Beberapa hari setelah terpilih menjadi calon Duta Literasi, kehidupan Sita kembali dipenuhi rutinitas. Pagi membantu bunda menyiapkan sarapan, lanjut mengikuti perkuliahan, sore mengajar mengaji di madrasah, dan malam mengerjakan tugas kuliah.
Meski lelah, Sita menikmatinya. Katanya saat lelah karena lillah akan berubah berkah. Baginya, kesibukan adalah cara terbaik untuk menjaga diri dari hal-hal yang tidak bermanfaat.
Namun, ia tidak menyadari bahwa semakin aktif seseorang, semakin besar pula ujian yang datang menghampiri.
Saat di kelas, dosen metodolgi penelitian mengumumkan tugas kelompok yang belum presentasi dan memintanya untuk siap-siap.
"Kelompok 4, siap-siap presentasi minggu depan. Siapkan juga makalahnya dengan baik, lalu power poin juga buat sebaik mungkin. Kalian harus bisa lebih baik dari kelompok sebelumnya."
Sita yang menjadi salah satu kelompok 4 nyimak dengan baik, lalu mengangguk. Ia mencatat masukan-masukan dari kelompok sebelumnya agar presentasi minggu depan ia dan kelompoknya bisa lebih baik lagi.
"Saya akhiri pertemuan ini. Terima atas kerja sama dan kompaknya selama di kelas saya." Dosen itu langsung keluar sambil berjalan tegap.
Bunyi pesan grup menghentikan Sita yang tengah memasukan buku catatan ke dalam tas. Ia mengambil ponsel lalu melihat siapa yang mengirim pesan di grup.
"Assalamu'alaikum teman-teman. Adakah yang sudah selesai kuliahnya? Kita akan berbagi tugas untuk persiapan ke sekolah yang kemarin."
"Wa'alaikumussalam. Aku udah selesai."
Beberapa ada yang membalas belum selesai perkuliahan.
Sita membaca pesan itu. Ia pun, lalu membalas kalau sudah selesai dan tidak ada kelas lagi.
"Nis, ayo kita ke sekre dulu. Siang ini Athar ngajak kita untuk berbagi tugas untuk kegiatan besok."
"Oke. Aku juga udah baca. Ayo," kata Nisa berjalan lebih dulu sambil merapikan jilbabnya yang berantakan.
Sesampainya di sekretariat, beberapa teman sudah berkumpul. Kardus berisi buku bacaan, alat tulis, kertas warna-warni, spidol, papan permainan, dan perlengkapan kegiatan mulai memenuhi ruangan.
Athar berdiri di depan meja sambil memegang daftar kebutuhan.“Oke, kita cek satu-satu. Jangan sampai ada yang tertinggal.”
Sita berdiri di sampingnya sambil mencocokkan barang dengan daftar. “Buku cerita anak sudah?”
“Sudah, tiga kardus.”
“Alat tulis?”
“Lengkap.”
“Lembar aktivitas?”
“Masih kurang sepuluh.”
Sita segera mencatatnya. “Berarti nanti kita cetak tambahan.”
Athar mengangguk. “Siap.”
Karena Sita dan Athar ditunjuk sebagai koordinator lapangan, mereka harus memastikan seluruh perlengkapan siap sebelum berangkat ke sekolah binaan.
Menjelang sore, sekretariat semakin ramai. Ada yang menggunting kertas, menyusun buku, memasukkan alat tulis ke dalam kantong, hingga mengecek kembali daftar peserta.
Sita memperhatikan semuanya sambil tersenyum. Kegiatan literasi ini mungkin terlihat sederhana bagi orang lain. Namun bagi mereka, setiap buku, setiap lembar kertas, bahkan setiap spidol yang dimasukkan ke dalam kardus adalah bagian dari usaha agar kegiatan besok berjalan dengan baik.