Keringat, Lelah, dan Tekad Membara

Amrullah Ibrahim
Chapter #4

Pesan Singkat yang Terlambat

Langit senja di ibu kota mendadak berubah menjadi kelabu pekat, menumpahkan titik-titik air hujan pertama yang langsung disambut deru klakson kendaraan bermotor yang terjebak kemacetan panjang di Jalan Sudirman. Di dalam sebuah kafe bernuansa industrial yang dipadati pekerja kantoran berlindung dari badai sore, Raka duduk termangu di sudut ruangan dekat jendela kaca besar. Jemarinya sibuk mengetuk-ngetuk layar ponsel pintar miliknya yang menampilkan sebuah aplikasi percakapan instan. Status online terakhir di kontak bernama "Maya" menunjukkan pukul tiga sore tadi—sebuah jarak waktu yang terasa begitu panjang di tengah riuhnya kota yang seolah tak pernah tidur.

Raka mendengus pelan, menarik napas panjang seraya menyesap sisa kopi hitam di cangkirnya yang kini telah mendingin. Hubungan jarak jauh yang ia jalani bersama Maya selama hampir satu tahun terakhir memang menuntut kesabaran tingkat tinggi, namun hari ini kecemasan itu mendadak merayap lebih tajam dari biasanya. Pasalnya, sejak tadi siang Maya sama sekali tidak membalas pesan teks yang ia kirimkan, padahal biasanya gadis itu selalu sigap memberikan kabar di sela-sela kesibukannya sebagai pustakawan di kota Yogyakarta.

"Kau masih saja mondar-mandir memeriksa ponsel setiap lima menit sekali, Rak?" tegur Dimas, rekan sekantor yang duduk di seberangnya sambil menikmati sepotong kue keju. "Maya bukan anak kecil yang akan tersesat di alun-alun kota hanya karena ponselnya kehabisan baterai. Tenanglah sedikit."

Raka menggeleng pelan, meletakkan ponselnya di atas meja dengan layar menghadap ke bawah. "Bukan masalah anak kecil atau tersesat, Dim. Tapi hari ini jadwalnya keponakannya harus dioperasi kecil di rumah sakit. Aku cemas kalau terjadi sesuatu dan dia tidak sempat memberi kabar padaku."

"Kalau begitu, kenapa tidak coba kau telepon langsung saja?" tanya Dimas menaikkan sebelah alisnya.

"Sudah tiga kali aku menelepon sejak jam empat tadi, tapi hasilnya selalu sama—nomornya tersambung namun langsung masuk ke kotak suara," jawab Raka dengan nada suara yang menyiratkan kepenatan mendalam. "Ada perasaan tidak enak yang mengganjal di dadaku sejak siang tadi, seolah ada sesuatu yang sengaja disembunyikan oleh jarak ini."

Dimas meletakkan garpunya, menatap sahabatnya dengan sorot mata serius. "Kau terlalu overthinking, Rak. Jarak memang sering kali menjadi bumbu paling ampuh untuk menciptakan drama di dalam kepala sendiri. Cobalah berpikir positif, mungkin dia sedang sibuk mendampingi kakaknya di ruang pemulihan."

"Aku ingin sekali berpikir positif, Dim. Tapi keheningan di ujung sana terasa sangat menyiksa," balas Raka lirih, matanya kembali melirik layar ponsel yang tetap membisu di atas meja kayu kafe tersebut.

Hujan di luar semakin menderas, mengubah jalanan asphalt menjadi cermin raksasa yang memantulkan kerlip lampu kota yang buram. Di tengah kebisingan suara rintik air hujan dan obrolan pengunjung lain, pikiran Raka melayang jauh ke Jogja, membayangkan berbagai kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi tanpa sepengetahuannya. Komunikasi yang hanya dijembatani oleh sambungan sinyal seluler dan deretan karakter teks digital ternyata memiliki kelemahan yang sangat kejam: ia bisa terputus kapan saja, meninggalkan ruang kosong yang langsung diisi oleh kecemasan liar.

"Sudahlah, habiskan kopimu. Sebentar lagi hujan reda dan kita harus kembali ke kantor untuk merampungkan laporan keuangan itu," ujar Dimas menepuk pelan pundak Raka.

Raka hanya mengangguk lemah, namun pikirannya tetap terpaku pada kotak obrolan digital di ponselnya. Di era modern di mana segala hal bisa diakses dalam hitungan detik, ironisnya rasa rindu dan cemas justru sering kali datang terlambat, tertahan oleh sinyal yang lemah atau kesibukan dunia nyata yang memisahkan dua insan sejauh ratusan kilometer.

❖ ❖ ❖

Waktu menunjukkan pukul delapan malam ketika Raka akhirnya tiba di kamar kosannya yang sempit di kawasan Menteng. Sambil melempar tas kerja ke atas kasur, ia langsung menyambar ponselnya untuk kembali memeriksa apakah ada notifikasi baru dari Maya. Layar ponsel itu tetap bersih dari pesan masuk. Rasa cemas yang sedari sore ditekan kini mendadak melonjak naik, mencengkeram dadanya dengan kuat.

Ia membuka aplikasi percakapan, lalu mengetik sebuah pesan baru dengan jari-jemari yang sedikit gemetar. "Sayang, kamu di mana? Tolong kabari aku secepatnya kalau sudah sampai rumah atau kalau ada waktu luang. Aku cemas seharian ini tidak ada kabar darimu."

Raka menekan tombol kirim. Tanda centang satu berwarna abu-abu muncul di sebelah pesan tersebut—menandakan bahwa ponsel Maya masih dalam keadaan mati atau tidak tersambung ke internet.

"Ayolah, Maya... jangan buat aku gila seperti ini," gumam Raka pada dirinya sendiri sambil berjalan mondar-mandir di dalam kamar kos yang berukuran tiga kali tiga meter itu.

Ia teringat pertengkaran kecil mereka minggu lalu, di mana Maya sempat mengeluhkan bagaimana komunikasi digital sering kali merusak esensi hubungan mereka. 'Kadang aku merasa kita hanya saling mencintai bayangan di layar kaca, Raka. Kita sibuk merajut rindu lewat emoji, tapi kehilangan kehangatan nyata saat salah paham terjadi,' begitu ucap Maya lewat panggilan video malam itu. Kata-kata tersebut kini berputar kembali di kepala Raka seperti kaset rusak, memperingatkan bahwa ketergantungan mereka pada pesan singkat telah menciptakan jarak emosional yang justru lebih berbahaya daripada jarak geografis itu sendiri.

Ponsel di tangan Raka tiba-tiba bergetar pendek. Jantung Raka langsung berdegup kencang. Dengan tergesa-gesa ia mengangkat ponselnya, namun kekecewaan langsung melanda ketika melihat nama pengirim notifikasi bukanlah Maya, melainkan sebuah pesan promosi dari operator seluler.

Raka menghembuskan napas berat, menjatuhkan tubuhnya ke atas tepi kasur empuk. Ia membuka galeri foto di ponselnya, mencari folder khusus berisi foto-foto kebersamaan mereka saat terakhir kali bertemu di Malioboro tiga bulan lalu. Di dalam foto itu, Maya tersenyum manis dengan latar belakang lampu malam kota Yogyakarta, mengenakan selendang rajut berwarna merah maroon yang selalu ia sukai.

"Kenapa rasanya begitu dekat di dalam galeri, tapi begitu jauh di dunia nyata?" bisik Raka lirih, menatap lekat-lekat wajah Maya di layar ponsel yang memantulkan cahaya temaram kamar kosnya.

Kecemasan itu perlahan berubah menjadi rasa frustrasi yang melelahkan. Raka tahu bahwa menuntut kabar setiap detik adalah bentuk egoisme dalam hubungan jarak jauh, namun ketidakpastian hari ini terasa begitu berbeda. Ada intuisi aneh yang mengatakan bahwa keheningan Maya kali ini bukan sekadar karena kehabisan baterai atau kesibukan biasa.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya