Kantor LPK "Cahaya Sakura" menempati unit ruko dua lantai di tepi jalan raya yang dimana tingkat polusi suara dan udaranya cukup tinggi. Permukaan kaca depannya dipenuhi stiker bunga sakura berukuran besar berwarna merah muda mencolok, bersanding dengan deretan potret pemuda-pemudi Indonesia yang sedang tersenyum lebar berlatar belakang Gunung Fuji. Di bawah foto-foto yang tingkat saturasi warnanya terlalu berlebihan itu, tertulis sebuah slogan dengan huruf kapital tebal: Raih Masa Depan Cerahmu di Negeri Matahari Terbit!
Arsa berdiri mematung di depan pintu kaca tersebut tepat pada pukul 08.00 pagi. Ia sengaja mengeliminasi jadwal sarapannya pagi demi menghemat pengeluaran harian.
Di dalam kepalanya, sistem biologisnya sedang menghitung sisa bahan bakar tubuh. Asupan karbohidrat dari makan malam kemarin telah terkonversi menjadi cadangan glikogen. Berdasarkan kalkulasi tingkat metabolisme basal, aku masih memiliki cukup energi kinetik dan fokus kognitif untuk melakukan proses negosiasi selama maksimal satu jam dua puluh menit, sebelum kadar gula darahku menyentuh ambang batas krisis yang memicu penurunan fungsi otak.
Setelah memastikan perhitungan waktunya, Arsa mendorong pintu kaca itu. Lonceng kuningan di atas kusen bergemerincing nyaring, memecah kesunyian lobi ruko yang berhawa sejuk.
Di balik meja receptionist berbentuk huruf L, seorang pria berkemeja rapi dengan dasi yang simpulnya agak dilonggarkan sedang sibuk mengetik di papan ketik komputernya. Papan nama akrilik di dadanya bertuliskan 'Deni - Staf Perekrutan'. Mendengar suara lonceng, Pak Deni mendongak. Sepasang matanya yang tajam bak elang pemangsa langsung memindai penampilan Arsa dari atas ke bawah: kemeja putih lungsuran yang kerahnya mulai berbulu halus, celana bahan kain murahan yang potongannya tidak simetris, dan sepasang sepatu kets kanvas pudar yang sol karetnya jelas-jelas ditambal menggunakan lem Alteco.
Mangsa empuk, batin Pak Deni, seulas senyum simpul yang sarat akan kalkulasi bisnis langsung mengembang di wajahnya. Tipikal pemuda miskin yang sedang putus asa. Tipe yang seperti ini biasanya rela menandatangani surat utang puluhan juta rupiah asal bisa segera diterbangkan ke jepang
"Selamat pagi, Dik! Ada yang bisa saya bantu? Mau daftar program Kenshusei ke Jepang?" sapa Pak Deni. Intonasi suaranya memancarkan keramahan yang terlalu dibuat-buat.
Tanpa merespons sapaan basa-basi itu, Arsa berjalan mendekat. Ia menarik sebuah kursi plastik di seberang meja dan duduk dengan postur tegak lurus tanpa menunggu dipersilakan. Gerakannya sangat efisien, tanpa keraguan sedikit pun.
"Benar. Saya menemukan selebaran brosur dari lembaga ini," suara Arsa mengalun jernih, namun sepenuhnya datar dan tampa emosi. Tangan kanannya merogoh saku, mengeluarkan selembar brosur lusuh berwarna kuning yang telah dilipat presisi, lalu meletakkannya di atas meja kaca. "Saya datang untuk mengetahui rincian biaya penempatannya."
Pak Deni tertawa kecil, sebuah tawa meremehkan yang disamarkan dengan baik. Ia membuka laci, mengeluarkan sebuah map tebal yang berisi kumpulan foto alumni, gambar pabrik, dan tabel estimasi gaji. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menginvasi ruang personal Arsa dengan teknik intimidasi persuasif.
"Wah, kebetulan sekali, Dik! Bulan depan akan ada tes wawancara langsung dari perwakilan pabrik spare-part mobil dari Prefektur Aichi. Gajinya luar biasa besar. Seratus dua puluh ribu Yen bersih per bulan!" Pak Deni mengetuk-ngetuk tabel gaji di brosur itu dengan telunjuknya. "Coba bayangkan, Dik. Dengan uang segitu, Dik Arsa bisa beli motor sport secara tunai waktu pulang nanti. Bisa merenovasi rumah. Bisa bikin bangga orang tua di kampung!"
Pak Deni sengaja menjeda rentetan kalimat provokatifnya. Ia menunggu reaksi yang selalu ia dapatkan dari calon pelamar lain: sepasang mata yang berbinar penuh harapan, decak kagum, atau setidaknya senyuman antusias.
Namun, Arsa hanya diam. Sepasang netranya yang segelap obsidian menatap lurus ke wajah Pak Deni selama tiga detik penuh tanpa berkedip sama sekali, membuat pria paruh baya itu mendadak merasa salah tingkah dan harus berdeham untuk menutupi kecanggungannya.
"Nominal seratus dua puluh ribu Yen tersebut adalah hasil akhirnya," ucap Arsa akhirnya, memecah kesunyian dengan artikulasi sekaku pembaca berita. "Saya tidak membutuhkan motivasi yang berbasis hasil akhir. Saya membutuhkan transparansi rincian biaya. Berapa total biaya yang harus saya keluarkan mulai dari tahap pendaftaran awal hingga saya mendarat di Bandara Narita?"
Senyum di wajah Pak Deni sedikit memudar, sudut bibirnya berkedut menahan kesal. Anak ini rupanya tidak bisa dibuai dengan narasi mimpi, batinnya. Namun, itu tidak masalah. Ia sudah memakan asam garam menghadapi berbagai tipe pelamar yang kritis. Dengan gerakan cepat, ia kembali merogoh laci mejanya dan menyodorkan selembar kertas HVS yang berisi tabel deretan biaya administrasi.
"Ini rinciannya," kata Pak Deni sambil menggeser kertas itu melintasi meja. "Total biaya pendidikan bahasa, asrama, tiket pesawat, asuransi, dan biaya administrasi pengurusan dokumen adalah empat puluh dua juta rupiah. Tapi jangan khawatir, Dik! LPK kami bekerja sama dengan bank dan koperasi. Adik bisa berangkat dulu, lalu mencicilnya nanti setelah bekerja di Jepang lewat sistem potong gaji bulanan. Sangat mudah dan meringankan, bukan?"
Mata Arsa langsung terkunci pada angka Rp. 42.000.000 yang dicetak tebal di bagian bawah kertas HVS tersebut.