Keringat, Lelah, dan Tekad Membara

Amrullah Ibrahim
Chapter #3

Kebun Belakang Rumah

Cahaya matahari pagi merambat perlahan menembus rimbunnya dedaunan mangga di pekarangan belakang, menyapu permukaan tanah basah yang masih menyimpan embun malam. Udara desa terasa begitu segar, dipenuhi aroma tanah basah bercampur wangi khas bunga melati yang merambat di pagar bambu. Di sudut kebun yang asri itu, Samaira berjongkok dengan balutan kaos katun sederhana dan celana training longgar. Rambut hitam panjangnya diikat asal-asal ke belakang, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya yang tersiram keringat tipis.

Di hadapannya, terbentang petak-petak tanah gembur yang siap ditanami. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah sekop kecil bergagang kayu, mengaduk-ngaduk pupuk kompos hitam pekat yang baru saja dibeli dari tetangga sebelah.

"Jangan terlalu dalam mencangkulnya, Samaira. Nanti akar mudanya malah stres kepanasan," suara lembut Ibu Arkan terdengar dari arah teras belakang. Wanita paruh baya berambut separuh sebahu itu berjalan mendekat sambil membawa sebuah ceret air tanah liat dan dua buah topi jerami.

Samaira mendongak, tersenyum hangat kepada wanita yang telah merawat Arkan dengan penuh kasih sayang itu. Ia menghentikan gerakannya sejenak, lalu menyeka pelipisnya dengan punggung tangan yang sudah belepotan tanah. "Aku takut tanahnya kurang gembur, Bu. Kemarin waktu kucoba cangkul, rasanya keras sekali seperti batu bata."

Ibu Arkan terkekeh kecil, lalu berjongkok di samping Samaira tanpa canggung, membiarkan ujung kain daster batiknya menyentuh tanah basah. "Tanah di sini memang liat kalau musim kemarau, Nak. Tapi kalau disiram dengan pupuk kandang yang pas dan diaduk telaten, dia akan gembur sendiri. Sama seperti manusia; butuh proses dan sentuhan sabar untuk melunakkan kekerasannya."

Samaira menatap lekat mertuanya itu, meresapi makna tersirat di balik kalimat bijak tersebut. Selama tiga hari kepindahannya ke rumah ini—meninggalkan hiruk-pikuk kota metropolitan demi menemani Arkan yang sedang merintis kembali usaha keluarganya—Samaira sempat merasa gamang. Ia terbiasa dengan ritme hidup serba cepat, layar monitor laptop yang berpendar, dan dering telepon kantor yang tak kenal waktu. Kebun belakang ini, dengan segala ketenangannya, adalah dunia yang sama sekali asing.

"Ibu benar," ucap Samaira pelan, kembali melanjutkan aktivitasnya mengaduk tanah dengan gerakan yang lebih berhati-hati. "Aku masih sering kaget dengan kesunyian di sini. Terlalu tenang, sampai-sampai suara detak jantung sendiri terdengar begitu nyaring."

"Kesunyian itu bukan hal yang menakutkan, Samaira," sahut Ibu Arkan sambil merapikan bibit cabai rawit polybag yang berbaris rapi di atas rak bambu. "Di kota, kau mungkin dikelilingi ribuan orang setiap hari, tapi hatimu justru sering merasa sendirian. Di sini, di kebun ini, kau belajar mendengarkan alam. Dan alam tidak pernah berdusta."

Samaira mengangguk pelan. Ia mengambil bibit bayam merah berukuran kecil yang berada di dalam wadah semai plastik, lalu menanamnya satu per satu ke dalam lubang-lubang kecil yang telah ia buat di atas tanah gembur. Jemarinya yang biasanya lentik menari di atas papan tik kantor kini kotor berbalut tanah cokelat. Ada sensasi asing yang menenangkan setiap kali kulit jarinya bersentuhan langsung dengan butiran tanah yang lembap dan dingin.

"Arkan beruntung sekali memiliki ibu yang selalu tahu cara menenangkan pikirannya," puji Samaira tulus, melirik sekilas ke arah wanita paruh baya itu.

"Arkan itu mirip ayahnya keras kepala kalau punya mau, tapi sebenarnya rapuh di dalam," balas Ibu Arkan sambil tersenyum simpul, matanya menerawang jauh ke arah pohon jambu di ujung kebun. "Dulu, waktu suaminya masih ada, mereka berdua sering menghabiskan waktu sore di kebun ini, menanam pohon mangga yang sekarang sudah berbuah lebat. Sekarang, kehadiranmu di sini membuat kebun ini hidup kembali, Nak."

Samaira merasakan kehangatan menjalar di dadanya. Hubungannya dengan Ibu Arkan memang terjalin begitu cepat dan natural, seolah tidak ada dinding pembatas antara menantu dan mertua. Di saat Arkan sibuk mengurus proyek rintisannya di luar kota sejak pagi hingga sore hari, Samaira memilih menghabiskan waktunya di pekarangan belakang bersama sang ibu, belajar merawat tanaman, menyiram bunga, dan memahami filosofi kesabaran dari tanah pedesaan.

❖ ❖ ❖

Matahari semakin tinggi, memancarkan sinarnya yang mulai menghangat, menembus celah-celah dedaunan dan menghangatkan punggung mereka berdua yang masih sibuk berjongkok di atas tanah. Keringat mulai membasahi leher Samaira, namun ia tidak berniat untuk berhenti. Tangannya kini sedang memindahkan beberapa tanaman lidah buaya ke dalam pot gerabah yang lebih besar.

"Ibu, lihat ini," kata Samaira tiba-tiba, menunjukkan akar lidah buaya yang tampak melingkar-lingkar padat di dalam pot lamanya. "Akarnya sudah berdesakan begini. Pantesan beberapa hari kemarin daunnya tampak menguning di ujung."

Ibu Arkan mendekatkan wajahnya, mengamati akar serabut putih yang memenuhi wadah tersebut. "Iya, benar sekali. Kalau dibiarkan terus di pot kecil, tanaman ini akan kehabisan nutrisi karena berebut tempat dengan dirinya sendiri. Manusia juga begitu, Samaira. Kalau kita memaksa diri tinggal di lingkungan yang terlalu sempit dan penuh tekanan tanpa ruang untuk bernapas, kita pasti akan layu."

Samaira terdiam sejenak. Kalimat itu menohok relung hatinya yang paling dalam. Kepindahannya ke desa ini bukanlah keputusan yang mudah. Ia harus melepaskan posisi manajer pemasaran di sebuah perusahaan multinasional yang telah ia bangun selama lima tahun demi mendampingi Arkan. Sempat ada rasa penyesalan dan ketakutan yang mendalam di awal kepindahan mereka—ketakutan akan kehilangan identitas karier, ketakutan akan menjadi perempuan yang tidak mandiri secara finansial.

"Apakah... apakah keputusan kami pindah ke sini benar, Bu?" tanya Samaira pelan, suaranya hampir tenggelam oleh suara angin yang mendesir di antara dedaunan pisang. Ia menatap Ibu Arkan dengan sorot mata penuh keraguan.

Ibu Arkan meletakkan sekop kecil di tangannya, lalu beralih memegang kedua tangan menantunya yang kotor oleh tanah. Ia menatap mata Samaira lekat-lekat dengan penuh kelembutan seorang ibu kandung.

"Kau meragukan suamimu, atau meragukan dirimu sendiri, Nak?" tanya Ibu Arkan balik, suaranya tenang namun sarat akan ketegasan yang menenangkan.

"Aku meragukan masa depan kami, Bu," aku Samaira jujur, air muka nya mendadak muram. "Arkan sedang merintis usaha dari nol lagi setelah kegagalan kantor lamanya. Tabungan kami terkuras habis. Dan aku... aku merasa seperti kehilangan arah setelah meninggalkan duniaku di kota."

"Kehilangan arah itu wajar, Samaira. Kau sedang mencabut akar kehidupan lamamu untuk ditanam kembali di tanah yang baru," jelas Ibu Arkan bijak. Ia menunjuk deretan tanaman cabai dan tomat di hadapan mereka. "Lihat cabai-cabai itu. Waktu pertama kali kutanam dari biji kecil, mereka harus beradaptasi dengan cuaca di sini. Ada yang mati karena kepanasan, ada yang layu karena terlalu banyak disiram. Tapi sebagian besar bertahan, tumbuh kuat, dan sekarang menghasilkan buah yang lebat. Hidup kalian sedang berada di fase penyesuaian akar."

Samaira meresapi setiap patah kata yang diucapkan mertuanya. Ada kedamaian yang perlahan merayap masuk ke dalam dadanya, meluruhkan ketegangan yang selama ini ia pendam rapat-rapat di balik senyumannya di hadapan Arkan.

"Terima kasih, Bu," bisik Samaira tulus, matanya sedikit berkaca-kaca menahan haru. "Aku butuh mendengar kalimat itu hari ini."

"Sudah, jangan terlalu banyak merenung. Tanaman ini butuh disiram sebelum matahari terlalu terik," kata Ibu Arkan sambil tersenyum ramah, lalu bangkit berdiri sambil menepuk-nepuk debu di lutut daster batiknya. Ia mengambil ceret air tanah liat yang berada di dekat sumur.

Samaira ikut berdiri, meregangkan otot-otot pinggangnya yang terasa sedikit pegal karena terlalu lama berjongkok. Ia mengambil selang air fleksibel yang tergulung rapi di dekat dinding tembok belakang rumah, lalu menyambungkannya ke keran air utama.

❖ ❖ ❖

Suara desis air yang menyembur keluar dari ujung selang mengalir deras, menciptakan butir-butir embun buatan yang membiaskan cahaya pelangi kecil di bawah sinar matahari pagi. Samaira memegang ujung selang dengan kedua tangan, mengarahkannya secara perlahan ke barisan tanaman bayam, kangkung, dan pot-pot bunga milik mertuanya.

Aroma tanah basah yang disiram air segar mengepul ke udara, menciptakan kesegaran alami yang langsung menenangkan saraf-saraf di kepalanya. Ibu Arkan berdiri di dekat pohon mangga, mengawasi pekerjaan menantunya sambil membawa gunting tanaman besar untuk memangkas dahan-dahan kering yang tidak produktif.

"Siram bagian pangkal batangnya saja, Samaira, jangan terlalu banyak membasahi daunnya kalau matahari sudah terik begini, nanti daunnya bisa terbakar," instruksi Ibu Arkan dari jarak beberapa meter.

Lihat selengkapnya