Keping Hati

RiniKa
Chapter #16

Keping 15 (Tempat Berhenti Berharap)

Hubungan Nara dan Ratmi perlahan menemukan bentuk yang baru. Tidak sedekat dulu, tetapi juga tidak lagi dipenuhi ketegangan. Mereka berbicara seperlunya, menanyakan kesehatan, anak-anak, pekerjaan, atau hal-hal kecil yang tidak berisiko membuka pertengkaran. Nara tidak lagi berusaha mengetahui semua urusan ibunya, sementara Ratmi juga mulai lebih berhati-hati dalam menyampaikan sesuatu kepadanya.

Bagi Nara, hubungan seperti itu sudah cukup. Ia tidak membutuhkan kedekatan yang dipaksakan. Tidak perlu setiap hari menelepon hanya untuk memastikan bahwa mereka masih menjadi ibu dan anak. Ada kalanya kasih sayang justru terasa lebih aman ketika diberi jarak.

Suatu siang, ketika Nara sedang membersihkan beras di warung, saudara di kampung menelepon. Dari nada suaranya, Nara tahu ada sesuatu yang ingin disampaikan.

"Ra, jangan marah, ya."

Nara meletakkan tampah di atas meja. "Kenapa?"

"Ini soal ibu kamu."

Nara menarik napas pendek. Beberapa bulan terakhir, setiap kali mendengar kalimat itu, ia sudah tidak lagi langsung merasa takut.

"Ibuku kenapa?"

"Ibumu cerita katanya kaku melarangnya menikah lagi."

Tangan Nara berhenti di atas beras.

Untuk beberapa detik ia hanya menatap butiran putih di depannya. Ada rasa aneh yang muncul, tetapi bukan sakit seperti yang mungkin ia rasakan bertahun-tahun lalu. Lebih seperti kelelahan melihat cerita tentang dirinya kembali berubah di mulut orang lain.

"Terus?"

"Ya, itu. Banyak yang ngomongin."

Nara menghela napas. "Biarin."

"Kamu enggak marah?"

"Untuk apa?"

"Kan enggak benar."

Nara mengambil kembali beras yang tercecer dan memasukkannya ke tampah. "Kalau ibuku mau menikah, memangnya aku bisa melarang?"

"Ya, enggak."

"Berarti orang yang kenal aku juga tahu itu enggak masuk akal."

Orang itu tertawa kecil. "Tapi katanya ibu kamu sampai bilang kamu enggak mau kalau ibumu punya suami lagi."

Nara menggeleng. Ia sudah terlalu lama hidup dengan cerita yang tidak pernah benar-benar berada di tangannya. Dulu ia akan sibuk menjelaskan kepada semua orang. Ia akan berusaha membuktikan bahwa dirinya tidak seperti yang dikatakan. Ia akan mencari satu per satu orang yang mendengar kabar itu dan meluruskan semuanya.

Sekarang ia tidak lagi memiliki tenaga untuk itu.

"Ibuku mau nikah atau enggak, itu hidupnya. Kalau ada yang tanya, bilang saja Nara enggak pernah melarang."

"Iya."

"Sudah, jangan dipikirin."

Setelah telepon berakhir, Nara kembali bekerja. Tidak ada tangisan. Tidak ada kemarahan. Bahkan tidak ada keinginan untuk menelepon Ratmi dan meminta penjelasan.

Ia hanya merasa semakin paham bahwa tidak semua perkataan harus dijawab.

Jika Ratmi ingin mengatakan kepada orang-orang bahwa Nara melarangnya menikah, biarlah. Orang-orang di kampung boleh percaya atau tidak. Nara tahu apa yang pernah ia katakan dan apa yang tidak pernah ia katakan.

Ia tidak perlu membela dirinya di hadapan semua orang.

Hubungan dengan ibunya pun tetap berjalan.

Ratmi masih sesekali menelepon. Nara masih bertanya apakah ibunya sudah makan. Jika ada foto cucu yang lucu, ia kirimkan. Jika Ratmi sakit, Nara tetap menanyakan keadaan. Tetapi percakapan mereka kini memiliki batas yang jelas.

Tidak ada lagi pertanyaan tentang laki-laki yang dekat dengan Ratmi.

Tidak ada lagi nasihat panjang.

Tidak ada lagi usaha untuk mengatur hidup ibunya.

Nara mulai memahami bahwa menjadi anak tidak berarti harus menjadi penjaga kehidupan orang tua.

Ia boleh peduli tanpa ikut campur.

Ia boleh menyayangi tanpa harus menyelamatkan.

-------

Beberapa bulan berlalu.

Kehidupan Nara dan Wahyu berjalan seperti biasa. Warung yang mereka bangun dengan susah payah memang belum besar, tetapi cukup untuk membantu kebutuhan rumah. Setiap pagi Nara memasak, Wahyu mengurus bagian depan warung dan pekerjaannya yang lain. Anak-anak tumbuh dengan kesibukan masing-masing.

Mereka tidak kaya.

Namun, mereka sudah terbiasa dengan hidup yang sederhana.

Nara bahkan mulai menyimpan sedikit uang dari keuntungan warung. Tidak banyak. Kadang hanya beberapa puluh ribu dalam sehari, kadang tidak ada yang bisa disisihkan sama sekali. Tetapi ia senang melihat uang itu terkumpul sedikit demi sedikit.

"Kalau sudah banyak, mau dipakai buat apa?" tanya Wahyu suatu malam.

Nara tersenyum sambil menghitung uang di atas meja.

"Buat nambah barang dagangan."

"Kirain buat beli emas."

"Emas bisa nanti. Warung dulu."

Wahyu tertawa. "Kamu kalau soal warung memang enggak ada habisnya."

"Kalau warung besar, kita enggak perlu takut kalau ada kebutuhan mendadak."

Wahyu mengangguk. Ia tahu betul bagaimana Nara berpikir. Perempuan itu tidak pernah benar-benar menginginkan hidup mewah. Ia hanya ingin memiliki sesuatu yang bisa membuat keluarganya merasa aman.

Karena itu, ketika musibah datang, yang paling hancur bukan hanya warung mereka. Melainkan rasa aman yang baru saja mereka bangun.

Malam itu hujan turun cukup deras. Nara dan Wahyu sudah tidur ketika terdengar suara orang berteriak dari luar.

"Pak Wahyu! Nara! Warungnya kebakaran!"

Wahyu langsung bangun.

Nara yang masih setengah sadar ikut terjaga. "Apa?"

"Kebakaran!"

Mereka berdua berlari keluar.

Api sudah membesar dari bagian belakang warung. Asap hitam memenuhi udara. Beberapa orang berdatangan membawa ember, tetapi api bergerak terlalu cepat. Bagian kayu yang menjadi rangka warung membuat kobaran semakin mudah membesar.

Nara berdiri beberapa meter dari sana dengan tubuh gemetar.

"Barang-barang!" teriak Wahyu.

"Jangan masuk!" seseorang menahannya. "Sudah terlalu besar!"

Wahyu mencoba mendekat, tetapi dua orang tetangga menarik lengannya.

"Bahaya!"

Nara hanya bisa berdiri sambil melihat tempat yang selama ini mereka bangun sedikit demi sedikit dilalap api.

Rak tempat ia menyusun makanan, kompor, panci, beras, meja, kursi, semua hilang dalam waktu yang terasa terlalu singkat. Untung saja, rumah kontrakan masih selamat.

"Mas..." Suara Nara nyaris tidak terdengar.

Wahyu berdiri di sampingnya. "Sudah, Ra..."

Nara menggeleng. Air matanya jatuh. "Semua habis."

Wahyu tidak menjawab. Karena memang tidak ada yang bisa dikatakannya.

-------

Pagi datang bersama bau kayu terbakar. Warung mereka tinggal rangka hitam dan beberapa benda yang sudah tidak bisa digunakan.

Nara duduk di depan sisa bangunan itu. Tangannya memegang sebuah sendok yang ujungnya menghitam.

Ia membolak-balik benda itu tanpa tujuan.

Beberapa bulan terakhir ia mulai merasa hidupnya lebih tenang. Ia pikir mungkin setelah bertahun-tahun menghadapi masalah keluarga, akhirnya Tuhan memberinya kesempatan untuk hidup sederhana tanpa terlalu banyak kejutan.

Ternyata ia salah.

Kehidupan tidak pernah menjanjikan ketenangan yang panjang.

Wahyu duduk di sebelahnya. "Kita bangun lagi."

Nara menatapnya.

"Dari mana uangnya?"

Wahyu diam.

Lihat selengkapnya