Jauh dari kota tempat Maria tinggal, dunia sedang diguncang kabar tentang kecelakaan yang menimpa satu-satunya pewaris tunggal Klan Kuznetsov—pemimpin mafia paling ditakuti di benua Eropa.
Berita hilangnya pewaris itu menggemparkan seluruh dunia. Semua media menyoroti peristiwa ini, bahkan setiap halaman koran yang beredar penuh memuat berita tersebut.
Di gedung pusat perusahaan Kuznetsov, suasana rapat terasa begitu mencekam.
"Bagaimana ini? Hingga saat ini Tuan Andreevich belum ditemukan. Jika posisi CEO terus kosong, pasar saham akan anjlok drastis," ucap salah satu investor dengan cemas.
"Benar. Jika terus begini, perusahaan ini bisa saja runtuh," timpal yang lain.
"Kalau Tuan Andreevich tak kunjung kembali dalam tiga hari ke depan, terpaksa Tuan Oleg Romanovich Volkov harus mengambil alih posisi tersebut."
"Nyonya Svetlana, Anda harus segera mengambil keputusan jika tak ingin perusahaan ini bangkrut!"
Nyonya Svetlana Kuznetsov—ibu kandung Vladimir Andreevich Kuznetsov—menatap tajam ke arah mereka.
"Putraku baru hilang dua hari, dan kalian sudah tak sabar berebut kursi penggantinya?" sahutnya dingin namun berwibawa.
Seluruh ruangan seketika hening, semua orang menunduk tak berani menatap wajahnya.
Nyonya Svetlana sungguh pusing mendengar tuntutan para pemegang saham. Kondisi perusahaan memang sedang dalam situasi darurat, namun ia yakin sepenuhnya putranya masih hidup dan akan segera pulang.
"Berikan waktu tiga hari. Jika saat itu putraku belum kembali, sayalah yang akan menentukan siapa sosok yang pantas menduduki posisi CEO," ucapnya tegas, sebelum berbalik dan meninggalkan ruang rapat.
Di sudut ruangan, Oleg Romanovich Volkov—sepupu Vladimir—menatap kepergiannya dengan tatapan tajam.
"Perempuan tua itu sungguh sulit ditekuk," gerutunya pelan dengan nada geram.
Seketika senyum licik tersungging di bibirnya. "Kita lihat saja nanti. Seberapa kuat pun kau mempertahankannya, cepat atau lambat posisi itu pasti akan jatuh ke tanganku."
Sesampainya di luar ruangan, Nyonya Svetlana langsung memberi perintah tegas.
"Perluas jangkauan pencarian! Kerahkan semua pasukan yang kita miliki untuk menemukan putraku!"
"Baik, Nyonya."
"Andreevich... di mana kamu, Nak? Mama yakin kamu masih hidup. Kamu tak mungkin meninggalkan Mama sendirian. Segeralah pulang, sayang."
Kakinya tiba-tiba lemas, tubuhnya hampir terjungkal jatuh—untung saja asisten pribadinya segera menahan tubuhnya.
"Nyonya, Anda baik-baik saja?" tanya Tisa cemas sambil memapahnya. "Wajah Anda sangat pucat. Haruskah kita segera ke rumah sakit?"
Nyonya Svetlana menggeleng pelan. "Tidak perlu... bawa aku pulang saja."
Tisa pun menurut, mengandeng erat tangan tuannya.
Kesehatan Nyonya Svetlana memang terus menurun belakangan ini. Ia tak pernah tenang beristirahat, bahkan lupa makan dan minum, semua karena terlalu cemas memikirkan nasib putra semata wayangnya.
*
*
Kini Maria sudah tiba di rumah kontrakannya. Ia segera membaringkan tubuh pria itu di atas tempat tidur sempit miliknya.
Dengan tangan yang masih ragu, ia mulai membuka kancing jas dan kemeja pria itu satu per satu.
"Waduh... badannya bagus banget," celetuknya tanpa sadar.
Maria terpaku di tempat, matanya tak berkedip menatap sosok di hadapannya. Dada bidang berotot, perut berlekuk kotak sempurna—pemandangan yang tak pernah ia sangka bisa dilihat secara langsung.
"Apa-apaan ini, Maria? Fokus!" Ia menepuk pipinya sendiri pelan, berusaha menghapus kekaguman bodoh yang tiba-tiba menyergapnya.
Segera ia meraih kotak P3K di meja samping, tangannya masih sedikit gemetar.
Saat mulai membersihkan luka, ingatannya melayang sejenak.
"Dulu aku pernah menjadi asisten dokter, kan? Harusnya aku bisa lebih tenang dan sigap dari ini."
Sedikit kepercayaan diri itu kembali menguatkan hatinya, meski jantungnya masih berdegup tak menentu.
Ia dengan teliti menutup luka dengan perban, lalu mengelap noda darah yang mengering di wajah tampan itu.
"Pengalamanku dulu ternyata tak sia-sia," bisiknya pelan setelah semua selesai.
Maria pun beranjak keluar kamar, membiarkan pria itu beristirahat.
"Hahh... capek sekali. Benar-benar hari terburuk dalam hidupku," keluhnya saat menutup pintu kamar.
"Gara-gara dia aku bolos kerja. Pasti besok aku kena omel lagi," ia menghela napas panjang.
Sebelum ke dapur, ia memesan obat-obatan tambahan lewat layanan antar dari apotek langganannya.
Waktu berlalu begitu cepat. Jarum jam kini menunjukkan pukul setengah sepuluh malam.
Perlahan pria itu membuka matanya. Ia memegangi kepalanya yang masih terasa pening hebat.
Pandangannya menyapu sekeliling ruangan asing ini. Perlahan ingatannya kembali—termasuk sosok gadis yang telah menyelamatkan nyawanya, dan sentuhan di bibirnya tadi.
Ia menyentuh bibirnya sendiri dengan ibu jari, lalu senyum tipis terukir di wajahnya.
"Berani sekali gadis itu," gumamnya pelan.
Ia segera bangkit dari tempat tidur dan meraih ponselnya. Dengan cepat ia menekan nomor orang kepercayaannya.
Panggilan tersambung seketika.
"Tuan? Apakah Anda baik-baik saja?" suara cemas terdengar dari seberang.
"Hm," jawabnya singkat.
Terdengar helaan napas lega di sana. "Syukurlah! Di mana Anda sekarang? Saya jemput segera."
"Belum sekarang," tolaknya tegas.
"Bagaimana kondisi Mama?" tanyanya selanjutnya.
"Nyonya Svetlana kurang sehat, Tuan. Beliau sangat mengkhawatirkan Anda, kesehatannya terus menurun beberapa hari ini."
"Sampaikan padanya aku aman. Aku akan pulang dalam beberapa hari lagi."
"Baik, Tuan."