Kesalahpahaman Mesin Logika

inkaizz
Chapter #6

Chapter 6: Senyum Uncanny Valley

Ruang kelas di LPK Cahaya Sakura tidak lebih dari sebuah garasi berukuran luas yang dialihfungsikan. Penyekat triplek tipis di sekelilingnya gagal meredam bising lalu lintas jalan raya, dan seakan kapasitas ruangan itu dipaksakan untuk menampung tiga puluh kursi.

Udara di dalam sana terasa sangat pengap, tersaturasi oleh karbon dioksida dari embusan napas dan uap keringat puluhan calon pemagang yang sedang berjuang keras menjejalkan huruf-huruf asing ke dalam otak mereka.

Di depan papan tulis putih yang permukaannya sudah nyaris penuh oleh coretan aksara Hiragana dan Katakana, berdiri Kimura-sensei. Ia adalah seorang pria Jepang berusia pertengahan empat puluhan yang didatangkan langsung dari Tokyo sebagai instruktur tamu. Kimura-sensei memiliki pembawaan khas instruktur Jepang: energik, menjunjung tinggi kedisiplinan, dan perfeksionis dalam urusan tata krama.

"Mina-san! Egao! Senyum!" Kimura-sensei bertepuk tangan dua kali dengan keras, suaranya menggema memantul di dinding garasi. "Di Jepang, Jikoshoukai atau perkenalan diri adalah senjata utama kalian! Perusahaan dan pabrik di sana tidak terlalu peduli kalau tata bahasa Jepang kalian masih kaku. Yang pertama kali mereka nilai adalah Genki (semangat) dan Egao (senyum)! Kalau wajah kalian suram, kalian akan langsung ditolak! Mengerti?!"

"Haii, wakarimashita! (Baik, kami mengerti!)" sahut tiga puluh siswa di ruangan itu secara serempak, menggelegar penuh semangat.

Masing-masing siswa segera mempraktikkan instruksi tersebut dengan teman sebangkunya. Mereka membungkuk kaku berkali-kali, memaksakan senyum selebar mungkin hingga pipi mereka pegal, sambil berteriak, "Hajimemashite!".

Di tengah riuh suara salam dan tawa canggung itu, Arsa justru duduk bersila tegak di atas kursi lipatnya. Ia tidak ikut berteriak. Wajahnya menunduk tenang menatap buku catatan yang dipenuhi dengan guratan rapi huruf kanji.

Di dalam pikirannya, bukan kobaran semangat yang sedang menyala, melainkan proses komputasi yang terus mencari hasil paling efisien..

Kalimat 'Watashi wa Indonesia kara kimashita' terdiri atas lima belas suku kata, batin Arsa, sepasang matanya bergerak cepat dan konstan menyusuri deretan huruf di atas kertas. Jika direproduksi secara vokal dengan kecepatan normal, proses tersebut membutuhkan durasi 2,5 detik dan mengonsumsi sekitar 0,5 liter kapasitas oksigen dari paru-paru. Mempertimbangkan suhu termal kelas yang tidak ideal ini, berteriak seperti instruksi Sensei hanya akan memicu peningkatan denyut jantung dan menguras cadangan glukosa terlalu cepat.

Kesimpulan: Nada suara harus dijaga tetap datar dengan volume minimum yang masih dapat diterima pendengaran lawan bicara.

Arsa juga tidak memikirkan soal senyuman. Baginya, senyum tidak lebih dari gerakan otot wajah yang tidak memberikan kontribusi langsung terhadap kejelasan pelafalan bahasa Jepang.

Di saat yang bersamaan, Kimura-sensei sedang berpatroli berkeliling kelas seperti seorang jenderal yang menginspeksi barisan pasukannya. Ia memperbaiki postur membungkuk beberapa siswa. Namun, saat ia melangkah mendekati barisan belakang, matanya yang tajam langsung mengunci siluet Arsa.

Sejak minggu pertama kelas dimulai, Kimura-sensei sebenarnya sudah menandai pemuda ini di dalam kepalanya. Arsa tidak pernah membuat keonaran, nilai ujian tulisnya selalu konstan di atas rata-rata, dan tidak pernah membolos. Namun, ekspresi wajah pemuda itu nyaris tidak pernah berubah. Tidak ada emosi. Tidak ada Genki.

"Sagara-san!" tegur Kimura-sensei tajam, menghentikan langkahnya tepat di depan meja Arsa.

Suara berat Kimura-sensei membuat suasana di sudut kelas mendadak hening. Beberapa siswa yang duduk berdekatan mulai melirik dengan tegang, menahan napas menunggu reaksi.

Arsa mendongak pelan, mengatur sudut pergerakan lehernya secara efisien. Sepasang matanya yang segelap obsidian menatap lurus ke arah sang pengajar. "Hai, Sensei."

"Wajahmu terlalu menakutkan!" kritik Kimura-sensei sambil berkacak pinggang, menatap tajam wajah tanpa ekspresi di depannya. "Coba lakukan perkenalan diri sekarang juga di depan saya. Saya ingin melihat senyummu. Tarik ujung bibirmu ke atas! Tunjukkan ekspresi yang lebih ramah!”

Lihat selengkapnya