Sengatan matahari pada pertengahan bulan Mei terasa tanpa ampun, memanggang lapisan aspal lapangan SMA Negeri 1 hingga memunculkan fatamorgana yang membuat udara di atasnya tampak bergelombang. Hari ini adalah hari pelepasan, titik kulminasi bagi siswa kelas dua belas. Dentuman bas dari sistem suara sewaan yang memutar lagu perpisahan melompat ke udara, namun kalah riuh oleh hiruk-pikuk manusia. Isak tangis dramatis, tawa melengking, hingga bunyi decit spidol penanda yang saling menggores di atas kain seragam putih abu-abu mendominasi atmosfer.
Namun, di sudut paling ujung lapangan, tepat di bawah naungan dahan raksasa pohon beringin tua, berdiri seorang pemuda.
Ia tidak menitikkan air mata, tidak menyunggingkan tawa, dan kedua tangannya kosong tanpa menggenggam spidol. Seragam putih abu-abunya tampak sangat steril, tak tersentuh setitik pun noda atau coretan warna-warni layaknya kanvas kosong di tengah pameran seni abstrak.
Namanya Arsa Sagara.
Postur tubuhnya masuk dalam kategori rata-rata. Tingginya berkisar seratus tujuh puluh sentimeter, dengan pigmentasi kulit sawo matang khas remaja laki-laki yang beradaptasi dengan iklim tropis. Namun, terdapat satu hal yang membuat siapa pun enggan mendekat; ekspresi wajahnya. Raut wajahnya sedatar permukaan papan tulis yang baru saja dibersihkan. Sepasang netranya menatap lurus menembus kerumunan, tajam dan jarang berkedip. Aura ketenangan yang memancar dari keberadaannya seolah membawa gelombang dingin yang mampu membekukan udara panas di sekitarnya.
Beberapa meter dari posisinya, sekelompok siswi kelas sepuluh yang sedang sibuk mengarahkan kamera ponsel untuk berswafoto, mencuri-curi pandang ke arah bayangan pohon beringin. Mereka saling berbisik sambil menutupi mulut, membentuk kelompok kecil penuh bisik rahasia.
"Eh, sumpah, liat deh Kak Arsa. Dari tadi dia cuma diam aja di situ," bisik seorang siswi berambut pendek sebahu. Matanya berbinar memancarkan afeksi dan rasa kagum, kendati kedua kakinya tak memiliki keberanian untuk melangkah maju. "Kok dia nggak ikut corat-coret kayak yang lain, ya? Jangan-jangan dia sedih banget karena mau lulus."
Teman di sebelahnya menelan ludah, mengangguk pelan dengan mata yang ikut terpaku pada siluet di kejauhan. "Bisa jadi, sih. Tapi emang Kak Arsa itu dari dulu bawaannya tenang banget, kan? Nggak pernah caper sana-sini atau petakilan kayak cowok-cowok lain. Biarpun dia cuma diem doang, tapi auranya tuh... damage-nya beda banget. Cool parah, anjir."
Bukan hanya para siswi. Bahkan, gerombolan siswa berandalan yang sedang asyik menghisap rokok sembunyi-sembunyi di sudut pagar sekolah, sontak menelan asap mereka saat menyadari arah pandangan Arsa.
"Woi, woi, si Arsa ngeliatin ke arah sini, tuh," tegur salah satu siswa berjaket denim, menyikut keras rusuk temannya. "Tajem bener tatapannya, gila. Kayak mau ngajak ribut aja. Udah ah, cabut aja kita. Males gue cari masalah di hari terakhir."
Mereka pun membubarkan diri secara sistematis. Tidak ada satu entitas pun yang berani melangkah mendekati teritori pohon beringin itu. Seluruh ekosistem sekolah seolah telah menandatangani pakta tak tertulis untuk memberikan ruang mutlak bagi sang Serigala Penyendiri.
Padahal, di balik wajah yang membeku bak patung pualam tersebut, organ otak di dalam tengkorak Arsa sedang beroperasi dengan kecepatan tinggi. Ratusan sinapsis menembakkan sinyal listrik, menjalankan simulasi probabilitas layaknya superkomputer yang sedang merespons krisis.