Pagi di Desa Ciburial dimulai dengan udara yang begitu sejuk. Kabut tipis masih menyelimuti perbukitan, sementara suara burung bersahutan dari pepohonan yang mengelilingi desa. Sita melangkah menuju musala bersama beberapa ibu-ibu yang sejak tadi mengajaknya mengobrol.
"Kalau sudah selesai kuliah, jangan lupa main lagi ke sini ya, Neng," kata Bu Aminah, salah seorang warga.
Sita tersenyum hangat. "Insyaallah, Bu. Kalau Allah mengizinkan."
"Anak-anak sudah sayang sama Neng Sita."
Kalimat itu membuat hati Sita menghangat. Baru dua hari berada di desa itu, tetapi sambutan warga begitu tulus.
Sepulang dari musala, ia membantu ibu-ibu menyiapkan sarapan untuk seluruh peserta bakti sosial. Nasi liwet, ikan asin, sambal, dan lalapan tersaji sederhana di atas tikar.
"Silakan dimakan, Nak. Jangan sungkan."
"Terima kasih, Bu," jawab Sita bersama peserta lainnya.
Tak jauh dari tempatnya duduk, Athar sedang membantu bapak-bapak mengangkat galon air minum.
Sita memperhatikannya sekilas. Pemuda itu tidak banyak bicara. Sejak datang ke desa, ia lebih sering membantu pekerjaan warga daripada duduk bercengkerama dengan teman-temannya.
"Melamun, Beb?"
Suara Nisa membuyarkan lamunannya.
"Hah? Nggak kok."
Nisa tersenyum usil. "Kirain."
Sita hanya menggeleng sambil melanjutkan sarapannya.
Hari itu mereka kembali mengajar di taman baca. Sita membawa beberapa buku cerita bergambar yang ia bawa dari kampus. Anak-anak langsung mengerubunginya.
"Kak, bacain dong!"
"Kak, yang ini lucu!"
Sita duduk lesehan bersama mereka.
"Baik. Tapi setelah Kakak selesai membaca, siapa yang mau mencoba membaca sendiri?"
"Sayaaa!"
Suara mereka bersahutan. Sita pun mulai membacakan kisah tentang seekor kelinci pemberani. Sesekali ia mengubah intonasi suaranya sehingga anak-anak tertawa riang.
Dari kejauhan, Athar memerhatikan pemandangan itu sambil tersenyum.
"Kamu udah cocok jadi guru bersertifikasi," ucapnya ketika jam istirahat tiba.
Sita sedikit terkejut. "Maksudnya?"
"Anak-anak nyaman sama kamu."
Sita menunduk malu. "Aku masih banyak belajar."
"Semua guru juga begitu." Perbincangan itu hanya berlangsung beberapa menit sebelum anak-anak kembali berdatangan.
Siang hari, panitia meminta seluruh peserta membantu membersihkan halaman madrasah desa yang akan dipakai untuk acara penutupan.
Semua bekerja sama. Ada yang menyapu. Ada yang memangkas rumput. Ada pula yang mengecat pagar bambu.
Sita memilih menyapu halaman bersama beberapa mahasiswi.
Saat sedang mengumpulkan daun-daun kering, angin bertiup cukup kencang hingga kerudungnya sedikit tersibak.
Refleks ia merapikannya. Di saat bersamaan, sapu yang dipegangnya terjatuh.