Keringat, Lelah, dan Tekad Membara

Amrullah Ibrahim
Chapter #9

Purnama Ketiga dan Celatuk Atap Seng

Malam menggantung rendah di atas bukit-bukit kapur yang mengelilingi dusun kecil tempat Arkan menghabiskan hari-harinya. Di dalam pondok kerja kayunya yang beraroma serutan kayu damar dan getah pinus, Arkan duduk membungkuk di atas meja kerjanya. Lampu minyak ting-ting dengan nyala api kecil berkedip-kedip, melemparkan bayangan panjang yang menari di dinding kayu yang dipenuhi pahatan tangan dan perkakas pertukangan.

Angin malam berembus dari celah-celah dinding papan yang tidak rapat, membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Namun, Arkan sama sekali tidak bergeming dari posisinya. Di tangannya, sebilah pisau raut meluncur lembut di atas permukaan balok kayu mahoni, membentuk lekukan halus yang kelak akan menjadi hiasan sandaran kursi.

"Sudah hampir tengah malam, Arkan. Kau tidak lelah?" Suara serak Pak Lurah Wira memecah keheningan, muncul di ambang pintu pondok yang terbuka separuh. Orang tua itu mengenakan sarung tenun lusuh dan jaket tebal, membawa secangkir jahe hangat yang masih mengepulkan uap.

Arkan mendongak, merenggangkan otot-otot lehernya yang kaku sebelum tersenyum tipis menyambut kedatangan lelaki paruh baya yang telah menganggapnya seperti anak sendiri itu. "Belum, Pak. Tanggung, ukiran di sandaran kursi pesanan juragan kota ini tinggal sedikit lagi selesai. Kalau ditinggal, konsentrasinya buyar."

Pak Lurah Wira melangkah masuk, meletakkan cangkir jahe di atas sudut meja yang kosong, lalu merapikan beberapa perkakas berserakan agar tidak menggores tangan Arkan. Matanya menatap sekilas ke arah atap seng pondok yang berkarat di beberapa bagian.

"Bukan hanya kayu yang kau perhatikan, anak muda," kata Pak Lurah Wira sambil mendengus pelan, menunjuk dengan dagunya ke arah langit-langit pondok. "Malam ini purnama ketiga sejak gadis kota itu pergi meninggalkanku—maksudku, meninggalkan dusun ini kembali ke dunianya. Dan kau, seperti biasa, lebih memilih mengobrol dengan bayangan bulan dari celah atap seng itu daripada tidur."

Arkan menghentikan gerakan pisau rautnya. Senyum tipisnya meluntur, berganti dengan ekspresi menerawang. Ia mengalihkan pandangannya ke atas, menatap deretan celah kecil di antara lembaran atap seng yang bergelombang. Melalui lubang-lubang sempit akibat korosi dan usia itu, pendar cahaya putih keperakan menyelinap masuk, membentuk garis-garis tipis cahaya yang jatuh membentang di atas lantai papan kayu.

"Aku tidak sedang mengobrol dengan bayangan, Pak," jawab Arkan pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh derik jangkrik di luar pondok. "Aku hanya memastikan apakah cahaya yang jatuh di lantai ini sama persis dengan cahaya yang sedang dilihatnya di tempat jauh sana."

"Tempat jauh itu bernama ibu kota, Arkan," sahut Pak Lurah Wira dengan nada mengingatkan, menarik sebuah kursi bangku pendek untuk duduk di dekat meja kerja. "Kota besar yang bising, penuh dengan asap kendaraan, lampu neon yang membutakan mata, dan gedung-gedung beton menjulang tinggi. Apakah kau benar-benar percaya bulatan perak di atas sana sanggup menembus hutan beton itu untuk menyapa matanya?"

"Bulan tidak butuh izin manusia untuk bersinar, Pak," balas Arkan teguh, jemarinya kembali meraba tekstur kayu mahoni yang halus. "Bahkan di tengah kota yang paling terang sekalipun, malam tetaplah malam. Dan purnama ketiga ini adalah janji yang tidak mungkin luput dari ingatan kami."

Pak Lurah Wira menggelengkan kepalanya perlahan, tersenyum maklum bercampur rasa iba. "Janji adalah beban terberat bagi orang yang tinggal di desa terpencil dan menunggu seseorang dari dunia luar. Kau terikat pada sesuatu yang bergerak di atas rel yang berbeda, Arkan. Dia di kereta cepat modern, sementara kau masih berjalan kaki di atas jalan setapak berbatu."

"Jalan setapak atau rel cepat, tujuannya tetap sama jika arahnya benar," timpal Arkan tanpa ragu.

Di luar pondok, suara angin malam semakin kencang, menggesek daun-daun kelapa dan membentur dinding seng pondok hingga berdenting nyaring. Suara dentingan seng itu seolah menjadi pengingat konstan tentang betapa rapuhnya perlindungan tempat Arkan bekerja, sekaligus betapa luasnya dunia di luar sana yang sedang memisahkan mereka.

❖ ❖ ❖

Waktu merayap semakin larut. Pak Lurah Wira akhirnya pamit pulang setelah menghabiskan setengah cangkir jahe hangatnya, meninggalkan Arkan seorang diri di dalam pondok kerja yang kini terasa semakin senyap. Suasana malam di dusun itu memang selalu menawarkan ketenangan yang mutlak, namun bagi Arkan, kesunyian malam ini terasa berbeda—ia lebih padat, lebih menuntut, dan dipenuhi oleh desakan rasa rindu yang sudah menumpuk selama tiga bulan terakhir.

Arkan meletakkan pisau rautnya di atas meja. Ia berdiri, meregangkan kedua tangannya ke atas hingga sendi-sendi tubuhnya bergemeretak. Langkah kakinya membawanya mendekati sudut ruangan, tempat sebuah lubang agak besar di atap seng memperlihatkan potongan langit malam secara langsung.

Ia mendongakkan kepala, membiarkan matanya menyesuaikan diri dengan kegelapan sebelum akhirnya menangkap pemandangan yang ia cari. Di sana, membingkai di antara compang-campingnya karat atap seng pondok, bulatan purnama ketiga menggantung megah, memancarkan cahaya putih keperakan yang dingin namun memesona.

"Tiga bulan, Kinan..." bisik Arkan pada angin malam yang menyelinap masuk lewat celah atap.

Bayangan wajah Kinan berkelebat di benaknya—senyum gadis itu saat terakhir kali mereka duduk di tepi dermaga kecil waduk desa, tatapan matanya yang berbinar ketika membicarakan impiannya di kota, dan janji yang mereka ukir bersama di bawah sinaran purnama pertama. Kini, purnama ketiga telah tiba, membawa serta ujian kesabaran yang skalanya kian menghimpit dada.

Arkan mengangkat tangan kanannya, mengarahkan telapak tangannya ke arah celah atap seng, seolah-olah ia sedang berusaha menggapai pendar cahaya bulan yang jatuh menimpa ujung jarinya. Garis-garis cahaya itu membelah telapak tangannya, menciptakan pola bayangan yang unik.

"Apakah kau sedang melihat ke arah yang sama, Kinan?" gumamnya lirih.

Di ujung lain ratusan kilometer jauhnya, di dalam sebuah kamar indekos sempit berlantai dua belas di jantung ibu kota, Kinan tengah duduk bersimpuh di depan jendela kacanya yang menghadap langsung ke arah timur laut. Meskipun pemandangan di luar dipenuhi oleh kerlap-kerlip lampu menara perkantoran dan kabel-kabel listrik yang semrawut, malam ini kebetulan posisi bulan berada tepat di atas celah sempit antara dua gedung pencakar langit pencakar awan.

Kinan mengenakan kemeja longgar milik Arkan yang sengaja ia bawa sebagai pengobat rindu. Ia mendekatkan wajahnya ke kaca jendela yang dingin, menatap bulatan purnama dengan mata berkaca-kaca.

"Arkan..." bisik Kinan nyaris tak terdengar, jemarinya menyentuh permukaan kaca jendela yang berembun karena hawa dingin AC ruangan.

Ia tahu betul apa artinya malam ini. Purnama ketiga. Janji yang mereka ucapkan sebelum ia memutuskan untuk menerima tawaran pekerjaan di kota besar. Meskipun dunia di sekelilingnya berputar dalam kecepatan tinggi yang melelahkan—dengan deru kendaraan bermotor yang tidak pernah berhenti bahkan hingga pukul dua pagi—waktu di dalam hatinya mendadak terhenti setiap kali ia menatap ke arah bulan.

"Aku lelah dengan kota ini, Arkan," keluh Kinan pada pantulan dirinya sendiri di kaca jendela. "Orang-orang di sini berlomba mengejar uang, tapi mereka lupa cara merasakan ketenangan. Di sini, rembulan seolah kehilangan kekuatannya, tertelan oleh cahaya lampu reklame yang rakus."

Namun, di balik keluh kesahnya, Kinan tetap merasakan satu hal yang tidak bisa direbut oleh hiruk-pikuk kota: rasa terhubung yang kuat. Cahaya perak yang menembus celah gedung itu, betapapun tipisnya, terasa sama persis dengan cahaya yang menyinari wajah lelaki yang ditinggalkannya di dusun lereng bukit kapur.

Lihat selengkapnya