Keringat, Lelah, dan Tekad Membara

Amrullah Ibrahim
Chapter #1

Beban yang Kian Menumpuk

Matahari baru saja menampakkan sedikitbias kemerahannya di balik deretan atap seng Pasar Senen ketika peluit panjang Mandor Anwar melengking nyaring, memecah kesibukan pagi yang padat. Arkan berdiri di samping tumpukan karung beras berukuran lima puluh kilogram, mengatur napasnya yang mulai memburu meskipun hari baru saja dimulai. Udara pagi Jakarta terasa pekat oleh debu jalanan dan bau uap knalpot truk yang berbaris rapi di area bongkar muat.

"Heh, Arkan! Jangan melamun! Truk dari Karawang sudah masuk tiga unit lagi. Kalau kerjamu lambat hari ini, jatah bonus mingguanmu dipotong setengah!" teriak Mandor Anwar garang dari balik meja pencatatan kayu yang penuh coretan nota kotor.

"Baik, Mandor!" sahut Arkan singkat, suaranya terdengar datar namun menyiratkan ketegasan yang tak mudah goyah.

Ia segera membungkukkan badan, menempatkan pundaknya tepat di bawah karung beras yang beratnya seolah menekan seluruh tulang belakangnya ke permukaan tanah. Sejak penemuan foto di koran akhir pekan lalu—di mana Samaira tampak tertekan dalam balutan gaun malam mewah di Menteng—beban pikiran Arkan bertambah berkali-kali lipat. Setiap karung yang ia angkut bukan lagi sekadar beban fisik untuk mencari uang sewa petakan, melainkan hitungan mundur menuju hari pertunangan Samaira yang tinggal menghitung hari.

Bang Jono, yang berdiri tidak jauh darinya sambil membawa dus mi instan, melirik sekilas ke arah Arkan dengan pandangan penuh kekhawatiran. "Kau kelihatan pucat pagi ini, Kan. Kurang tidur lagi karena memikirkan koran itu?" tanyanya bernada rendah agar tidak terdengar oleh sang mandor.

Arkan menegakkan tubuhnya sejenak, menyeka keringat yang bercucuran deras di keningnya dengan lengan kaos oblong putih yang sudah basah kuyup. "Aku baik-baik saja, Bang. Tidak ada waktu untuk tidur nyenyak kalau jalannya masih sejauh ini," jawab Arkan dingin, matanya menatap tajam ke arah jalan raya utama di luar gerbang pasar.

"Jangan dipaksakan kalau fisikmu sudah mau ambruk, kawan," timpal Bang Jono memperingatkan sambil menggelengkan kepala. "Pekerjaan kita ini mengandalkan otot, bukan sekadar emosi. Kalau kau pingsan di tengah jalan, siapa yang mau menyelamatkan gadis Palembang itu?"

Kata-kata Bang Jono menohok tepat di ulu hati Arkan. Pemuda itu menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam gemuruh amarah dan rasa frustrasi yang bergolak hebat di dalam dadanya. Ia tahu Bang Jono benar. Tubuhnya yang belum sepenuhnya pulih dari pengeroyokan di terminal bus beberapa waktu lalu kini harus menerima siksaan kerja harian yang jauh lebih berat dari biasanya.

Tanpa membuang waktu menjawab, Arkan kembali melangkahkan kakinya menyusuri tangga beton yang licin menuju lantai dua gudang penyimpanan. Beban karung beras di pundaknya terasa semakin menekan, membuat kedua lututnya bergetar hebat di setiap anak tangga yang ia lewati. Namun, alih-alih menyerah pada rasa sakit yang menjalar hingga ke pinggangnya, Arkan justru semakin mempererat genggaman tangannya pada sudut karung. Bayangan wajah Samaira yang memandangnya dengan air mata di malam terminal bus kembali berkelebat di dalam kepalanya, menyalakan kembali api semangat yang tak pernah padam di tengah dinginnya beton ibu kota.

❖ ❖ ❖

Menjelang pukul sebelas siang, aktivitas di Blok C Pasar Senen mencapai puncaknya. Kebisingan suara tawar-menawar antara pembeli grosir, teriakan para kuli panggul yang membawa barang, serta deru mesin kendaraan berpadu menjadi satu di bawah naungan terpal-terpal biru yang membentang di atas lorong pasar. Suhu udara di dalam ruangan sempit itu terasa kian membakar, membuat peluh mengalir tiada henti dari seluruh tubuh Arkan.

Mandor Anwar kembali mendekati area tempat Arkan sedang beristirahat sejenak sambil meneguk air putih dari botol plastik usang. Pria paruh baya bertato itu melipat kedua tangannya di dada sambil menatap Arkan dengan pandangan menyelidik.

"Arkan, ada tambahan tugas untukmu sore nanti," kata Mandor Anwar tanpa basa-basi. "Ada kiriman tekstil impor tiga kontainer dari pelabuhan yang harus dipindahkan ke gudang utama di kawasan Tanah Abang. Jam kerjamu diperpanjang sampai malam."

Arkan menatap sang mandor dengan kening berkerut. "Lembur lagi, Pak? Tapi bukankah jadwal bongkar muat hari ini sudah selesai sesuai kontrak?"

"Kontrak apa? Di sini aturannya kumainkan sesuai kebutuhan barang!" sergah Mandor Anwar dengan nada tinggi, matanya melotot tajam. "Kalau kau tidak mau, silakan ambil tasmu dan cari pekerjaan lain di luar sana. Masih banyak buruh di luar yang antre mencari uang, anak muda!"

Tekanan itu datang bertubi-tubi. Arkan mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Ia sangat membutuhkan uang tambahan tersebut untuk modal persiapannya mendatangi gedung serbaguna di Menteng akhir pekan nanti, namun tubuhnya sudah memberikan sinyal kelelahan yang luar biasa.

"Baiklah, Mandor. Saya akan ambil lembur itu," ucap Arkan akhirnya dengan suara tertahan, menelan mentah-mentah rasa harga dirinya demi sebuah tujuan yang jauh lebih besar.

Bang Jono yang duduk di sebelah Arkan langsung menyenggol bahu pemuda itu pelan. "Kau gila, Kan? Lembur sampai malam setelah kerja berat dari subuh? Tubuhmu bisa remuk sebelum sempat melangkah ke Menteng!" protes Bang Jono dengan nada cemas.

Lihat selengkapnya