Arsa mendorong pintu kaca minimarket "SapaMart" tepat pada pukul 14.45. Lonceng mekanis di atas kusen pintu bergemerincing ceria, menciptakan kontras yang tajam dengan hawa panas dari aspal jalanan yang baru saja ia tinggalkan. Embusan angin sejuk dari pendingin ruangan seketika menyapu wajahnya, menurunkan suhu permukaan kulitnya dalam hitungan detik.
Tingkat efisiensi pendingin ruangan: optimal. Dengan suhu serendah ini pada jam terpanas, biaya operasional listrik pasti memakan setidaknya tiga puluh persen dari total pengeluaran harian toko, batin Arsa. Otaknya secara otomatis mengkalkulasi neraca pengeluaran tempat itu sebelum ia bahkan memikirkan tujuan utamanya datang ke sana.
Kondisi minimarket sore itu terbilang lengang. Hanya ada dua orang ibu rumah tangga yang sedang berdiskusi pelan sambil memilah sayuran layu di sudut rak segar, dan seorang kasir remaja yang tampak bosan setengah mati di balik meja mesin kasir. Jari-jari kasir itu sibuk mengetuk layar ponselnya, mengabaikan kondisi sekeliling.
Arsa mengatur posturnya dan melangkah menuju meja kasir. Langkahnya tegap, terukur, dan tidak mengeluarkan suara gesekan sepatu. Wajahnya sedatar biasanya.
"Permisi," sapa Arsa. Suaranya jernih, datar, dan memiliki artikulasi yang sangat rapi. "Saya melihat selebaran lowongan pekerjaan yang tertempel di kaca depan. Apakah memungkinkan bagi saya untuk berbicara langsung dengan Kepala Toko?"
Kasir remaja itu mendongak perlahan, meraup napas bersiap untuk memberikan jawaban ketus karena aktivitas bermain ponselnya diinterupsi. Namun, begitu matanya menangkap ekspresi wajah Arsa yang luar biasa dingin serta tatapan matanya yang menembus tajam layaknya pemindai laser, nyali kasir itu mendadak ciut. Ia buru-buru mematikan layar ponsel dan menyembunyikannya ke dalam saku apron.
"B-bisa, Mas. Kebetulan Pak Anton, Kepala Toko di sini, ada di ruang belakang. Sebentar saya panggilkan," jawab si kasir dengan nada bicara yang tiba-tiba menjadi sopan dan sedikit gugup. Ia lalu setengah berlari meninggalkan meja kasir menuju pintu gudang.
Sekitar lima menit berselang, pintu gudang berderit terbuka. Keluarlah seorang pria paruh baya berkumis tebal dengan kemeja seragam yang lengannya digulung hingga siku. Pria itu, Pak Anton, tampak lelah dan menyeka peluh di lehernya. Raut wajahnya memancarkan rasa jengkel yang tidak ditutupi karena jam istirahat sorenya diganggu.
"Ya, ada apa? Mau melamar kerja?" tanya Pak Anton tanpa basa-basi, menatap penampilan Arsa dari ujung rambut hingga ujung sepatu dengan tatapan menilai.
"Benar, Pak. Nama saya Arsa Sagara," jawab Arsa. Tangan kanannya bergerak efisien menyodorkan map plastik berisi sisa fotokopi dokumen dari pabrik sebelumnya.
Pak Anton menerima map itu sekilas, bahkan tidak repot-repot membuka sampulnya untuk membaca isinya. Ia mendengus pelan. "Pengalaman kerja?"
"Tidak ada. Saya baru lulus SMA minggu lalu," jawab Arsa jujur, sama sekali tidak menggunakan intonasi memelas yang biasanya dipakai oleh para pelamar kerja.
Pak Anton kembali mendengus, kali ini dengan nada meremehkan. "Baru lulus? Asal kamu tahu saja, kerja di minimarket itu kelihatannya emang gampang, cuma berdiri di mesin kasir. Tapi, aslinya berat. Harus display barang, bongkar muat kargo dari supplier, mengepel lantai, belum lagi kalau ada komplain pelanggan yang bawel. Mental anak baru lulus biasanya belum kuat untuk kerja di sini."
Penilaian subjektif tanpa landasan data kuantitatif yang kuat, otak Arsa langsung menganalisis pernyataan tersebut. Ia menggunakan stereotip demografi umur sebagai instrumen untuk merendahkan posisi tawar pelamar.
"Coba begini saja," lanjut Pak Anton, mengangkat pergelangan tangannya untuk melirik jam. "Kebetulan, anak shift siang ada yang izin absen. Kamu trial dulu satu jam di sini. Tugasmu menyusun minuman kaleng di rak pendingin nomor empat. Kalau kerjamu cepat dan rapi, lamaran kamu saya pertimbangkan. Tapi, kalau lelet, kamu bisa langsung pulang saja. Bagaimana?"
Di dalam kepalanya, matriks risiko kembali berputar. Satu jam. Mengorbankan sisa kalori untuk aktivitas fisik tanpa adanya kepastian kompensasi finansial adalah bentuk investasi yang berisiko. Namun, jika efisiensi kerjaku terbukti secara empiris, probabilitas untuk mendapatkan penghasilan tetap akan bereskalasi menjadi delapan puluh persen.
"Baik, Pak. Saya akan mengalokasikan waktu tersebut untuk percobaan ini," jawab Arsa datar, menyetujui kontrak tak tertulis itu.
"Jas, tolong kasih dia apron training dan bawa ke rak empat," perintah Pak Anton pada kasir remaja tadi. Setelah memberikan instruksi singkat, Kepala Toko itu berbalik dan kembali menghilang di balik pintu gudang.
Beberapa menit kemudian, Arsa sudah berdiri tegak di depan rak pendingin nomor empat. Di lantai dekat kakinya, terdapat dua keranjang plastik berukuran besar yang berisi puluhan kaleng minuman bersoda dari berbagai merek. Tugasnya adalah memindahkan seluruh kaleng itu ke dalam rak, mengisi kekosongan produk yang sudah mulai menipis.
Bagi orang awam, ini hanyalah pekerjaan kasar yang membosankan. Namun, di mata Arsa, ini adalah sebuah studi kasus mengenai manajemen inventaris.
Objek material: silinder aluminium. Dimensi rak pendingin: lebar 90 sentimeter, kedalaman 40 sentimeter. Satu baris memuat kompartemen yang pas untuk tepat enam kaleng. Strategi First In, First Out (FIFO) harus diaplikasikan secara presisi untuk mempertahankan siklus perputaran stok pada kondisi optimal.
Arsa mulai bekerja.
Gerakan tubuhnya tidak terlihat terburu-buru, namun sangat mekanis, mengalir, dan presisi. Tangan kirinya menarik kaleng stok lama ke barisan depan, sementara tangan kanannya menyelipkan kaleng stok baru di barisan paling belakang.
Setiap kaleng ia putar sedemikian rupa hingga semua label merek menghadap lurus ke depan dengan kemiringan nol derajat. Jarak antar kaleng disesuaikan hingga sama rata secara matematis.