Aku pernah membenci takdirku.
Pernah marah kepada hidup yang terasa begitu tidak adil kepadaku. Pernah mempertanyakan mengapa Tuhan memilihkanku untuk lahir di antara dua orang yang saling melukai. Bahkan, pernah ada masa ketika aku bertanya, apakah aku memang layak untuk dicintai?
Aku pernah menjadi anak kecil yang berdiri di antara dua pintu yang terbuka setengah. Tidak tahu harus pulang ke mana. Tidak tahu kepada siapa aku boleh bercerita tanpa dianggap menyakiti yang lainnya.
Aku pernah menjadi anak yang terlalu cepat tumbuh dewasa.
Belajar untuk mengalah bahkan sebelum aku memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi. Belajar untuk menjaga hati orang-orang dewasa, ketika tidak ada seorang pun yang menjaga hatiku.
Aku pernah menjadi anak yang merasa dirinya adalah sebuah kesalahan.
Dan yang paling menyedihkan, aku mempercayainya selama bertahun-tahun.
Aku tumbuh menjadi seseorang yang selalu takut merepotkan orang lain. Takut ditinggalkan. Takut tidak dipilih. Sampai akhirnya, aku mencari rumah ke mana-mana.
Aku mencarinya pada seorang ayah.
Aku mencarinya pada seorang ibu.
Aku mencarinya pada sebuah pernikahan.
Aku mencarinya pada penerimaan orang lain.
Aku terus berlari tanpa sadar bahwa rumah yang selama ini kucari tidak pernah berada di sana.
Ada satu hal yang baru kusadari setelah tiga puluh lima tahun hidupku berlalu.
Ternyata, kehilangan bukanlah akhir dari segalanya.
Karena setiap kali satu pintu tertutup, Tuhan selalu diam-diam membukakan pintu yang lain untukku.
Ketika aku kehilangan kehangatan kedua orang tuaku, Tuhan mengirimkan dua orang bibi yang membesarkanku dengan caranya masing-masing. Ketika aku kehilangan harapan kepada manusia, Tuhan mengirimkan seorang suami yang memilih untuk tinggal meskipun kami sama-sama tidak sempurna. Ketika aku hampir menyerah kepada hidupku sendiri, Tuhan mengirimkan pelukan-Nya melalui hal-hal yang tidak pernah kusangka.
Aku pikir, aku adalah seseorang yang selalu ditinggalkan.
Ternyata aku salah.
Sejak awal, Tuhan tidak pernah sekalipun meninggalkanku.