Embun masih menggantung di ujung dedaunan ketika Sita membuka jendela kamarnya. Udara pagi menyusup lembut, membawa aroma tanah basah dan suara azan Subuh yang baru saja usai. Ia menarik napas panjang, lalu tersenyum tipis.
Hari selalu dimulai dengan cara yang sama. Salat, membaca beberapa Al-qur'an, lalu membaca doa agar segala urusan di mudahkan. "Allahumma laa sahla illa maa ja'altahu sahlaa, wa anta taj'alul hazna idza syi'ta sahlaa."ยน
Selepas membaca doa, Sita ke dapur membantu ibunya meyiapkan sarapan. Rutinitas sederhana yang membuat hatinya merasa tenang.
"Bunda, air untuk teh sudah mendidih," panggil Sita dari dapur.
"Terima kasih, Kak. Tolong bangunkan adik-adikmu nanti terlambat ke sekolah. Sudah pada gede juga masih harus dibangunkan," gerutu ibunya sambil ke dapur.
"Baik, Bun. Masih pagi jangan menggerutu nanti cepet tua lho, bun." Sita tersenyum sembari becandain bundanya.
Di rumah sederhana itu, Sita anak sulung yang terbiasa memikul tanggung jawab. Ayahnya seorang guru madrasah, sedangkan bundanya mengajar mengaji anak-anak di lingkungan rumahnya. Sejak kecil, ia dibesarkan dengan keyakinan bahwa ilmu dan akhlak adalah harta yang paling berharga.
Sita gadis cantik di kampungnya. Matanya teduh dan memiliki senyum yang tampak tulus. Siapa pun yang mengenalnya, ia adalah anak yang santun dan ringan tangan.
Seorang guru pernah bertanya, "Sita apa cita-citamu?"
"Aku ingin jadi ustazah, Bu. Aku ingin membuat anak-anak mencintai membaca dan mencintai Al-qur'an."
Jawaban itu masih ia pegang hingga kini. Baginya mimpi bukan sekedar tentang pekerjaan, melainkan tentang manfaat yang bisa ia tinggalkan.
"Dek, kalian cepat bangun. Ini udah siang, mau salat subuh jam berapa?" ucapnya sembari memukul gelas plastik menggunakan sendok.
"Aduh, Kak. Berisik banget, sih," keluh mereka dari ranjang berbeda. Hanif menutup telinganya dengan bantal, sedangkan Luhfi segera bangun. Ia duduk sambil memejamkan mata.
Gemas melihat tingkah kedua adiknya, Sita menyalakan lampu yang membuat adik-adiknya bangun sambil mengeluh.
"Iih, Kak. Silau tau." Cara jitu yang selalu Sita gunakan agar adiknya cepat sadar dari tidur kebonya.
Sita menggiring adiknya sambil ngedumel ke kamar mandi untuk wudhu.
Drama pagi itu akhirnya selesai, Sita berangkat ke kampus. Perjalanan menuju kampus ia tempuh menggunakan sepeda motor tua milik ayahnya. Jalanan mulai ramai oleh pelajar dan pedagang yang membuka lapak.
Sahabatnya, Nisa sudah menunggu di gerbang.
"Akhirnya kamu datang juga," kata Nisa sembari cipika-cipiki.
Sita terkekeh.
"Seperti biasa drama pagi di rumahku. Aku tenang kalau sudah sampai," ucapnya sembari jalan bersama Nisa.