Keping Hati

RiniKa
Chapter #17

Keping 16 (Hampir Runtuh)

Andi pertama kali datang ke warung Nara menjelang sore, ketika matahari mulai turun dan pelanggan yang makan siang sudah berganti dengan orang-orang yang sekadar membeli minuman sebelum pulang. Ia datang sendirian, memesan nasi dengan telur dadar dan segelas kopi, lalu memilih duduk di meja paling dekat dengan jendela.

Nara yang sedang mencatat pesanan sempat memperhatikannya. Wajah laki-laki itu tidak asing, tetapi Nara yakin belum pernah melihatnya sebelumnya. Ia makan dengan tenang, sesekali melihat ponsel, lalu mengamati keadaan warung seolah sedang mencari sesuatu.

“Tambah nasi, Mbak,” katanya ketika Nara lewat.

“Masih kurang?”

Andi tertawa. “Dari tadi belum makan.”

Nara mengambil piringnya. “Kalau begitu jangan malu tambah. Nasi masih banyak.”

Percakapan itu berhenti di sana. Tidak ada yang istimewa sampai Wahyu datang beberapa menit kemudian. Ia baru selesai memperbaiki ban motor pelanggan dan langsung masuk ke warung untuk minum. Setelah kejadian kebakaran, dan memulai jualan kembali, Wahyu memang mencoba peruntungan membuka tambal ban. Mungkin nanti, sedikit demi sedikit bisa mengumpulkan uang kembali untuk membuka bengkel, sesuai keahliannya.

“Buatkan kopi,” katanya kepada Nara.

“Gula sedikit?”

“Iya.”

Wahyu kemudian duduk di meja yang sama dengan Andi karena meja lain sedang digunakan pelanggan.

Andi menggeser gelasnya sedikit. “Silakan, Mas.”

“Terima kasih.”

Beberapa menit mereka hanya diam. Setelah itu Andi mulai membuka percakapan.

“Mas kerja di sekitar sini?”

Wahyu mengangguk. “Punya tambal ban tidak jauh dari sini.”

“Oh, yang dekat pertigaan?”

“Iya.”

“Saya pernah lewat sana.”

Wahyu menatapnya. “Rumah Mas di sini?”

“Tidak jauh. Baru beberapa bulan pindah.”

Percakapan kecil itu berkembang tanpa mereka sadari. Mereka membicarakan harga ban yang naik, sulitnya mendapatkan pelanggan tetap, sampai keadaan orang-orang yang mencari penghasilan di tempat baru. Andi ternyata cukup pandai membuat orang merasa nyaman. Ia tidak banyak menyela ketika Wahyu bercerita dan selalu punya jawaban yang membuat percakapan terus berjalan.

Nara beberapa kali melirik dari balik meja. Ia melihat Wahyu tertawa lebih banyak sore itu dibanding biasanya.

Ketika Andi hendak membayar, ia justru bertanya, “Mas Wahyu sering di sini?”

“Setiap hari. Ini warung istri saya.”

Andi menoleh kepada Nara. “Oh, Mbak Nara?”

Nara sedikit terkejut. “Tahu nama saya?”

“Di sini orang-orang sering menyebut warung ini warung Mbak Nara.”

Nara tertawa kecil. “Oh.”

Andi mengambil uang dari dompetnya. “Berarti saya tahu tempat makan baru.”

“Silakan datang lagi,” kata Nara.

Andi tersenyum. “Pasti. Ia kemudian pergi.

Wahyu memandang punggungnya sampai menghilang di ujung jalan. “Orangnya enak diajak ngobrol,” katanya.

Nara kembali membereskan meja. “Baru kenal sudah menilai orang.”

“Tidak ada salahnya punya teman.”

“Aku tidak bilang salah.”

Wahyu hanya tersenyum.

-------

Keesokan harinya, Andi benar-benar datang lagi. Kali ini ia datang lebih siang dan langsung menyapa Wahyu seperti sudah lama mengenalnya. Ia memesan makanan yang sama, duduk di tempat yang sama, lalu mulai bercerita tentang pekerjaannya.

Dari hari ke hari, kehadiran Andi menjadi sesuatu yang biasa. Ia tidak hanya datang untuk makan. Kadang ia membantu mengangkat karung beras ketika melihat Nara kesulitan. Kadang ia ikut membereskan kursi setelah warung tutup. Kalau Wahyu sedang sibuk menambal ban, Andi bisa duduk berjam-jam menunggu sambil membicarakan banyak hal.

Wahyu menyukainya.

“Orang seperti dia susah dicari,” kata Wahyu suatu malam.

Nara sedang menghitung uang. “Memangnya sudah jadi sahabat?”

“Sudah seperti saudara.”

Nara mengangkat wajah. “Cepat sekali.”

“Dia baik.”

“Semoga.”

Wahyu mengernyit. “Kenapa kamu jawabnya begitu?”

“Begitu bagaimana?”

“Seperti tidak percaya.”

Nara tersenyum. “Aku cuma bilang semoga.” Ia tidak ingin memperdebatkan hal itu. Baginya, memiliki teman bukan sesuatu yang perlu dilarang. Justru ia senang jika Wahyu memiliki seseorang yang bisa diajak berbicara. Selama bertahun-tahun, suaminya terlalu sering menyimpan masalah sendiri.

Hubungan Wahyu dan Andi semakin dekat setelah suatu malam mereka berbicara cukup lama mengenai usaha. Andi tahu warung Nara mulai ramai. Ia juga tahu Wahyu juga mengandalkan tambal ban untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

“Mas sebenarnya punya peluang besar,” kata Andi.

“Peluang apa?”

“Usaha.”

Wahyu tertawa. “Usaha saya saja belum besar.”

“Justru itu. Kalau dibiarkan begitu saja, ya segitu-segitu saja.”

Wahyu diam.

Andi melanjutkan, “Saya punya kenalan yang bisa kasih barang dengan harga murah. Kalau Mas punya sedikit modal, barangnya bisa dijual lagi. Keuntungannya lumayan.”

Wahyu mulai tertarik. “Barang apa?”

“Perlengkapan motor. Ada ban, oli, beberapa suku cadang.”

“Modalnya besar?”

“Tidak sebesar yang Mas pikir.”

Percakapan itu berlangsung cukup lama. Andi tidak memaksa. Ia hanya menjelaskan kemungkinan-kemungkinan yang menurutnya bisa membuat usaha Wahyu berkembang.

Ketika Wahyu pulang, Nara langsung mengetahui ada sesuatu yang sedang dipikirkannya.

“Kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

“Wajahmu kalau sedang memikirkan sesuatu kelihatan.”

Wahyu duduk di sampingnya. “Andi punya kenalan pemasok barang.”

Nara diam mendengarkan.

“Katanya kalau aku ikut ambil barang, bisa dijual lagi dengan untung.”

“Pakai modal siapa?”

“Modal kita.”

Nara langsung menggeleng. “Jangan.”

“Belum tentu buruk.”

“Kita baru mulai punya tabungan lagi.”

Lihat selengkapnya