Pagi itu warung Nara sudah ramai sebelum matahari naik sepenuhnya. Suara sendok beradu dengan piring terdengar bersahutan dengan suara motor yang berhenti di depan warung. Nara berdiri di balik meja, mencatat pesanan sambil sesekali memperhatikan panci nasi yang hampir kosong.
Dulu, keadaan seperti ini membuatnya mudah panik. Ia takut dagangan tidak habis, takut uang tidak cukup, takut ada kebutuhan mendadak yang tidak bisa mereka bayar. Sekarang rasa takut itu masih ada, tetapi Nara tidak lagi membiarkannya menguasai seluruh pikirannya.
Ia sudah belajar bahwa hidup tidak selalu harus diselesaikan dalam satu hari.
"Bu, nasi dua bungkus!"
"Iya, sebentar."
Nara memasukkan nasi ke dalam kertas bungkus, menambahkan lauk, lalu menyerahkannya kepada pelanggan. Setelah menerima uang, ia memasukkannya ke dalam kotak kecil di bawah meja.
Wahyu muncul dari belakang warung sambil membawa dua karung beras yang baru saja dibelinya. Wajahnya berkeringat, tetapi langkahnya tidak lagi terburu-buru seperti bertahun-tahun lalu.
"Taruh di belakang?" tanyanya.
"Iya. Yang satu jangan dibuka dulu."
Wahyu mengangguk. "Stok minyak juga sudah aku cek. Masih cukup sampai besok."
Nara menatap suaminya sebentar. Percakapan mereka sederhana, bahkan mungkin terdengar biasa bagi orang lain. Namun bagi Nara, hal-hal sederhana itulah yang dulu sangat ia inginkan dari sebuah keluarga. Ada orang yang mau memberitahunya sebelum mengambil keputusan. Ada orang yang mau mendengar. Ada orang yang tidak menjadikannya tempat untuk melampiaskan marah.
"Kenapa lihat-lihat?" tanya Wahyu.
Nara tersenyum. "Enggak apa-apa."
"Jangan senyum begitu. Biasanya kalau begitu kamu mau minta sesuatu."
Nara tertawa kecil. "Aku cuma senang lihat kamu sekarang."
Wahyu meletakkan karung beras, lalu mengusap keringat di dahinya. "Sekarang kenapa?"
"Lebih tenang."
Wahyu terdiam sesaat. "Dulu aku sering marah karena merasa semuanya harus cepat selesai," katanya. "Sekarang aku baru tahu, yang penting bukan cepat. Yang penting kita jangan sampai saling meninggalkan waktu keadaan sedang susah."
Nara menunduk. Kalimat itu sederhana, tetapi terasa dalam. Mereka memang tidak tiba-tiba menjadi keluarga yang sempurna. Tidak ada perubahan besar yang membuat hidup mereka mendadak mudah. Uang tetap harus dicari. Tagihan tetap datang. Anak-anak tetap membutuhkan biaya sekolah, makanan, pakaian, dan perhatian. Tetapi mereka sudah berubah. Nara tidak lagi memendam semua masalah sampai akhirnya meledak. Wahyu juga tidak lagi menganggap diam sebagai cara menyelesaikan persoalan. Jika ada masalah, mereka membicarakannya. Kadang dengan suara tinggi, kadang dengan wajah masam, tetapi selalu berusaha kembali duduk setelah emosi mereka mereda.
Malam harinya, setelah warung tutup, mereka duduk di teras rumah. Anak-anak sudah tidur. Jalanan di depan rumah mulai sepi. Lampu warung masih menyala, menerangi meja-meja kosong yang beberapa jam sebelumnya penuh oleh pelanggan. Nara menghitung uang hasil dagangan. Wahyu duduk di sebelahnya sambil memperbaiki sandal anak mereka yang putus.
"Berapa?" tanyanya.
Nara menyebut jumlahnya.
Wahyu mengangguk. "Lumayan."
"Besok harus beli gas."
"Bisa."
"Uang sekolah juga."
"Bisa."
Nara menatapnya. "Kamu selalu bilang bisa."
Wahyu tersenyum tipis. "Kalau memang belum bisa, kita cari jalan supaya bisa."
Nara terdiam. Dulu, kalimat seperti itu mungkin tidak akan cukup untuk menenangkan hatinya. Ia membutuhkan kepastian. Ia ingin tahu bahwa besok akan aman, lusa akan aman, dan seterusnya. Sekarang ia mengerti bahwa tidak ada rumah tangga yang benar-benar memiliki kepastian seperti itu. Yang ada hanyalah dua orang yang bersedia menghadapi ketidakpastian bersama-sama.
"Aku dulu kira menikah itu berarti akhirnya punya rumah," kata Nara pelan.
Wahyu berhenti memperbaiki sandal. "Terus sekarang?"
Nara memandang rumah kecil mereka. Tidak besar. Cat dindingnya mulai kusam. Ada beberapa bagian atap yang pernah bocor dan bekas tambalan di sudut teras. "Rumah ternyata bukan bangunan."
Wahyu tersenyum.