Rombongan berangkat menggunakan dua kendaraan kampus. Perjalanan memakan waktu hampir dua jam.
Sesampainya di madrasah, mereka disambut kepala sekolah dan beberapa guru.
Bangunan madrasah itu sederhana. Cat dindingnya mulai memudar. Beberapa rak buku terlihat kosong. Namun anak-anak yang menyambut mereka memiliki semangat yang luar biasa.
Sita langsung merasa tempat itu akan menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.
"Kak, nanti kita belajar membaca?"
"Iya."
"Main juga?"
"Tentu."
"Kalau aku belum bisa baca, boleh ikut?"
Sita berjongkok di hadapan seorang anak laki-laki.
"Justru Kakak datang supaya kamu bisa belajar." Anak itu tersenyum lebar.
Kegiatan pertama dimulai. Sita membagi anak-anak menjadi beberapa kelompok berdasarkan kemampuan membaca.
Ada yang sudah lancar. Ada yang masih terbata-bata, bahkan ada beberapa anak yang belum mengenal seluruh huruf.
Sita teringat dirinya beberapa tahun lalu ketika pertama kali mengajar anak-anak mengaji. Ternyata kebutuhan mereka bukan hanya buku. Mereka membutuhkan kesabaran. Mereka membutuhkan seseorang yang percaya bahwa mereka mampu.
"Kita mulai dari yang mudah, ya." Sita duduk bersama empat anak yang masih kesulitan membaca.
Sementara Athar membantu kelompok anak yang lebih besar. Sesekali mereka saling memberi kabar tentang perkembangan masing-masing melalui grup panitia.
Tidak perlu banyak bicara. Tidak perlu mencari alasan untuk berdekatan. Mereka hanya menjalankan amanah.
Setelah kegiatan selesai, mereka melakukan evaluasi. "Kita harus punya data perkembangan anak-anak," ujar Sita.
Athar membuka catatan. "Aku sudah buat format sederhananya."
Sita melihat layar laptop. "Ini bagus."
"Kalau kamu punya tambahan, silakan."
Sita membaca beberapa bagian. "Mungkin tambahkan perkembangan kepercayaan diri anak. Bukan cuma kemampuan membaca."
Athar mengangguk. "Benar. Karena tadi ada anak yang sebenarnya bisa, tapi tidak berani mencoba."
Sita tersenyum. "Nah, itu."
Mereka kemudian memperbaiki format tersebut bersama anggota lain. Hari mulai sore ketika pekerjaan mereka selesai.
Sebelum pulang salah satu guru meminta bantuan mereka. "Athar, Sita, tolong bantu bereskan buku-buku di ruang belakang. Buku-buku itu mau dipindahkan ke taman baca yang baru kalian buat."
Sita mengangguk. "Baik, Bu."
Mereka masuk ke ruangan kecil di belakang madrasah. Ruangan itu sebenarnya masih terhubung dengan bangunan utama, tetapi cukup sepi karena jarang digunakan.