Pagi itu kampus terasa lebih ramai dari biasanya. Spanduk berwarna biru putih terbentang di halaman depan, bertuliskan Seminar Nasional Literasi dan Pendidikan Karakter. Mahasiswa dari berbagai fakultas hilir mudik membawa map, kamera, dan buku catatan.
Sita mempercepat langkahnya. "Untung belum dimulai," gumamnya sambil merapikan jilbab yang sedikit tertiup angin. Di sampingnya, Nisa berjalan santai sambil menyeruput es kopi.
Mereka menghampiri meja registrasi. Setelah mendapat arahan dari panitia, mereka masuk ke Aula seminar.
"Pleace, jangan duduk di depan, ya," kata Nisa menahan langkah Sita.
"Kita duduk di depan aja daripada nanti di suruh pindah," ucap Sita langsung menarik tangan sahabatnya.
Nisa tampak cemberut. Ia tidak percaya diri jika harus berhadapan langsung dengan progesor yang menjadi salah satu narasumber.
Mereka duduk di barisan depan. Sita menyimpan buku catatan dan pulpen di meja setelah duduk dengan nyaman.
"Aku heran sama kamu, Sita. Seminar itu buat orang lain cari sertifikat. Kamu malah semangat nyatet semua isi materinya." Nisa selalu heran dengan sahabatnya dekatnya itu.
Sita tersenyum kecil. "Mengikat ilmu lebih penting daripada sertifikat," ucapnya.
Nisa terkekeh. "Jawabanmu selalu membuatku merasa kurang rajin," keluhnya menunduk.
"Bukannya memang seperti itu, ya. Bukan aku yang ngomong, lho," ucap Sita tersenyum. Nisa sesekali memukul lengan kanan Sita, saat menertawakan dirinya.
Beberapa menit kemudian, acara dimulai. Pembawa acara memperkenalkan narasumber pertama, seorang dosen muda yang dikenal aktif mengembangkan program literasi di berbagai daerah.
Materinya sangat menarik. Tentang bagaimana membaca mampu mengubah cara seseorang memandang kehidupan.
Sita menulis hampir setiap poin yang dianggap penting. Sesekali ia mengangguk pelan. Kalimat demi kalimat terasa menguatkan cita-citanya menjadi pendidik.
Setelah narasumber pertama selesai menyampaikan materi. Pembawa acara mengumumkan sesi diskusi kelompok.
"Silakan buat kelompok, setiap kelompok terdiri dari lima orang," ucapnya sambil melihat kericuhan peserta yang mencari teman yang dikenalnya untuk diskusi.
Nisa langsung menggeser kusrinya. "Ayo, kita cari kelompok," ujarnya terlihat heboh.
Belum sempat Sita berdiri, seorang laki-laki menghampiri. "Maaf... kursi di sini kosong?" tanyanya dengan sopan.
Sita mengangkat wajah. Pemuda itu mengenakan kemeja putih sederhana dengan jaket almamater berwarna hijau tua. Wajahnya teduh, sorot matanya tenang, dan senyumnya terlihat sopan.
"Oh... silakan," ucap Sita pelan.
"Terima kasih," ucapnya sembari menggeser kursi, lalu duduk.
Pria itu duduk dengan menjaga jarak. "Kita satu kelompok," katanya.
Sita mengangguk singat.
"Nama saya, Athar."
"Saya Zahrotusita, teman-teman memanggilku, Sita."
Nisa yang kaget karena kelompoknya sudah lengkap. Ia melongo menatap pria di sebelah sahabatnya, lalu menyenggol pelan lengan Sita.
"Kenalin aku juga, dong," pinta Nisa yang didengar juga oleh Athar.
Pria itu tertawa kecil. "Tentu, saya Athar."
Nisa hendak mengulurkan tangan, tetapi ia urungkan, "Nisa," ucapnya gugup sembari menangkupkan kedua tangan di dada.