Kesalahpahaman Mesin Logika

inkaizz
Chapter #4

Chapter 4: Secarik Brosur

Perjalanan pulang dari minimarket sore itu terasa sedikit lebih ringan dari. Beban di dalam benaknya berkurang setelah ia membelanjakan sebagian kecil uang dari amplop cokelat pemberian Pak Anton. Di dalam kantong kresek hitam yang ditentengnya, terdapat satu setengah liter beras, seperempat kilogram telur ayam, dan satu ikat sayur bayam segar.

Sisa saldo: dua puluh tiga ribu lima ratus rupiah. Alokasi dana ini cukup untuk cadangan biaya transportasi selama tiga hari ke depan, dengan asumsi aku tidak menemukan pekerjaan di radius yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki, batin Arsa, seraya menapaki aspal pinggiran kota yang permukaannya mulai retak-retak.

Angin sore berembus cukup kencang, membawa partikel debu di udara dan menerbangkan berbagai macam sampah kertas dari trotoar jalan. Di tengah langkahnya yang tenang, selembar kertas brosur lecek berwarna kuning terang melayang rendah, lalu secara tak terduga menabrak dan menempel pada ujung sepatu kets Arsa yang sol karetnya sudah mulai menipis.

Arsa menghentikan langkah kakinya sejenak. Biasanya, ia bukanlah tipe individu yang peduli pada sampah jalanan. Namun, deretan angka tebal yang tercetak mencolok pada kertas kuning tersebut secara otomatis ditangkap oleh retina matanya.

"MAGANG KE JEPANG (KENSHUSEI)! GAJI AWAL HINGGA 120.000 YEN/BULAN!"

Arsa membungkukkan badan, mengulurkan tangan kanannya untuk memungut brosur yang permukaannya sedikit kotor oleh noda tanah dan kembali berdiri tegak. Ia menatap angka '120.000 Yen' itu dalam diam yang cukup lama.

Seratus dua puluh ribu Yen, mesin konversi di dalam kepalanya langsung menyala otomatis. Jika dikonversi dengan nilai tukar kurs saat ini yang estimasinya berada di angka seratus sepuluh rupiah per Yen... Hasil perkalian: Tiga belas juta dua ratus ribu rupiah per bulan. Ia tidak menunjukkan reaksi berlebihan—tidak ada pelebaran pupil karena harapan semu, tidak ada helaan napas takjub, apalagi senyum antusias. Ia melipat brosur kuning itu menjadi bentuk kotak kecil secara presisi, lalu menyimpannya ke dalam saku kemejanya. Ia hanya mengklasifikasikan data tersebut ke dalam otaknya sebagai salah satu 'opsi variabel' yang akan dianalisis lebih lanjut nanti.

Setelah berjalan cukup jauh, Arsa memasuki sebuah gang sempit yang padat penduduk. Ia berbelok dua kali melewati deretan rumah yang berdempetan, hingga tiba di depan sebuah rumah petak kecil berpintu kayu yang tampak usang. Cat dinding depannya yang dulu berwarna hijau, kini telah memudar menjadi kuning kecokelatan dan mengelupas parah di beberapa sudut akibat cuaca.

Arsa memutar kenop dan mendorong pintu itu pelan-pelan, mengkalkulasi tekanan tangannya agar engsel logam yang sudah berkarat itu tidak menghasilkan bunyi decit gesekan yang mengganggu.

Suhu udara di dalam rumah itu terasa lebih pengap, menguarkan perpaduan aroma kapur barus tua dan tumpukan kain perca. Suara deru mesin jahit yang biasanya mendominasi frekuensi ruangan kini tidak terdengar, digantikan oleh derit putaran kipas angin tua yang leher plastiknya sudah rusak sehingga tidak bisa menoleh.

Kreek... kreek... kreek...

Di sudut ruangan sempit yang difungsikan sebagai ruang tamu sekaligus ruang kerja itu, seorang wanita paruh baya tertidur pulas di atas kursi rotan yang anyamannya mulai longgar. Itu adalah ibunya, Bu Nila.

Kepala ibunya bersandar miring dalam posisi yang tampak tidak nyaman. Kacamata baca berlensa tebal masih bertengger di pangkal hidungnya yang dipenuhi peluh tipis. Tangan kanannya terkulai lemah sambil menggenggam sepotong kain pesanan pelanggan yang jahitannya belum selesai. Kantung di bawah matanya tampak menghitam dan cekung—jejak kelelahan yang telah menumpuk perlahan selama bertahun-tahun.

Langkah kaki Arsa terhenti. Ekspresi datarnya tidak berubah, namun untuk sepersekian detik, intensitas tatapan matanya melembut, sebuah anomali kecil dalam sistemnya.

Lihat selengkapnya