Kesucian yang Ternoda

maspupah Az-Zahra
Chapter #6

Harus Lebih Baik dari Kemarin

Pagi itu, Sita berdiri di depan cermin kamarnya sambil merapikan jilbab berwarna krem yang akan dikenakannya ke kampus. Sinar matahari menembus sela-sela jendela, menerangi meja belajarnya yang dipenuhi buku pendidikan, tafsir Al-Qur'an, dan catatan perkuliahan.

Di samping buku-buku itu, sebuah kalimat yang ditulis tangan menempel pada papan kecil.

"Hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin."

Kalimat itu bukan sekadar hiasan. Itu adalah prinsip yang selalu ia pegang sejak duduk di bangku sekolah menengah. Ayahnya pernah berkata,

"Orang yang beruntung adalah orang yang hari ini lebih baik daripada kemarin. Jangan sibuk membandingkan dirimu dengan orang lain, tapi bandingkan dirimu dengan dirimu yang kemarin."

Setiap kali merasa lelah atau kehilangan semangat, Sita selalu membaca kalimat itu berulang kali.

Baginya, menjadi calon guru bukan hanya tentang mengejar nilai yang bagus atau menyelesaikan kuliah tepat waktu.

Lebih dari itu, ia ingin menjadi pribadi yang pantas diteladani. Sebab guru bukan hanya mengajarkan pelajaran. Guru juga sedang mengajarkan kehidupan.

Di dapur, aroma nasi goreng buatan bunda memenuhi ruangan.

"Sudah siap berangkat?" tanya bunda sambil meletakkan piring di meja.

"Sudah, Bun."

"Jangan lupa makan dulu."

Sita mengangguk.

Hanif dan Luthfi masih saling berebut kerupuk hingga membuat bunda menggeleng sambil tersenyum.

"Kalian ini kalau pagi selalu ada dramanya. Bunda baru mendengar cermah tentang menjaga lisan, tapi kalian selalu membuat bunda hilang kesabaran."

Sita tertawa kecil.

"Bun, kalau bunda lagi mode VOC itu cantik tau," kata Luthfi sembari mengedipkan sebelah matanya.

"Astagfirullah...." Bunda mengelus dada, lalu melempar Luthfi dengan tempe goreng.

Luthfi bergeser. Wajah ayah terkena timpuk tempe goreng yang dilempar bunda.

"Astagfirullah... ada apa ini? Kok, makanan dilempar-lempar begini," kata sambil memasukan tempe ke mulutnya.

Bunda menghela napas. "Biasa kelakuan anakmu," kata bunda sembari menyendok nasi.

Rumah sederhana itu memang tak pernah sepi.

Meski hidup mereka jauh dari kemewahan, Sita selalu merasa cukup. Ayah mengawali sarapan dengan doa, lalu memandang putri sulungnya.

"Bagaimana kegiatan mendongeng kemarin?"

"Alhamdulillah lancar, Yah. Anak-anak senang."

Ayah tersenyum bangga.

"Ingat, Nak. Anak-anak mungkin lupa pelajaran yang kita sampaikan. Tapi mereka akan mengingat bagaimana kita memperlakukan mereka."

Kalimat itu kembali memenuhi ruang hati Sita. Ia mengangguk pelan.

"Insyaallah, Yah."

Suasana sarapan berubah serius ketika ayah mulai berbicara dengan putri sulungnya.

Selesai sarapan, Sita pamit untuk berangkat ke kampus. Meski jadwal ia belajar di kelas agak siang, tapi Sita lebih suka menghabiskan waktunya di kampus. Ia bisa dengan leluasa mencari bahan ajar atau menyelesaika tugas yang belum selesai di perpustakaan kampus.

Sesampainya di kampus, Sita langsung menuju perpustakaan. Ia sengaja datang lebih awal karena ingin menyelesaikan tugas tentang metode pembelajaran aktif.

Di sudut ruangan, beberapa mahasiswa masih terlihat mengantuk. Namun Sita sudah tenggelam dalam buku-buku yang ia pinjam.

Lihat selengkapnya