Satu hal yang paling Rindhu benci dari hukum adalah fakta bahwa kebenaran tidak selalu berwujud keadilan. Terkadang, kebenaran hanyalah debu yang tertiup angin, hilang begitu saja sebelum sempat dibuktikan.
Di hadapan gundukan tanah yang masih basah karena hujan, Rindhu menatapnya dengan mata sembab.
"Jika aku terbukti tidak bersalah, makam ini akan tumbuh bunga-bunga yang banyak," bisiknya di tengah isak yang tertahan. Saat itu, Rindhu menyadari bahwa takdir adalah penulis naskah paling kejam yang pernah ada.
Empat tahun lalu, di kota yang sama, sebuah perjalanan berliku baru saja dimulai. Matahari sudah hampir muncul, menandakan hari pertama Rindhu menjadi mahasiswa baru jurusan Hukum yang siap menapaki dunia kampus dengan segala idealisme di kepalanya.
Niken sudah memperingatkan Rindhu untuk tidak perlu membantunya membuka warung hari ini. Tentu karena tidak ingin keponakannya itu terlambat di hari pertamanya ospek.
"Gak masalah Tante, masih ada waktu lima belas menit lagi sebelum pukul tujuh, Rindhu akan ambil peralatan warung yang ketinggalan," ucap Rindhu lalu detik berikutnya ia menarik gas motornya untuk kembali ke kontrakan.
Jalanan menuju arah kontrakan sekaligus area luar kampus pagi itu sudah mulai padat. Pikiran Rindhu bercabang antara masih tidak menyangka bahwa ia diterima di jurusan dan kampus impiannya, dan rasa bersalah juga karena harus membebani Niken untuk kembali ke kota ini. Karena terburu-buru, Rindhu tidak menyadari bahwa ikatan tali rafia di keranjang motornya perlahan melonggar akibat guncangan aspal yang berlobang.
Sret... Brak!
Tepat di jalur utama menjelang belokan ke warung, ikatan itu lepas total. Kotak-kotak wadah plastik, peralatan warung, tumpah ruah, berserakan di atas aspal.
"Ya Allah..." Rindhu memekik panik. Ia segera menepikan motornya dan langsung berjongkok di tengah jalan, mencoba meraup barang-barangnya secepat mungkin sebelum tergilas kendaraan lain.