Siang itu matahari terasa begitu menyengat. Udara panas menggantung di antara gedung-gedung kampus, membuat halaman tampak berkilau diterpa cahaya. Setelah keluar dari kelas, Sita melangkah pelan sambil merapikan tali tas di bahunya. Ia menyipitkan mata ketika sinar matahari langsung menerpa wajahnya. Beberapa helai anak rambut yang lolos dari balik hijab menempel di kening karena keringat.
Ia menghela napas panjang. Baru saja melewati dua jam perkuliahan yang melelahkan, kini panas siang seolah ingin menguji kesabarannya sekali lagi. Namun, di tengah teriknya matahari, ia tetap melangkah menuju koridor yang teduh, berharap menemukan sedikit kesejukan sebelum melanjutkan aktivitasnya.
Begitu keluar dari area kampus, pandangan Sita langsung tertuju pada sebuah gerobak kecil di pinggir jalan. Seorang penjual sedang sibuk melayani mahasiswa yang mengantre membeli es cekek. Tenggorokannya terasa kering setelah berjalan di bawah matahari yang terik.
Tanpa berpikir panjang, Sita menghampiri gerobak itu.
“Es cekek satu, Bu,” pintanya sambil tersenyum.
Beberapa menit kemudian, sebungkus es cekek dingin berpindah ke tangannya. Ia meneguknya lewat sedotan dengan perlahan. Rasa manis dan dingin seketika menyegarkan tenggorokannya. Ia mengembuskan napas lega, kemudian tersenyum kecil.
“Alhamdulillah tenggorokan terasa adem,” gumamnya sambil kembali melangkah.
"Sita, kamu beli es cekek di mana? Kok, nggak ngajak, sih," ucap Nisa sembari cemberut.
"Di depan kampus sana, kamu sih, tadi malah belok ke kantin," ucap Sita sembari nunjuk ke area luar kampus.
"Kamu mau ke mana sekarang?"
"Biasa ke perpus nyari bahan bacaan buat kegiatan besok. Kamu udah siap buat kegiatan besok?"
Nisa terdiam, lalu berucap. "Harus siap dong, kan ada kamu."
"Yaudah. Ayo, temenin aku ke perpus," kata Sita sembari narik tangan sahabatnya.
Begitu memasuki perpustakaan, hawa sejuk langsung menyambut mereka. Setelah beberapa menit berjalan di bawah terik matahari, udara dingin di dalam ruangan terasa seperti hadiah kecil yang menenangkan. Sita menghela napas lega, lalu membiarkan pintu tertutup perlahan di belakangnya.
Suasana perpustakaan begitu tenang. Hanya terdengar dengung lembut pendingin ruangan dan suara halaman buku yang sesekali dibalik. Cahaya matahari yang menyelinap melalui jendela jatuh membentuk garis-garis keemasan di antara rak buku. Sita berjalan pelan, merasakan kulitnya yang tadi panas mulai kembali nyaman.
"Aku mau duduk di sini," kata Sita. Ia memilih sebuah kursi di dekat jendela, meletakkan tas, lalu duduk.
Di tengah kesejukan dan aroma khas buku-buku yang memenuhi ruangan, rasa lelah setelah perkuliahan perlahan menghilang. Untuk beberapa saat, dunia terasa begitu tenang bagi Sita.
"Oke, gadis jendela. Aku di belakang kamu, ya," kata Nisa sembari memasang headset. Ia membaca sambil mendengarkan musik dari ponselnya.
Tak lama kemudian, terdengar suara kursi ditarik.
"Maaf, aku boleh duduk di sini, kan?"
Sita mendongak. Athar berdiri sambil membawa beberapa buku.
"Boleh. Ini kan, tempat umum."
"Terima kasih."
Mereka kembali tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Hampir lima belas menit berlalu tanpa percakapan.
Sampai akhirnya Athar memecah keheningan.
"Gimana persiapan besok?"
"Agak cemas, sih,"
"Kenapa cemas? Kamu kan, udah biasa ngajar."
"Tetap saja, meski udah biasa ngajar aku sering cemas. Gimana pun juga, aku masih mahasiswa yang harus banyak belajar.
Athar tersenyum.
"Kamu hebat! Aku semakin kagum."
Sita terdiam. Beberapa detik pandangannya menatap wajah Athar yang mirip bulan purnama. Bersinar, bulat, utuh, dan cahayanya memancar lembut.
Sita segera memalingkan wajahnya. Ia tidak paham dengan kalimat yang diucapkan Athar, tetapi jantungnya begitu bergejolak. Ada getaran tak kasat mata yang mulai meresap ke dalam hatinya.
"Kalian nampak akrab sekali, ya," kata Nisa.
Ucapan Nisa membuat dua manusia yang tengah di mabuk kekaguman itu seketika tersadar. Ada batas yang harus mereka jaga.
“Tidak. Kami hanya kebetulan duduk bersebelahan,” jawab Sita cepat.
Nisa mengangkat kedua alisnya. “Aku nggak bilang apa-apa, kok.”
Sita mendengkus pelan. Ia kembali menundukkan wajahnya pada buku yang terbuka di atas meja. Namun, entah mengapa, kalimat Athar tadi terus terngiang di kepalanya.
Kamu hebat! Aku semakin kagum.
Sita menggeleng pelan.
“Fokus, Sita. Besok praktik mengajar,” gumamnya dalam hati.
Keesokan paginya, halaman sekolah binaan kampus sudah dipenuhi mahasiswa yang akan melaksanakan praktik mengajar. Beberapa dari mereka sibuk membawa media pembelajaran, sebagian lainnya memeriksa kembali perangkat ajar yang sudah disiapkan.
Sita berdiri di depan gerbang sekolah dengan napas yang sedikit lebih cepat dari biasanya.
Hari ini ia bukan sekadar datang sebagai mahasiswa. Ia akan berdiri di depan kelas. Mengajar. Menjadi guru, meskipun hanya dalam sebuah kegiatan praktik.
“Kenapa diam saja?”
Sita menoleh. Athar berdiri di sampingnya sambil membawa sebuah map.