Keris Penyebar Maut

Haris Fadilah Hryadi
Chapter #1

KERIS KELABANG SEWU #1

SEJAK dini hari gumpalan awan hitam menggantung di langit. Walaupun sang surya telah menampakkan diri namun karena masih adanya awan hitam itu, suasana kelihatan mendung sekali. Kokok ayam dan kicau burung tidak seriuh seperti biasanya, seolah-olah binatang-binatang itu tidak gembira menyambut kedatangan pagi yang tiada muram itu. Di lereng selatan Gunung Merapi, seorang laki-laki tua yang mengenakan kain serba putih berdiri di depan pondok kediamannya. Janggutnya yang putih panjang hampir menyentuh dada melambai lambai ditiup angin pagi. Orang tua ini menengadah memandang ke langit yang berwarna suram.

"Mendung sekali pagi ini..." katanya dalam hati.

Untuk beberapa lamanya dia masih berdiri di depan pondok itu. Kemudian terdengarlah suaranya berseru memanggil seseorang. "Rana Wulung! Kau kemarilah..."

Meski umurnya hampir mencapai delapan puluh, namun suara yang keluar dari mulut orang tua itu keras lantang dan berwibawa. Sesaat kemudian seorang pemuda berumur sekitar dua puluh tahun tahun muncul dari dalam pondok. Parasnya tampan. Rambutnya yang panjang nampak rapi dengan lilitan ikat kepala berwarna coklat. Dia mengenakan sehelai celana panjang sebatas lutut. Dadanya yang tidak tertutup kelihatan bidang tegap penuh otot-otot.

"Empu memanggil saya...?" pemuda itu bertanya.

 Si orang tua yang bernama Empu Wanabaya, menganggukkan kepalanya. "Keris Kelabang Sewu yang ku buat sudah hampir siap..." berkata orang tua itu.

" Hanya ada beberapa bagian yang harus di pertajam dan masih ada sedikit ritual untuk memohon petunjuk pada Gusti Allah. Di dalam keris itu bersemayam ruh yang masih belum sepenuhnya bisa ditundukkan. Sinar yang keluar dari pamor keris masih berwarna kemerahan”.

“ Mengapa bisa seperti itu Empu?” Rana Wulung bertanya pada Empu Wanabaya.

“ Warna merah menyiratkan sifat panas, berangasan. Akan jadi malapetaka jika sampai jatuh ke tangan orang yang hatinya tidak bersih. Perasaan yang dipenuhi dengan ambisi tetapi tidak diimbangi dengan kerja keras dan doa. Sudah Rana, sekarang pergilah cari kayu-kayu besi kering di lereng Merapi untuk api penempa. Aku khawatir kalau hujan turun kau tak bisa mencari kayu-kayu kering..."

"Persediaan kayu yang saya kumpulkan dua hari yang lalu sudah habis, Empu?" tanya Rana Wulung.

"Ya, sudah habis. Nah, kau pergilah dan cepat kembali."

Rana Wulung segera meninggalkan tempat itu. Tak lama kemudian dia sudah kembali dengan setumpuk kayu-kayu kering di bahu kanannya.

"Bawa terus kedalam Ngger, dan sekalian nyalakan api. Kalau sudah ambilkan Kelabang Sewu dari dalam lemari."

"Baik Empu", sahut Rana Wulung.

Sementara pemuda itu menyalakan api, Empu Wanabaya mengisi sebuah mangkok tanah dengan air bening lalu ditaburi bunga-bunga tujuh rupa. Dari perapian yang telah menyala disiapkannya sebuah perasapan ( semacam cerobong asap kecil ) yang ditaburi dengan setanggi dan kemenyan sehingga suasana di dalam pondok tua itu harum semerbak baunya.

"Kalau Kelabang Sewu sudah siap nanti, berarti kesampaianlah cita-citaku untuk memberikan sumbangan pada Gusti Senopati di Mataram..."

"Aku tak mengerti maksud kata-kata Empu," kata Rana Wulung sambil menyeka butir-butir keringat yang terbit di kulit keningnya akibat panasnya perapian.

Lihat selengkapnya