Pukul empat dini hari. Rumah masih sunyi ketika Sita selesai menunaikan salat Tahajud.
Ia tidak langsung beranjak dari sajadah. Kedua tangannya masih terangkat, sementara kepalanya sedikit tertunduk. Di luar, hujan turun perlahan. Suaranya terdengar samar dari balik jendela kamar, berpadu dengan dinginnya udara sebelum Subuh.
Biasanya Sita tidak berlama-lama setelah salat. Namun pagi ini entah mengapa ia ingin duduk lebih lama.
“Ya Rabb…”
Hanya dua kata yang keluar.
Setelah itu, ia terdiam. Ada begitu banyak hal yang ingin disampaikan, tetapi semuanya terasa sulit dirangkai menjadi kalimat. Tentang hari-harinya. Tentang kuliah. Tentang keluarga. Tentang masa depan yang belum ia tahu akan seperti apa dan tentang seseorang.
Sita menarik napas pelan. Ia tersenyum tipis ketika menyadari bahwa akhir-akhir ini ada satu nama yang lebih sering muncul di kepalanya daripada yang seharusnya.
Ia tidak ingin menyalahkan perasaan itu. Bagaimanapun, hati manusia tidak selalu bisa memilih kapan harus menyukai seseorang.
Yang bisa ia lakukan hanyalah berhati-hati. Menjaga agar rasa kagum tidak berubah menjadi penantian yang berlebihan. Menjaga agar perhatian kecil tidak membuatnya membangun harapan sendiri.
Sita menundukkan wajah. “Kalau memang bukan untukku, tolong jangan biarkan aku terlalu jauh berharap.”
Air matanya jatuh perlahan. “Kalau memang Engkau izinkan dia hadir dalam hidupku, biarlah semuanya terjadi dengan cara yang baik. Dengan waktu yang baik. Dengan jalan yang Engkau ridai.”
Hujan masih turun. Sita memandang kaca jendela yang dipenuhi titik-titik air. Kini dadanya terasa sedikit lebih lapang setelah berkeluh kesah pada Rabb-nya.
Ia sadar, menjaga hati ternyata jauh lebih sulit daripada menjaga lisan. Sebab hati tidak terlihat. Ia bisa menyimpan rasa tanpa diketahui siapa pun. Namun justru dari sanalah banyak keputusan bermula.
Di tempat lain, tanpa diketahui Sita, Athar juga masih berada di atas sajadahnya.
Dalam sujud yang panjang, ia memohon hal yang hampir sama.
“Ya Allah, kalau rasa ini datang terlalu cepat, jagalah aku agar tidak terburu-buru.”
Dua manusia, dua tempat berbeda, dan satu permohonan yang sama. Semoga hati mereka tetap menemukan jalan pulang kepada Allah, sebelum mencari tempat pulang pada manusia.
Pagi harinya, Sita bersiap untuk ke kampus lagi. Ia naik ojek daring karena ayah tak bisa mengantarnya ke kampus. Hari ini kegiatan besar akan berlangsung yaitu, Festival Literasi.
Ketika Sita sampai, di halaman kampus terlihat lebih ramai dari biasanya. Beberapa stan buku berdiri di sisi lapangan, meja-meja untuk kegiatan membaca anak sudah ditata, dan papan bertuliskan Festival Literasi terpampang di depan panggung utama.
Nisa menghampiri Sita yang baru turun dari ojek daring. "Ayo, kita susun bukunya," ajak Nisa sambil membawa kardus berisi buku cerita.
"Sabar, Sis. Aku baru turun banget lho, dari ojek," ucap Sita, lalu mengambil alih dus di tangan Nisa.
Mereka bertugas di salah satu sudut baca yang khusus disediakan untuk anak-anak sekolah dasar yang menjadi peserta kegiatan.
“Di sebelah sini buku cerita anak. Di sebelah sana buku pengetahuan dekat meja pojok," kata Sita mengarahkan Nisa untuk menyusun buku-buku yang mereka bawa.
Tak lama kemudian, anak-anak mulai berdatangan. Sebagian langsung berlari menuju tumpukan buku yang di susun rapi di atas meja. Ada yang memilih buku bergambar, ada yang sibuk mencari cerita kesukaannya, sementara beberapa anak hanya berdiri kebingungan karena belum tahu ingin membaca apa.
Sita kemudian menghampiri mereka. “Mau baca yang mana?”
“Yang ada dinosaurusnya!”
Sita tertawa. “Kalau begitu, kita cari sama-sama.”
Kegiatan semakin ramai menjelang siang. Ada sesi mendongeng, membaca bersama, permainan mencari kata, pojok menulis, hingga diskusi singkat tentang pentingnya membiasakan membaca. Beberapa mahasiswa juga mengajak anak-anak membuat pembatas buku dari kertas warna-warni.
Athar bertugas di area yang sama. Ia membantu anak-anak memilih bacaan dan mendampingi mereka ketika membaca. Sesekali ia membantu Sita ketika ada anak yang membutuhkan perhatian lebih.
Tanpa mereka sadari, beberapa panitia mengambil foto saat Sita dan Athar duduk bersebelahan mendampingi sekelompok anak membaca buku.
Festival berakhir menjelang sore. Semua panitia terlihat lelah, tetapi puas. Stan mulai dibongkar, buku-buku dikembalikan ke kardus, dan sampah kegiatan dikumpulkan bersama-sama.
Malamnya, unggahan resmi kampus muncul di media sosial.
“Festival Literasi: Tumbuhkan Minat Baca, Bangun Generasi Berdaya.”
Foto-foto kegiatan memenuhi unggahan tersebut. Salah satunya menampilkan Sita dan Athar bersama anak-anak.
Komentar pun berdatangan.
“Seru banget kegiatannya!”