Embusan angin malam berhembus pelan, membawa aroma khas dedaunan basah dan tanah yang baru saja disiram oleh hujan gerimis. Di teras belakang rumah kayu berukuran sedang yang menghadap langsung ke arah lembah hijau, Samaira berdiri sambil merapatkan kardigan rajut tebal berwarna krem ke tubuhnya. Pandangannya menerobos kegelapan malam, menatap hamparan lampu-lampu kota kecil di kejauhan yang berkelap-kelip menyerupai taburan bintang di bumi.
Suara denting cangkir keramik yang beradu dengan meja kayu mengalihkan perhatiannya. Arkan muncul dari balik pintu kaca geser, membawa dua mug besar berisi cokelat panas yang masih mengepulkan uap tipis. Pria itu mengenakan kemeja flanel kotak-kotak berlengan panjang yang lengannya digulung hingga ke siku, menampakkan guratan otot lengan bawah yang menandakan kerja keras bertahun-tahun.
"Minumlah selagi hangat, Sam. Udara di lembah ini kalau sudah lewat tengah malam bisa menusuk tulang sampai ke dalam," kata Arkan lembut sambil menyodorkan salah satu mug kepada wanita itu.
Samaira menoleh, menerima mug tersebut dengan kedua tangan. Telapak tangannya langsung merasakan kehangatan yang menjalar dari permukaan keramik, mengusir dingin yang sempat mencengkeram jari-jarinya. "Terima kasih, Arkan. Aku bahkan tidak sadar kalau malam sudah semakin larut."
"Waktu memang terasa berjalan lebih cepat kalau kita sedang duduk merenungkan banyak hal," balas Arkan pelan. Ia menyandarkan tubuhnya pada pagar kayu pembatas teras, menatap lurus ke arah langit malam yang mulai menampakkan beberapa bintang di balik sisa-sisa awan kelabu. "Apa yang sedang berputar di dalam kepalamu sejak sore tadi? Kelihatan berat sekali sampai-sampai kamu mengabaikan teh chamomile buatanmu sendiri."
Samaira menghela napas pendek. Uap cokelat panas melayang di udara, buyar diterpa angin malam. Ia menyeruput sedikit minumannya, merasakan rasa manis bercampur pahit yang menenangkan tenggorokan.
"Aku cuma sedang memikirkan arah hidup kita, Arkan," aku Samaira jujur. Ia menoleh, menatap sisi wajah pria di sampingnya yang tampak tenang diterpa cahaya temaram dari lampu dinding teras. "Setelah semua badai korporasi dan teror yang kita lewati beberapa bulan lalu, aku merasa kita seperti orang-orang terdampar yang baru saja menemukan daratan. Tapi di daratan ini, kita justru berdiri di persimpangan jalan yang asing."
Arkan tidak langsung merespons. Ia menyesap cokelat panasnya, lalu menoleh membalas tatapan wanita itu. Sorot matanya teduh, namun menyimpan ketegasan yang selalu membuat Samaira merasa aman.
"Persimpangan jalan selalu ada di setiap fase kehidupan kita, Sam," ucap Arkan tenang. "Yang jadi persoalan bukan ke mana arah jalan itu membentang, tapi dengan siapa kita memilih untuk melangkah melewatinya. Kamu merasa kita sedang tersesat?"
"Bukan tersesat," sangkal Samaira cepat, menggelengkan kepalanya pelan. Ia meletakkan mugnya di atas meja kecil di samping mereka, lalu melipat tangan di depan dada untuk menahan dingin. "Hanya saja... hidup ini terasa terlalu rapuh. Kemarin kita hampir kehilangan segalanya karena keserakahan orang lain. Aku takut, kalau suatu hari nanti badai yang lebih besar datang, kita tidak lagi punya kekuatan untuk saling menjaga."
"Ketakutan itu wajar, Sam," kata Arkan dengan suara baritonnya yang menenangkan. Ia meletakkan mugnya menyusul mug Samaira, lalu mendekat setengah langkah. "Tapi kamu lupa pada satu hal yang paling mendasar. Kita tidak sedang bertahan hidup sendirian lagi seperti dulu. Ada ikatan yang sudah kita jalin tanpa harus diucapkan lewat meterai atau janji-janji palsu di hadapan banyak orang."
Samaira terdiam. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari normal. Ia tahu persis ke arah mana pembicaraan ini akan bermuara. Hubungan mereka selama ini telah teruji oleh tempaan krisis, ancaman fisik, dan air mata, namun belum pernah sekalipun keduanya merumuskan bentuk komitmen tersebut secara gamblang ke dalam kata-kata.
❖ ❖ ❖
Udara malam terasa semakin senyap. Suara jangkrik di balik semak-semak lembah terdengar bersahutan, menemani keheningan yang sempat merayap di antara mereka berdua. Samaira menunduk sejenak, menatap pantulan bayangan mereka berdua di permukaan air cokelat panas yang mulai mendingin di dalam mug.
"Komitmen tanpa bentuk yang jelas itu terkadang menakutkan, Arkan," bisik Samaira lirih, suaranya hampir tenggelam oleh desau angin malam. "Aku bukan lagi perempuan muda yang percaya pada manisnya angan-angan tanpa fondasi nyata. Aku punya masa lalu, aku punya luka yang butuh kepastian, bukan sekadar aliran air yang mengalir kemana saja."
Arkan mengangguk paham. Ia tidak merasa tersinggung oleh kejujuran wanita itu; justru, ketegasan dan realisme Samaira adalah salah satu hal yang paling ia kagumi sejak hari pertama mereka bekerja sama dalam kemelut audit keuangan lalu.
"Kepastian seperti apa yang kamu cari, Sam?" tanya Arkan lembut, matanya menatap lekat manik mata wanita di hadapannya tanpa sedikit pun keraguan.
Samaira mengangkat wajahnya, membalas tatapan itu dengan sorot mata yang menyiratkan pergolakan batin yang mendalam. "Kepastian bahwa kita tidak sedang saling singgah. Kalau kita memutuskan untuk terus berjalan berdampingan setelah semua kekacauan ini, apa landasan yang kita pegang? Kita tidak punya ikatan resmi, Arkan. Suatu saat nanti, dunia bisa saja menarik kita ke arah yang berlawanan."
"Dunia bisa menarik kita ke manapun ia mau," sahut Arkan mantap. Ia melangkah lebih dekat, hingga jarak di antara mereka tinggal beberapa jengkal saja. Aroma sabun kayu manis dan jaket kulit khas pria itu menguar di penciuman Samaira. "Tapi arah hidupku sudah lama berhenti bergerak secara acak sejak hari di mana aku melihatmu berdiri tegak di ruang rapat dewan direksi, menolak tunduk pada ancaman Dirga."
Samaira menahan napasnya. Kalimat itu meluncur begitu tulus, tanpa ada kesan dibuat-buat atau merayu demi mendapatkan simpati.
"Aku tidak butuh meterai di atas kertas bermeterai sepuluh ribu untuk membuktikan keseriusanku, Sam," lanjut Arkan dengan nada suara yang semakin berat dan penuh keyakinan. "Janji terbaik bukanlah yang diucapkan di depan publik untuk sebuah seremonial, melainkan komitmen bisu yang diuji setiap kali badai datang menghantam. Dan kita sudah melewati badai itu bersama-sama."
"Tapi hidup bukan cuma soal melewati badai, Arkan," sangkal Samaira, meskipun suaranya kini mulai kehilangan ketegasannya yang tadi. "Bagaimana dengan hari-hari biasa? Hari-hari ketika kita lelah, ketika rutinitas menelan impian kita satu per satu? Apakah ikatan tak tertulis itu cukup kuat menahan kebosanan dan tekanan domestik?"
"Kalau dasarnya adalah rasa saling percaya dan keyakinan bahwa kita adalah rumah bagi satu sama lain, hari-hari biasa tidak akan terasa melelahkan," jawab Arkan tegas. Ia mengangkat tangan kanannya perlahan, ragu-ragu sejenak sebelum akhirnya telapak tangannya menyentuh lembut punggung tangan Samaira yang dingin. "Aku berjanji pada diriku sendiri, selama aku masih bernapas dan berdiri di atas tanah ini, aku tidak akan membiarkanmu menghadapi dunia sendirian lagi. Itu sumpahku di bawah langit ini."