Kesalahpahaman Mesin Logika

inkaizz
Chapter #2

Chapter 2: SOP dan HRD

Arsa berdiri mematung di depan gerbang besi PT. Sinar Makmur Sejahtera. Pantulan cahaya matahari siang bolong dari dinding kaca gedung yang kusam menyengat retinanya, namun pemuda itu tidak bergeming. Di dalam ruang kognitifnya, sebuah simulasi termodinamika tengah beroperasi secara presisi.

Suhu udara tercatat 33 derajat Celcius. Tingkat kelembapan 65 persen. Berdasarkan pergerakan rotasi bumi dan sudut kemiringan matahari saat ini, bayangan bangunan akan tercipta di sisi kiri gedung dalam kurun waktu tepat 12 menit. Alih-alih langsung melangkah masuk melewati pos satpam, Arsa memilih untuk bersandar diam di bawah sebuah pohon mahoni di seberang jalan. Ia sedang menunda pergerakan. Kalkulasinya sederhana: ia menunggu waktu yang tepat untuk masuk agar paparan panas terminimalisir, demi mencegah kelenjar keringat merusak kemeja putihnya yang baru saja disetrika.

Tepat dua belas menit kemudian, begitu bayangan gedung jatuh menutupi jalur pejalan kaki, ia mulai melangkah masuk.

Ruang tunggu HRD di pabrik perakitan komponen elektronik itu terasa lebih mirip oven pemanggang daripada ruang kantor. Mesin pendingin ruangan di sudut atas lebih banyak mengeluarkan derak mekanis ketimbang embusan udara dingin. Cat dinding yang dulunya berwarna krem kini memudar, menyisakan noda-noda kecokelatan di beberapa sudut akibat rembesan air hujan.

Arsa duduk di bangku panjang berlapis kulit imitasi yang sudah pecah-pecah, diapit oleh para pelamar kerja lainnya. Empat kandidat di sekitarnya menunjukkan gelagat cemas yang berlebih. Di sebelah kanannya, seorang pemuda dengan name tag 'Rian' terus menggerak-gerakkan kakinya ke lantai karena gugup.

Arsa melirik kaki Rian sejenak, mengobservasi pergerakannya. Frekuensi ketukan sepatu: 120 ketukan per menit. Pemborosan energi kinetik yang dipicu oleh hormon kortisol.

Mengabaikan kecemasan di sekitarnya, Arsa duduk dengan postur yang tidak biasa. Punggungnya ditarik tegak lurus sempurna, membentuk sudut 90 derajat dengan sandaran kursi. Kedua tangannya bertumpu rata di atas paha. Ia sengaja mengunci sendi-sendinya untuk menghemat energi basal, sekaligus menjaga agar sirkulasi udara di balik kemejanya tetap optimal sehingga suhu tubuhnya tidak meningkat. Ia bahkan seolah bernapas dalam ritme lambat yang sudah diprogram.

"Arsa Sagara, silakan masuk," panggil sebuah suara dari balik pintu kayu kelabu.

Arsa bangkit seketika. Gerakannya terukur, tanpa tenaga berlebih, meninggalkan kandidat lain yang menelan ludah melihat betapa dingin dan fokusnya pemuda itu.

Ruangan wawancara itu sempit dan beraroma kopi instan yang tajam. Di balik meja kayu besar yang dipenuhi tumpukan berkas, duduk seorang pria paruh baya bertubuh tambun. Namanya Pak Budi, Manajer HRD yang terkenal gemar menekan calon karyawan baru lulusan SMA agar mau dibayar serendah mungkin.

"Duduk," perintah Pak Budi tanpa menatap Arsa, matanya masih sibuk membolak-balik kertas Curriculum Vitae yang fotokopiannya agak buram.

Arsa menarik kursi dan duduk tanpa banyak gerakan sia-sia sebelum memberikan respons singkat. “Terima kasih, Pak.”

Pak Budi akhirnya mengangkat wajah. Ia bersiap memberikan tatapan intimidasi andalannya yang biasa membuat mental anak-anak baru lulus SMA menciut. Namun, tatapannya justru bertabrakan dengan sepasang mata gelap yang menatapnya lurus, tanpa berkedip, dengan tatapan sedingin es.

Pak Budi sedikit tersentak. Anak ini... kenapa tidak menunduk? batinnya heran. Biasanya, pelamar seusianya akan gelisah, menghindari kontak mata, atau tersenyum canggung ketika bertatapan dengannya. Tapi, pemuda di depannya ini menatapnya seolah ia hanyalah sebuah objek dua dimensi.

Jeda canggung mengudara selama lima detik penuh. Arsa diam karena menurut efisiensi komunikasi, pihak yang dipanggil harus menunggu instruksi pihak pemanggil. Sedangkan Pak Budi, diam karena entah mengapa merasa sedang dihakimi.

Lihat selengkapnya