Kesayangan Mafia Rusia

Titah Kesumawardani
Chapter #1

Kecelakaan yang Mengubah Segalanya

Maria Ivanovna Fedorova—nama lengkap gadis yang akrab disapa Maria itu—dibesarkan di sebuah panti asuhan. Begitu lulus sekolah, ia memberanikan diri merantau ke kota besar, bertekad bekerja keras demi membantu Ibu Panti membiayai adik-adiknya. Bagi Maria, seluruh anak di panti itu adalah keluarga kandungnya sendiri.

Di dalam panti, ia adalah kakak teladan yang disayangi semua orang. Namun di luar sana, nasibnya sungguh berbeda. Maria kerap dianggap gadis pembawa sial, sering diejek teman sekolah, dan tak jarang menjadi sasaran perundungan.

Meski begitu, ia tak pernah sekalipun mengeluh atau menceritakan semuanya pada Ibu Panti. Maria tumbuh menjadi gadis yang tangguh, dan itulah yang membuat Ibu Panti serta adik-adiknya begitu bangga padanya.

Pagi ini, Maria kembali menjalani rutinitasnya. Ia bekerja di salah satu hotel termewah di kota itu.

Ia menatap jalanan yang biasanya ia lalui, kini padat merayap. Kerumunan orang dan kemacetan panjang membuatnya yakin akan terlambat sampai di tempat kerja.

"Aduh... kenapa tiba-tiba bulu kudukku berdiri semua ya?" gumamnya sambil melirik waspada ke kanan dan kiri.

Jalanan itu terasa begitu sunyi. Memang jalur ini jarang dilewati siapa pun, karena di sekelilingnya hanya tertutup hutan lebat. Tak ada satu pun rumah penduduk, hanya deretan pepohonan yang menjulang tinggi sepanjang jalan.

"Benar juga ya, hari sial itu memang tak pernah tertulis di kalender," gumamnya pelan, napasnya mulai memburu di tengah keheningan yang mencekam itu.

Saat ia hendak membelokkan motornya, tiba-tiba sesosok tubuh muncul dengan cepat dari balik rimbunnya pepohonan.

"Awas!" serunya panik, tangan segera menekan tuas rem sekuat tenaga.

Ban motor terpeleset, tubuhnya terhuyung tak terkendali, sebelum akhirnya terhempas tepat di depan sosok pria itu. Jantungnya berdegup liar seolah mau copot.

Brak!

"Aduh!"

Maria langsung tersadar: ia baru saja hampir menabrak seseorang. Rasa takut dan curiga langsung menyergap pikirannya. Kenapa ada orang yang muncul tiba-tiba di tempat terpencil seperti ini? Sepertinya, hari sialnya belum usai.

Matanya terpaku pada pria yang kini tergeletak tak bergerak di depan motornya. Pakaian pria itu basah kuyup, dan darah segar mulai menggenangi aspal di sekeliling tubuhnya—darah yang pasti berasal dari pria itu.

"Astaga... Aku menabrak orang," batinnya, dada tiba-tiba terasa sesak menahan panik.


Hatinya bergetar hebat, diliputi kepanikan yang bercampur rasa bersalah yang memuncak. Tanpa mempedulikan lututnya yang terluka, Maria langsung berlari menghampiri pria itu.

"Hei... Kamu baik-baik saja?" tanyanya dengan suara bergetar, berharap ada jawaban—tanda bahwa pria itu masih bernyawa.

Namun keheningan tetap menyelimuti, terasa begitu mencekam. "Apakah dia sudah meninggal?" batinnya, sekuat tenaga menolak kenyataan yang perlahan mencekiknya.

Napasnya terasa sesak, setiap detik yang berlalu seolah menyeretnya ke dalam jurang ketakutan yang semakin dalam.

"Aku harus melakukan sesuatu... tapi apa yang bisa kulakukan sekarang?!"

Dengan jantung yang berpacu liar, Maria memberanikan diri mengecek kondisi pria itu. Ia mendekatkan jari ke pangkal hidungnya.

"Syukurlah... dia masih hidup." Rasa lega sedikit menyelinap di dada Maria saat merasakan hembusan napas lemah dari sana.

Ia segera merogoh ponsel untuk menghubungi ambulans. Namun tepat saat ia hendak menekan nomor darurat, tiba-tiba tangan besar pria itu menahan pergerakannya.

"J—jangan bawa aku ke rumah sakit... Bawa aku ke rumahmu," ucapnya dengan suara parau dan lemah.

Maria terbelalak kaget hingga ponselnya terlepas dari genggaman, jatuh ke aspal.

Pikirannya berputar cepat. Ia menatap pria itu dengan curiga—bisa saja ini hanya modus, atau pria ini adalah penjahat seperti begal yang menunggu korbannya lengah.

"Kau cuma cari alasan, kan?" Maria mundur beberapa langkah menjaga jarak. "Jangan harap aku percaya pada penipu murahan sepertimu!"

Namun pria itu justru menahan pergelangan tangannya dengan sisa tenaga yang ada. "T—tolong... selamatkan aku," lirihnya lemah. Satu tangannya menekan kuat perutnya yang terluka, sementara darah terus merembes membasahi jas hitam yang ia kenakan.

Lihat selengkapnya