Keringat, Lelah, dan Tekad Membara

Amrullah Ibrahim
Chapter #2

Malam Panjang Tanpa Teman

Matahari tenggelam di balik cakrawala Jakarta dengan meninggalkan sisa-sisa mega jingga yang kotor oleh asap jelaga knalpot dan polusi industri. Di sebuah gang sempit kawasan Tanah Abang, suara deru kendaraan bermotor berpadu dengan suara teriakan pedagang kaki lima yang menjajakan makanan malam. Di dalam sebuah kamar kos berukuran dua kali tiga meter yang pengap, Arkan duduk bersila di atas kasur busa tipis yang diletakkan langsung di lantai semen kasar.

Dinding kamar kosnya yang terbuat dari papan triplek tipis dicat warna putih kusam, dipenuhi oleh noda kelembapan dan coretan kecil nomor telepon darurat yang ditulis oleh penghuni sebelumnya. Di sudut ruangan, sebuah meja kayu lipat kecil menopang lampu belajar berkerangka plastik merah yang memancarkan cahaya kekuningan lemah. Tidak ada barang mewah di dalam ruangan itu, hanya sebuah ransel kusam, dua pasang pakaian gantung di balik pintu, dan sebuah termos air panas kecil yang sudah berkerak bagian dasarnya.

Arkan menarik napas panjang, mencoba meresapi sunyi yang tiba-tiba merayap masuk begitu pintu kamarnya ditutup rapat dari dalam. Kesunyian itu bukan jenis ketenangan desa yang diiringi jangkrik dan angin malam bergesek dengan daun padi, melainkan kesunyian kota besar yang pekat, hampa, dan menekan dada.

"Sudah tiga minggu," gumam Arkan pelan pada dirinya sendiri, suaranya terdengar serak dan menggema di ruang sempit tersebut.

Selama tiga minggu ini, hari-hari Arkan diisi dengan rutinitas yang monoton dan melelahkan. Pukul enam pagi ia sudah harus keluar dari gang kos untuk mengejar bus kota yang berdesakan menuju gudang logistik tempatnya bekerja sebagai staf administrasi. Di sana, ia bergelut dengan tumpukan berkas digital, angka-angka inventaris yang rumit, serta teguran-teguran kecil dari kepala bagian jika ada kesalahan ketik. Baru pada pukul delapan malam ia bisa melangkah kembali ke kamar kosnya dengan kaki yang terasa remuk dan kepala pening.

Namun, bagian paling menyiksa dari kehidupan barunya bukanlah lelahnya fisik di tempat kerja, melainkan jam-jam setelah ia merebahkan diri di kamar. Ketika malam semakin larut dan kebisingan di luar gang perlahan mereda, kesepian akut mulai menyerang batinnya tanpa ampun.

Arkan meraih ponsel murah di samping bantalnya. Layar ponsel itu gelap, tidak ada satupun pesan WhatsApp baru, tidak ada pemberitahuan panggilan tak terjawab. Ia membuka daftar kontak, menggulir layar ke bawah melihat nama-nama teman kuliahnya yang kini tersebar di berbagai kota, atau nomor rumah tetangga di desanya. Namun, ia tidak punya keberanian untuk menekan tombol panggil.

"Mau ngomong apa kalau ditelepon?" tanyanya dalam hati, merasa gengsi sekaligus takut jika suaranya yang parau justru membuat orang tuanya di kampung cemas.

Ia meletakkan kembali ponsel itu dengan gerakan lambat. Ruangan kos terasa semakin menyempit, dinding-dinding triplek seolah bergeser mendekat, menghimpit dadanya hingga ia merasa kesulitan mengambil napas dengan lega. Di desa, meskipun hidup dalam kesederhanaan dan keterbatasan ekonomi, ia selalu memiliki tempat untuk berbagi cerita. Ada Pak Joko, ayahnya, yang sering menemaninya duduk di balai-balai bambu depan rumah sambil menyeruput kopi pahit buatan ibu, membicarakan musim panen atau sekadar menikmati angin malam.

Di Jakarta, ia adalah sebutir debu di tengah badai megapolitan. Tidak ada seorang pun yang peduli siapa namanya, dari mana ia berasal, atau apakah ia sudah makan hari ini.

Arkan bangkit dari kasurnya, berjalan mendekati jendela kecil berjeruji besi yang menghadap langsung ke tembok bangunan sebelah. Ia mendorong jendela itu sedikit, membiarkan angin malam yang beraroma debu dan sampah basah masuk menyentuh wajahnya. Di seberang tembok, ia bisa melihat bias cahaya lampu neon dari jendela kamar tetangga sebelah. Namun, jendela itu tertutup rapat, berlapis tirai kain kusam yang tidak pernah bergerak. Tidak ada suara tawa, tidak ada percakapan hangat, hanya dengung mesin exhaust fan restoran di lantai bawah yang berputar konstan, menambah kepekatan malam yang sunyi tanpa teman bicara.

❖ ❖ ❖

Keesokan harinya, suasana di ruang istirahat gudang logistik tidak jauh berbeda dari biasanya. Para buruh muat duduk berkelompok di atas bangku panjang sambil menikmati makan siang bungkus kertas cokelat, tertawa lepas membicarakan lelucon-lelucon jalanan kota. Arkan duduk di sudut meja paling ujung, membuka bekal nasi bungkus sederhana yang dibelinya seharga sepuluh ribu rupiah di warteg dekat pangkalan ojek.

Dani, senior administrasi yang mejanya berdampingan dengan Arkan, melirik sekilas ke arah bekal makanan Arkan sebelum meletakkan botol air mineralnya di atas meja.

"Kamu dari kemarin sore kelihatannya pendiam sekali, Kan," tegur Dani dengan nada santai, membuka bungkus rokok miliknya. "Lagi mikirin apa? Jangan bilang kamu homesick gara-gara baru sebulan di Jakarta?"

Arkan tersenyum tipis, menggelengkan kepala pelan sambil menyuap nasinya yang terasa hambar di lidah. "Bukan homesick biasa, Dan. Rasanya aneh saja. Setiap malam pulang ke kos, rasanya seperti masuk ke dalam kuburan berjalan. Sepi banget. Tidak ada suara orang ngobrol, tidak ada teman buat tukar pikiran."

Dani tertawa kecil mendengar pengakuan itu, lalu menyalakan korek api untuk membakar rokoknya. "Oh, fase itu. Selamat datang di klub anak rantau Jakarta, kawan. Semua orang yang baru pertama kali merantau pasti ngalamin fase 'dinding kamar kos mau menelan' itu."

"Kamu dulu juga merasakannya, Dan?" tanya Arkan menatap seniornya dengan rasa penasaran.

"Waktu pertama kali datang dari Solo tiga tahun lalu, saya bahkan sempat nangis di kamar mandi kos karena seminggu penuh tidak ada satu orang pun yang nyapa saya di tempat kerja," aku Dani jujur, tatapannya menerawang ke arah langit-langit ruangan yang berdebu. "Di kota ini, kesepian itu bukan sekadar perasaan, tapi bagian dari paket wajib yang harus kamu bayar kalau mau cari uang."

"Tapi bagaimana cara melawannya?" suara Arkan terdengar putus asa. "Kalau setiap malam suasananya kayak gitu terus, lama-lama kepala saya bisa stres sendiri."

"Makanya jangan cuma ngurung diri di kamar kos habis jam kerja," jawab Dani menepuk bahu Arkan pelan. "Cari kesibukan di luar. Nongkrong di warung kopi dekat stasiun, ngobrol sama penjaga warteg, atau minimal beli radio kecil buat nemenin tidur biar kamarmu tidak sunyi-sunyi amat."

Arkan terdiam mendengarkan saran seniornya. Nasihat itu terdengar sederhana, namun bagi seorang pemuda yang terbiasa hidup dalam komunitas desa yang erat, mencairkan kebekuan sosial di kota besar bukanlah hal yang mudah dilakukan dalam waktu singkat.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya