Keringat, Lelah, dan Tekad Membara

Amrullah Ibrahim
Chapter #5

Keringat Menjadi Saksi

Suara dengung mesin pabrik baja yang berputar tanpa henti berdengking nyaring di dalam rongga telinga Arkan. Di atas tumpukan palet kayu di sudut gudang logistik yang agak tersembunyi dari sorot mata pengawas, Arkan duduk bersandar pada dinding semen kasar. Napasnya masih memburu, naik turun tidak beraturan setelah dua jam penuh mengangkat karung-karung bahan baku tekstil seberat lima puluh kilogram secara estafet. Punggung bajunya basah kuyup oleh keringat yang bercampur dengan debu halus pabrik, membentuk lapisan kerak abu-abu di permukaan kain katun kusam yang ia kenakan.

Ia merogoh saku celana kerjanya, mengeluarkan sebuah botol plastik air mineral ukuran sedang yang isinya sudah tinggal separuh dan terasa hangat. Dengan tangan yang masih gemetar karena kelelahan otot, ia membuka tutup botol itu lalu meneguk airnya perlahan, membiarkan cairan dingin itu membasahi tenggorokan yang terasa kering kerontang bagaikan padang pasir.

"Hei, Arkan! Jangan terlalu lama melamun di sudut itu, waktu istirahat kita tinggal sepuluh menit lagi!" seru Hartono, rekan seniornya yang berambut nyaris memutih di pelipis, sambil melempar sepotong roti bungkus plastik ke arah pangkuan Arkan.

Arkan menangkap roti itu sigap dengan tangan kirinya. Ia tersenyum tipis, menampilkan deretan giginya yang tampak kontras di antara wajahnya yang belepotan debu hitam. "Terima kasih, Pak Hartono. Saya tidak melamun, cuma sedang mencoba bernapas dengan benar."

Hartono tertawa kecil, lalu ikut melabuhkan tubuh gempalnya di samping Arkan, menyandarkan punggung ke dinding semen yang dingin. "Bernapas di kota besar ini memang butuh teknik khusus, Nak. Kalau kamu salah mengambil rentang napas, kamu bisa kehabisan tenaga sebelum matahari sempat tenggelam di ufuk barat."

Arkan menatap sekeliling gudang yang luas itu. Di bawah sorotan lampu neon putih yang menyilaukan, puluhan pekerja lain tampak sibuk hilir mudik dengan forklift dan troli barang. Aroma besi tua, oli mesin, dan peluh manusia berpadu menjadi satu, menciptakan atmosfer khas dunia kerja kasar yang selama ini tidak pernah terbayangkan oleh Arkan ketika ia masih duduk di beranda rumah panggungnya di kampung halaman.

"Dulu, waktu pertama kali merantau ke kota ini lima tahun lalu, saya juga berpikir bahwa kerja keras saja sudah cukup untuk membuat kita bertahan," lanjut Hartono sambil merobek bungkusan roti miliknya. "Ternyata aku salah besar. Kota ini tidak peduli seberapa keras kamu membanting tulang; kota ini hanya peduli pada hasil akhir dan seberapa tangguh kamu menahan perih."

"Perih seperti apa yang Bapak maksud?" tanya Arkan penasaran, menoleh menatap mata seniornya yang menyiratkan segudang pengalaman hidup.

"Perih ketika kamu melihat teman sepantaranmu duduk di kantoran ber-AC rapi, sementara tanganmu sendiri kapalan dan penuh luka goresan besi setiap kali memegang sendok makan," jawab Hartono pelan, suaranya tenggelam sejenak oleh suara dentuman keras dari mesin press hidrolik di seberang ruangan. "Tapi dari semua rasa perih itu, ada satu hal yang tidak bisa dibeli dengan uang di kota ini: harga diri yang dibayar lunas dengan keringat sendiri."

Kata-kata Hartono berputar-putar di dalam kepala Arkan, menghujam langsung ke dasar sanubarinya. Ia menunduk, memandangi kedua telapak tangannya sendiri. Kulit di bagian ruas jari-jarinya tampak menebal, memerah, dan dipenuhi guratan luka goresan kecil yang belum sepenuhnya kering. Telapak tangan itu adalah saksi bisu atas transformasi seorang anak desa yang terpaksa dipaksa dewasa oleh keadaan kerasnya dunia modern.

❖ ❖ ❖

Angin malam yang bertiup melalui ventilasi besar gudang membawa serta hawa dingin yang mulai menusuk kulit Arkan yang basah oleh keringat. Meskipun penat menggelayut di setiap jengkal otot tubuhnya, pikirannya justru melayang jauh kembali ke kampung halaman, ribuan kilometer dari tempat ia duduk sekarang. Ia teringat wajah ibunya yang setiap pagi sabar menanak nasi di atas tungku kayu bakar, serta adiknya yang masih sekolah dengan seragam yang sudah mulai menguning di bagian kerah.

"Kamu sedang memikirkan kiriman uang untuk ibu di kampung ya, Arkan?" tanya Hartono memecah keheningan, seolah mampu membaca isi kepala pemuda di sebelah kanannya itu.

Arkan mengangguk jujur. Ia meletakkan botol air mineral kosong di lantai semen. "Iya, Pak. Bulan ini saya harus menyisihkan separuh gaji saya untuk membantu melunasi sisa cicilan traktor di desa. Kalau tidak, pekarangan rumah kami bisa disita pihak koperasi."

Hartono menghela napas panjang, mengusap wajahnya dengan telapak tangan yang kasar. "Ah, utang desa... jerat abadi bagi orang kecil seperti kita. Dulu ayahku juga meninggal dengan membawa beban utang pada rentenir desa gara-gara gagal panen tiga musim berturut-turut. Makanya, begitu aku menginjakkan kaki di kota ini, tekadku cuma satu: tidak boleh ada lagi anggota keluargaku yang hidup dalam ancaman sitaan."

"Tapi rasanya berat sekali, Pak," aku Arkan dengan suara tertahan, kerongkongannya terasa tercekat. "Terkadang, di tengah malam saat saya terbangun di kontrakan sempit karena kram otot, saya bertanya-tanya pada diri sendiri: apakah semua penderitaan ini sebanding dengan masa depan yang bahkan belum tentu wujudnya?"

"Jangan pernah ragukan keringatmu, Arkan," potong Hartono tegas, menoleh dan menatap tajam ke dalam mata Arkan. "Setiap tetes keringat yang jatuh di lantai pabrik ini bukan cuma cairan garam yang keluar dari pori-pori tubuhmu. Itu adalah tinta yang sedang kamu pakai untuk menulis ulang garis nasib keluargamu. Orang kota boleh meremehkan kita karena pakaian kita kotor dan bau oli, tapi mereka tidak punya ketahanan mental seperti yang kita miliki."

Arkan tertegun mendengar ucapan seniornya itu. Ada kekuatan magis yang tiba-tiba meresap ke dalam aliran darahnya, mengusir rasa iba pada diri sendiri yang sempat bersarang di dadanya.

Sebelum Arkan sempat membalas perkataan Hartono, suara peluit panjang dari ruang pengawas berbunyi nyaring, menandakan waktu istirahat sepuluh menit telah berakhir dan seluruh pekerja harus segera kembali ke pos masing-masing.

"Nah, waktu habis, kawan muda. Ayo bangun, mesin-mesin baja itu tidak akan berhenti berputar hanya karena kita kelelahan," seru Hartono sambil bangkit berdiri dan menepuk-nepuk debu di celana kerjanya.

Arkan bangkit mengikuti langkah seniornya. Meskipun sekujur tubuhnya masih terasa pegal, ada api kecil yang kembali menyala di dalam dadanya—sebuah keyakinan bahwa setiap butir keringat yang ia cucurkan hari ini adalah saksi atas perjuangan hidup yang tidak akan pernah sia-sia.

❖ ❖ ❖

Sesi kerja bagian kedua malam itu berjalan jauh lebih melelahkan daripada paruh pertama. Arkan ditempatkan di jalur utama pengemasan karung produk akhir, berdiri tegak di samping mesin jahit karung karbit yang berisik dan berdebu. Debu halus kapas dan serat kain beterbangan di udara, menempel di bulu matanya dan masuk ke dalam hidung setiap kali ia menarik napas.

"Awas, Arkan! Kiriman karung dari lini tiga datang lebih cepat!" teriak kepala pengawas shift malam, seorang pria bertubuh gempal bernama Mardani yang terkenal paling galak di pabrik tersebut.

Arkan tidak sempat menjawab. Dengan gerakan refleks yang sudah terlatih selama berminggu-minggu, ia menyambut karung pertama seberat empat puluh kilogram yang meluncur turun dari papan luncur besi, mengangkatnya dengan teknik pinggang yang benar, lalu menjahit bagian atas karung tersebut menggunakan mesin jahit portabel yang beratnya hampir sepuluh kilogram.

Bzzzt... rat-tat-tat-tat!

Suara jarum mesin jahit berputar cepat menembus lapisan kain karung yang tebal. Keringat kembali bercucuran deras dari pelipis Arkan, mengalir melewati pipinya dan menetes jatuh ke lantai semen pabrik yang kotor. Tangannya bekerja bagaikan robot yang tidak kenal lelah, meskipun jemarinya sudah mulai kaku dan pergelangan tangannya berdenyut nyeri akibat getaran mesin jahit yang konstan.

Di tengah kesibukan ritme kerja yang mematikan akal sehat itu, pikiran Arkan kembali melayang pada makna dari peluh yang terus membanjiri tubuhnya. Ia teringat kalimat ibunya saat ia pamit berangkat merantau dulu: “Carilah rezeki yang halal, Nak, meski harus dibayar dengan air mata dan keringat darah sekalipun, karena berkah dari kerja keras tidak akan pernah tertukar.”

Lihat selengkapnya