu membuka kembali luka yang selama ini Nara kira sudah mengering.
-------
Nara membuka ponselnya lagi.
Pesan dari Ratmi masih ada.
Nara membacanya sekali lagi, kali ini lebih perlahan. Ia mencoba memahami kemarahan ibunya dari sudut pandang orang lain. Ratmi memang punya alasan untuk marah. Nara telah menyadap ponselnya. Itu tindakan yang salah. Nara tidak bisa menyangkalnya.
Tetapi ada perbedaan antara menegur dan menghancurkan.
Ada perbedaan antara mengatakan, "Ibu kecewa," dengan melemparkan tuduhan yang membuat seseorang merasa tidak berguna.
Nara menghela napas.
Ia pernah berada di posisi itu berkali-kali.
Dulu, setiap kali orang tuanya marah, Nara selalu merasa harus menjadi pihak yang mengalah. Ia belajar meminta maaf bahkan ketika belum mengerti kesalahannya. Ia belajar menelan pertanyaan karena takut dianggap melawan. Ia belajar diam karena suara orang dewasa selalu lebih kuat.
Dan sekarang, setelah bertahun-tahun, satu pesan dari ibunya mampu membuat tubuhnya mengingat semuanya.
Nara memejamkan mata.
"Kenapa harus begini lagi?" bisiknya.
Tidak ada yang menjawab. Nara menyimpan ponselnya.
Hari ini ia tidak membalas satu pun pesan Ratmi.
-------
Malamnya, setelah warung tutup, Nara menceritakan semuanya kepada Wahyu.
Mereka duduk di ruang tengah. Anak-anak sudah tidur. Lampu rumah hanya menyisakan cahaya redup, sementara suara televisi dari rumah tetangga terdengar samar.
Wahyu membaca pesan Ratmi yang diperlihatkan Nara.
Lelaki itu tidak langsung berkomentar. Ia mengembalikan ponsel kepada istrinya, lalu duduk bersandar.
"Kamu salah karena menyadap."
Nara mengangguk. "Aku tahu."
"Tapi kamu enggak harus menerima semua perkataan itu."