Mentari pagi menyapa Desa Ciburial untuk terakhir kalinya. Kesibukan sudah terlihat sejak selepas Subuh. Para mahasiswa mulai merapikan barang-barang, melipat selimut, dan mengangkut kardus berisi perlengkapan ke halaman rumah warga.
Sita memandang sekeliling dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Baru tiga hari berada di desa itu, tetapi rasanya seperti meninggalkan rumah kedua.
Anak-anak yang biasanya datang mengaji sejak sore sudah berdiri di depan posko.
"Kak Sita... jangan pulang dulu."
Seorang anak perempuan memeluk pinggangnya erat.
Sita membalas pelukan itu sambil tersenyum. "Kakak harus kembali kuliah, Sayang."
"Nanti balik lagi kan, Kak?"
"Insyaallah." Jawaban itu membuat anak kecil tersebut tersenyum, meski matanya masih berkaca-kaca.
"Kak, aku punya ini buat Kakak," kata anak kecil itu sambil mengeluarkan kotak yang sudah dibungkus kado. "Jangan ditolak ya, Kak," sambungnya, lalu menyelipkan kado itu di saku ransel Sita.
Tak jauh dari sana, Athar membantu bapak-bapak memasukkan kursi ke balai desa. Sesekali ia menyapa anak-anak yang melambaikan tangan kepadanya.
Kepala desa kemudian mengumpulkan seluruh peserta. "Kami hanya bisa mengucapkan terima kasih. Semoga ilmu yang kalian bawa menjadi amal jariyah."
Semua peserta mengamini doa itu. Mereka pun pamit dengan haru. Beberapa mahasiswi tampak menangis. Setelah pamit yang penuh air mata itu, satu per satu naik bus.
Bus mulai bergerak meninggalkan desa. Sita menoleh ke belakang melalui jendela. Anak-anak masih berlari mengejar bus sambil melambaikan tangan. Tanpa sadar, setetes air mata jatuh di pipinya.
Perjalanan pulang berlangsung lebih tenang dibanding saat berangkat. Sebagian mahasiswa tertidur karena kelelahan.
Sebagian lagi sibuk melihat foto-foto selama kegiatan di ponselnya masing-masing. Sesekali mereka berkomentar.
Nisa menyenggol pelan bahu Sita. "Kamu nangis tadi?"
"Sedikit," jawab Sita sambil mengusap matanya.
"Kamu memang gampang sayang sama orang. Empati kamu sangat bagus, Beb."
Sita tersenyum tipis. "Mereka tulus, Nis."
"Benar. Itulah yang bikin kita berat berpisah."
Tak jauh di belakang, Athar sedang membaca buku kecil yang selalu dibawanya. Sesekali ia menatap ke luar jendela. Entah apa yang sedang dipikirkannya.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, peserta kegiatan bakti sosial sampai di kampus.
Mahasiswa turun dengan tertib keluar dari bus disusul mahasiwi yang terlihat kelelahan.
"Setelah sampai rumah aku mau tidur seminggu. Rasanya badanku remuk semua," celetuk salah satu mahasiswi.
"Aku mau beli semua makanan yang selama di sana tidak ada. Aku kangen ramen udon porsi besar," sahut yang lainnya.
Mereka hanya melakukan pengabdian selama tiga hari, tetapi mereka seperti beres pengabdian berbulan-bulan.
"Aku kangen body spa di salon. Badanku harus recovery total," kata yang lainnya.
Nisa memanyunkan bibir dan bibir kanananya terangakat. Ia begitu geli dengan sikap teman-temannya. "Mereka belum aja merasakan KKN di desa, tapi keluhannya begitu melangit.
Hari-hari kembali berjalan seperti semula. Kuliah, mengerjakan tugas, dan membantu bunda mengajar mengaji.