Suara riuh rendah tawar-menawar harga dan deru mesin becak yang beradu dengan klakson angkutan kota menyambut langkah kaki Samaira begitu ia menyeberangi gerbang utama Pasar 16 Ilir. Aroma khas ikan asin, terasi bakar, dan wangi rempah-rempah yang menguap dari lapak bumbu giling langsung menggelitik indra penciumannya. Di bawah langit Palembang yang membentang cerah dengan sengatan matahari pagi yang mulai menghangatkan pelataran, Samaira menarik napas dalam-dalam. Ransel kain bermotif etnik yang tersampir di bahu kanannya terasa ringan, tetapi hatinya menyimpan beban kerinduan yang senantiasa menuntut pelarian.
"Bawang merah sekilo berapa, Mak?" tanya Samaira ramah kepada seorang pedagang paruh baya berkerudung merah marun yang sedang merapikan dagangannya.
"Tiga puluh lima ribu, Neng. Baru turun ini, masih segar dari kebun," jawab sang bibi pedagang dengan senyuman lebar, logat Palembang yang kental terdengar merdu di telinga Samaira.
"Boleh kurang sedikit ya, Mak? Buat stok anak kosan nih," rayu Samaira sambil tersenyum manis, mempraktikkan kebiasaan baru yang mulai ia pelajari selama tinggal di kota pempek ini.
"Iya deh, khusus buat Neng yang manis, tiga puluh tiga ribu saja," tawa bibi itu riang sambil menimbang bawang merah menggunakan timbangan gantung antik berkarat.
Bagi Samaira, hiruk-pikuk Pasar Tradisional Palembang setiap Minggu pagi bukan sekadar tempat berbelanja kebutuhan mingguan. Rutinitas ini telah berubah menjadi ritual penyelamatan jiwa. Sejak kepindahannya dari Yogyakarta ke Palembang untuk melanjutkan studi pascasarjana sekaligus merintis karier di sebuah lembaga riset independen, rasa sepi kerap menyergapnya di kamar sewaan yang sunyi. Tinggal sendiri di kota asing tanpa sanak saudara membuat hari-harinya terasa monoton: kamar kos, perpustakaan, kantor, lalu kembali ke kamar kos.
Namun, di pasar tradisional ini, kesunyian itu seolah lenyap ditelan riuhnya kehidupan. Setiap sudut pasar menawarkan cerita manusia yang hidup apa adanya—mulai dari kuli panggul yang membawa karung beras seberat lima puluh kilogram di pundak mereka, ibu-ibu paruh baya yang sibuk memilih sayur pakis segar, hingga para penjual kerupuk kemplang yang berteriak menawarkan barang dagangan mereka dengan penuh semangat.
"Awas, Mbak, jalan licin!" seru seorang pria muda yang mendorong gerobak kayu bermuatan keranjang buah duku.
"Ah, terima kasih, Mas," balas Samaira spontan sambil melangkah sedikit ke samping untuk menghindari cipratan air genangan sisa es batu.
Ia melanjutkan langkahnya menyusuri lorong sempit yang memisahkan deretan lapak pedagang kain dan los ikan basah. Matanya berbinar-binar mengamati berbagai jajanan pasar tradisional yang berjejer rapi di atas daun pisang. Ada pempek dos yang masih mengepulkan uap hangat, laksan berkuah santan gurih, hingga ketan srikaya berwarna hijau pandan yang menggugah selera.
"Samaira!"
Sebuah suara nyaring memanggil namanya dari arah los penjualan rempah. Samaira menoleh dan melihat sahabat sekaligus rekan sekantornya, Maya, sedang melambaikan tangan sambil menjinjing kantong plastik hitam penuh berisi cabai merah besar.
"Maya! Tumben banget kamu ke pasar tradisional jam segini. Biasanya hari Minggu mah sibuk tidur siang sampai sore," sapa Samaira begitu ia menghampiri gadis berambut sebahu itu.
"Dih, dibilangin juga apa. Hari ini aku mau bikin sambal tempoyak spesial buat makan siang. Makanya bela-belain bangun pagi demi berburu durian fermentasi asli di sini," cerita Maya antusias dengan mata berbinar-binar. "Kamu sendiri belanja apa aja, Mai? Jangan-jangan cuma beli mi instan lagi ya?"
Samaira tertawa kecil, memperlihatkan kantong belanjaannya yang berisi bawang merah, tomat segar, dan seikat daun kemangi. "Enak saja! Aku mau masak pindang patin sederhana di kosan. Biar ada aroma rumahan sedikit, kangen masakan ibu di Jawa."
"Wah, hebat juga anak Jogja satu ini udah mulai beradaptasi sama kuliner Palembang!" puji Maya sambil menepuk pelan bahu Samaira. "Eh, temenin aku ke los penjual kemplang yuk sebentar. Ibuku di rumah nitip oleh-oleh kerupuk panggang khas yang asli dari 26 Ilir."
"Yuk, jalan!" ajak Samaira bersemangat.
❖ ❖ ❖
Berjalan berdampingan menembus padatnya lautan manusia di lorong pasar membuat Samaira sejenak melupakan beban pikiran yang menumpuk di kantor. Pekan ini, ia baru saja mendapat tugas tambahan dari atasannya untuk merampungkan analisis data sosio-ekonomi masyarakat pinggiran Sungai Musi sebelum batas waktu hari Kamis mendatang. Tekanan pekerjaan itu sempat membuatnya mengalami migrain hebat selama dua malam berturut-turut di kamar kosnya.
"Mai, kamu kelihatan agak kurusan deh akhir-akhir ini. Kurang tidur ya gara-gara data riset kemarin?" tanya Maya prihatin saat mereka berhenti sejenak di depan lapak kerupuk kemplang yang tersusun tinggi di dalam keranjang besar.
Samaira merapikan helaian rambutnya yang sedikit berantakan karena tertiup angin kipas angin dinding penjual. "Begitulah, May. Data lapangan dari kecamatan seberang kemarin agak berantakan penulisannya, jadi aku harus rekap ulang dari awal supaya tidak salah interpretasi saat presentasi."
"Makanya, jangan terlalu diforsir. Kesehatan itu nomor satu, Mai. Kalau kamu sakit di perantauan begini, siapa yang mau repot ngurusin selain diri sendiri?" nasihat Maya tulus sambil memilih beberapa bungkus kerupuk kemplang panggang berukuran besar.
"Iya, aku tahu kok. Makanya hari Minggu ini aku sengaja jalan-jalan ke pasar biar pikiran agak fresh lagi," jawab Samaira sambil tersenyum tipis. "Oh ya, Bu, kemplang panggang yang ini satu bungkusnya berapa?" tanyanya kepada penjaga lapak, seorang ibu paruh baya berkebaya encim sederhana.
"Itu dua puluh lima ribu rupiah per bungkus, Neng. Dijamin renyah, ikannya terasa banget karena asli dari ikan gabus Sungai Musi," terang sang penjual ramah.
"Bungkus dua ya, Bu," timpal Maya cepat sambil mengeluarkan dompet dari dalam tasnya. "Satu buat ibuku, satu lagi buat Samaira nih biar dia doyan ngemil pas lagi lembur ngerjain data."
"Eh, nggak usah repot-repot, May. Aku bisa bayar sendiri kok," protes Samaira spontan.
"Udah, santai aja! Anggap saja ini traktiran kecil buat rekan kerja teladan bulan ini," potong Maya sambil tertawa renyah menyerahkan selembar uang kertas kepada penjual.
Setelah transaksi selesai, keduanya memutuskan untuk beristirahat sejenak di sebuah warung kopi kecil beratap terpal biru di dekat pintu keluar pasar. Warung itu sederhana, hanya menyediakan beberapa bangku kayu panjang dan meja kecil yang menghadap langsung ke jalanan sibuk di tepi Sungai Musi. Dari tempat duduk mereka, tampak kapal ketek berlalu-lalang membelah air sungai yang berwarna kecokelatan di bawah teriknya matahari pagi.
"Pemandangan Sungai Musi dari sini selalu bikin tenang ya, May," ucap Samaira lirih, menatap lurus ke arah jembatan Ampera yang berdiri megah di kejauhan.