Kereta Terakhir

Novita Ledo
Chapter #1

Salah Gerbong


Rina terlambat pulang, ia kini berlari menerobos hujan menuju stasiun. Udara dingin menusuk kulitnya, dan perasaan aneh menggelayuti da-danya. Ia harus naik kereta terakhir agar bisa pulang.

Saat tiba di peron, suasana terasa ganjil. Lampu berkedip-kedip, dan hanya ada beberapa orang yang menunggu, ada seorang pria tua dengan topi lusuh, seorang ibu muda yang tertidur dengan bayinya, dan seorang pria dengan wajah pucat yang berdiri di sudut, menatap kosong ke rel.

Kereta datang dengan suara gemuruh yang menggetarkan peron. Pintu terbuka dengan bunyi derit panjang yang menusuk telinga. Rina masuk dan memilih duduk dekat jendela.

Gerbong itu hampir kosong. Hanya ada pria pucat tadi yang duduk di sudut, menunduk tanpa bergerak.

Saat kereta mulai melaju, udara dalam gerbong mendadak menjadi dingin. Rina mengusap lengannya, mencoba mengabaikan perasaan tidak nyaman yang semakin kuat. Dari sudut matanya, ia merasa ada sesuatu yang bergerak di belakangnya.

Jantungnya berdegup kencang. Dengan napas tertahan, ia melihat ke jendela, menggunakan pantulannya untuk mengintip.

Ada seseorang di belakangnya.

Sosok wanita berambut panjang, wajahnya rusak dan membusuk, matanya hitam pekat dengan darah mengalir dari rongga hidungnya. Mulutnya sobek lebar, membentuk senyum mengerikan.

Rina menjerit dan menoleh. Tidak ada siapa-siapa. Tapi suara napas berat kini terdengar di telinganya.

Ia berbalik perlahan.

Wanita itu ada di sana, berjongkok di sampingnya, wajahnya hanya beberapa inci dari wajah Rina. Dari mulutnya yang sobek, keluar bisikan serak, "Turunlah... sebelum terlambat."

Kereta mendadak berguncang keras. Lampu berkedip-kedip sebelum padam sepenuhnya. Dalam kegelapan, terdengar suara langkah kaki mendekat. Banyak langkah.

Saat lampu kembali menyala, Rina melihatnya.

Gerbong kini penuh.

Namun, bukan manusia yang duduk di kursi-kursi itu.


Mereka adalah sosok-sosok tanpa wajah, tubuh mereka kurus kering, mata mereka hitam pekat. Mereka semua menoleh ke arahnya secara bersamaan, kepala mereka berputar dengan gerakan ka-sar, tulang-tulang mereka berderak.


Pria pucat tadi kini duduk tepat di hadapannya.


"Kamu seharusnya tidak naik kereta ini," bisiknya.


Pintu gerbong mendadak terbuka, mengarah ke lorong gelap yang tampak seperti terowongan tanpa akhir. Dari sana, tangan-tangan panjang dan kurus mulai merangkak masuk, mencakar lantai, menarik-narik udara, mencari sesuatu.


Kereta mulai melambat.


Papan nama stasiun di luar tampak buram, seakan tidak sepenuhnya nyata. Tapi Rina bisa membaca satu kata.


"Ner-aka."


Dan sosok-sosok itu mulai bergerak ke arahnya.


Rina terperanjat, napasnya tersengal. Tubuhnya membeku di kursi, matanya menatap ngeri ke arah sosok-sosok tanpa wajah yang kini bergerak mendekat.


Lihat selengkapnya