Kesucian yang Ternoda

maspupah Az-Zahra
Chapter #3

Batas yang Mulai Kabur

Mentari pagi baru saja menampakkan sinarnya ketika halaman kampus mulai dipenuhi mahasiswa. Tas carrier, kardus berisi buku bacaan, alat tulis, dan perlengkapan mengajar tertata rapi di depan bus yang akan mengantar mereka ke Desa Ciburial, lokasi bakti sosial selama tiga hari.

Sita datang bersama sahabatnya, Nisa. Di punggungnya tergantung ransel hitam, sementara kedua tangannya memeluk sebuah kardus berisi buku cerita anak yang ia kumpulkan dari hasil donasi teman-temannya.

"Aku yakin, anak-anak di sana akan senang mendapatkan buku ini," kata Nisa sambil sambil mengintip isi kardus.

Sita tersenyum. "Iya. Semoga mereka suka ya, aku sengaja memilih buku yang banyak gambarnya."

Tak lama kemudian, panitia memanggil seluruh peserta untuk berkumpul.

"Teman-teman, sebelum kita berangkat, mari kita berdoa bersama dulu," ucapnya, lalu memanggil Athar untuk memimpin doa bersama.

Suasana yang semula riuh perlahan menjadi tenang. Semua menengadahkan tangan, memohon agar perjalanan diberikan kelancarkan dan kemudahan.

Sita melirik Athar yang berdoa dengan khusyuk. Ia merasa bangga padahal situasinya ia bukan siapa-siapa Athar. Entah sejak kapan pria itu mulai mengalihkan perhatiannya.

Usai berdoa, satu per satu peserta menaiki bus. Sita memilih duduk di dekat jendela. Ia begitu menyukai perjalanan karena bisa menikmati pemandangan tanpa harus banyak berbicara.

Namun, dalam perjalanan menikmati pemandangan ini harus terganggu karena sahabatnya, Nisa akan mengajaknya bicara.

Kata sahabatnya itu selama dalam perjalanan, ia sudah menyiapkan topik untuk dibahas biar perjalanan jauh itu tidak terasa lama.

Di kursi sebrang lorong, Athar duduk beberapa baris di belakangnya. Mereka sempat saling bertatapan. Athar menganggukan kepala sambil tersenyum sopan. Sita membalas dengan senyum tipis. Tidak lebih.

Perjalanan memakan waktu hampir empat jam. Semakin jauh meninggalkan kota, pemandangan berubah menjadi hamparan sawah dan perbukitan yang diselimuti kabut tipis.

Nisa yang sejak tadi membicarakan banyak hal, akhirnya tertidur dengan kepala bersandar di bahu Sita.

Sita terkekeh pelan. "Dasar! Ayam warna warni," katanya.

Sita teringat di media sosial mirip burung sedang membahas ukuran tinggi badan. Badan wanita Indonesia yang memiliki tinggi 170 cm masuk kategori tinggi banget, yang memiliki tinggi badan 158-168 cm ideal, sedangkan yang memiliki ukuran tinggi badan 0-155 cm miniatur. Manusia mini yang susah di atur bahkan omelannya seperti suara ayam warna warni.

Perempuan Indonesia yang rata-rata tingginya 0-155 cm merasa terpanggil dan ingin membuat perhitungan dengan pembuat utas itu. Sita tertawa pelan kala membaca komentar-komentar netizen di sana. Medsos tersebut menjadi tempat hiburan warga waras yang sedang berobat jalan, kata cuitan-cuitan mereka.

Sita kembali menatap keluar jendela. Di dalam hati mengucap syukur karena diberi kesempatan mengikuti kegiatan yang sejak lama ia impikan.

"Aku ingin belajar menjadi guru yang bukan hanya mengajar di kelas," bisiknya.

Sesampainya di desa, rombongan disambut hangat oleh kepala desa dan warga.

Anak-anak kecil berlarian mendekati bus sambil melambaikan tangan.

"Kakak... kakak mahasiswa datang!"

Sorak mereka membuat Sita ikut tersenyum.

Hari pertama diisi dengan perkenalan dan pembagian kelompok.

Sita ditempatkan di divisi pendidikan bersama beberapa mahasiswa lain.

Ketika panitia membacakan nama anggota kelompoknya, Sita sedikit terkejut.

"Athar Sanjaya."

Nisa langsung melirik Sita sambil menyenggol pelan lengannya. "Wah, satu tim lagi, nich."

"Jangan macam-macam," bisik Sita sambil menahan senyum.

"Kebetulan yang didukung semesta," ucap Nisa sambil meledek.

Lihat selengkapnya