Malam harinya, Nisa menelepon.
"Ta, aku lihat kamu sama Athar semakin akrab tadi. Kalian bahkan sampai lupa kalau aku ada dibelakang kalian."
"Iya. Dia lihat aku lagi ngajar."
"Ngapain?"
"Ya, aku nggak tahu lah, Nis."
Di sebrang sana, Nisa mengerutkan kening. Lalu, bertanya kembali.
"Apa dia menyukai kamu?"
Sita menghela napas.
"Aku nggak tahu, Nis."
"Tapi, perasaan kamu ke dia?"
Sita menatap langit malam dari jendela kamarnya.
"Nggak tahu. Yang aku rasa, aku takut kalau hatiku mulai berharap."
Suasana di seberang telepon mendadak hening.
Nisa akhirnya berkata pelan, "Berharap itu manusiawi."
"Iya."
"Tapi jangan biarkan harapan mendahului takdir."
Sita tersenyum meski sahabatnya tak bisa melihat senyum manisnya itu. "Terima kasih."
Malam itu, ia kembali menuliskan isi hatinya dalam buku harian.
"Ya Allah, jangan biarkan aku sibuk memikirkan seseorang hingga lupa memperbaiki diriku sendiri."
***
Pagi itu, Sita sedang menyusun buku di perpustakaan kampus ketika Nisa datang tergesa-gesa.
"Ta, nanti rapat dimajukan."
"Jam berapa?"
"Setengah sepuluh."
Sita mengangguk sambil menutup buku yang sedang dibacanya.
Saat berjalan menuju ruang rapat, ia melihat Athar sedang membantu petugas kampus memindahkan beberapa kardus buku ke ruang literasi.
Bajunya sedikit basah oleh keringat. Meski begitu, senyum di wajahnya tidak pernah hilang.
"Perlu bantuan?" tanya Sita.
Athar menggeleng pelan. "Sudah hampir selesai."
"Baik." Sita melanjutkan langkahnya.
Ia sengaja tidak berlama-lama. Semakin hari, ia semakin sadar bahwa menjaga jarak bukan berarti memutus silaturahmi, melainkan menjaga agar hati tetap berada di tempatnya.
Hari ini kuliah cuman satu matkul dan itu pun jam pagi, Sita yang mulai sibuk dengan organisasi, ia susah membagi waktu antara organisasi dan tugas menjadi mahasiswi.
Nisa dengan cepat menarik tangan sahabatnya untuk masuk ke sekretariat organisasi. Rapat organisasi berlangsung hampir tiga jam.
"Tiga jam rapat terasa seperti tiga hari," gumam Sita pelan. Kepalanya penuh oleh susunan acara, pembagian tugas, dan berbagai kemungkinan yang harus dipikirkan untuk Festival Literasi kampus. Begitu rapat berakhir, ia menyandarkan tubuh di kursi dan mengembuskan napas panjang.
“Capek banget,” gumamnya.