Pagi setelah kegiatan literasi itu, Sita bangun sebelum azan Subuh selesai berkumandang. Matanya masih berat, bukan cuma karena kurang tidur, tapi karena semalaman pikirannya nggak benar-benar istirahat.
Ada satu kejadian yang terus muncul tanpa diundang. Ruang belakang sekolah kegiatan literasi. Tumpukan buku. Suara hujan. Petir yang menggelegar dan sebuah kesalahan yang terjadi cuma dalam hitungan detik.
Sita memejamkan mata lebih erat, seolah-olah dengan begitu ia bisa menghapus semuanya dari ingatan. “Astaghfirullah," ucapnya berzikir.
Ia langsung bangkit dari tempat tidur dan mengambil wudu. Air dingin menyentuh wajahnya, tapi belum cukup untuk menenangkan pikirannya.
Setelah selesai salat, Sita duduk di atas sajadah. Kedua tangannya terlipat di pangkuan. Ia menatap lantai cukup lama.
Ia nggak tahu harus menyebut kejadian itu sebagai apa. Kesalahan Kekhilafan? Atau cuma kecelakaan yang seharusnya selesai setelah mereka saling minta maaf?
Sita tahu kejadian itu nggak disengaja. Ia nggak pernah merencanakannya. Athar juga nggak. Tapi justru karena itulah ia merasa semakin bersalah.
Bukan karena ia sengaja melakukan sesuatu, tapi karena setelah kejadian itu, hatinya nggak bisa langsung kembali seperti semula.
Ada rasa malu. Ada takut. Ada sesuatu yang nggak ingin ia akui dan yang paling membuat gelisah adalah kenyataan bahwa ia sempat merasakan debar yang berbeda.
Sita menundukkan kepala. “Ya Allah, aku nggak ingin perasaan ini membuatku jauh dari-Mu.”
Air mata perlahan jatuh. Ia mengusapnya dengan ujung mukena. Selama ini Sita selalu berusaha menjaga dirinya. Ia tahu batas antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram. Ia berusaha menjaga cara bicara, pandangan, dan pergaulan. Tapi ternyata menjaga hati nggak sesederhana yang selama ini ia pikirkan.
Satu kejadian yang nggak disengaja saja bisa membuat pikirannya berantakan. Sita menarik napas panjang. Ia nggak menceritakan kejadian itu kepada siapa pun. Nggak kepada Nisa. Nggak kepada Bunda, bahkan nggak kepada buku hariannya. Ia takut kalau menuliskannya, kejadian itu malah terasa makin nyata. Jadi, ia memilih menyimpannya sendiri.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa. Sita tetap pergi ke kampus. Ia tetap mengikuti perkuliahan. Ia etap mengerjakan tugas dan tetap datang ke sekolah binaan untuk menjalankan program literasi.
Di depan teman-temannya, Sita masih bisa tertawa. Ia masih bisa bercanda. Ia masih bisa berdiskusi. Kalau ada yang bertanya apakah ia baik-baik saja, jawabannya selalu sama. “Alhamdulillah, baik.”
Nggak ada yang tahu bahwa setiap kali melewati koridor belakang sekolah, langkah Sita selalu melambat.
Nggak ada yang tahu bahwa suara hujan kadang membuatnya terdiam. Nggak ada yang tahu bahwa setiap kali mendengar petir, ingatannya kembali ke sore itu dan nggak ada yang tahu bahwa ia mulai menghindari kesempatan untuk berduaan dengan Athar.
Kalau biasanya mereka berdiskusi setelah kegiatan selesai, sekarang Sita lebih sering mengajak sahabatnya, Nisa atau anggota lain untuk ikut.
Jika Athar berdiri terlalu dekat, ia akan mencari alasan untuk pindah tempat. Kalau mereka nggak sengaja bertatapan, Sita akan lebih dulu memalingkan wajah.
Athar menyadari perubahan itu. Tapi, ia nggak pernah memaksanya untuk bicara. Mungkin karena ia juga merasakan kegelisahan yang sama.
Suatu siang, panitia kembali berkumpul di sekretariat kampus. Di atas meja ada laporan kegiatan, daftar buku yang sudah disalurkan, dan catatan perkembangan program literasi di sekolah binaan.
Athar membuka laptop. “Untuk minggu depan, kita perlu menambah buku bacaan anak kelas lima dan enam. Kemarin guru bilang beberapa siswa mulai tertarik membaca buku pengetahuan.”
Sita mencatat. “Aku bisa bantu cari di perpustakaan kampus.”
“Boleh,” jawab Athar singkat
“Kalau buku cerita?”
“Sudah cukup banyak.”
“Berarti kita fokus ke buku pengetahuan.”
Athar mengangguk. Pembicaraan mereka berjalan seperti biasa. Profesional, singkat, nggak ada yang aneh. Tapi, ketika rapat selesai dan teman-teman mulai meninggalkan ruangan, dada Sita kembali terasa sesak. Ia buru-buru memasukkan buku ke dalam tas.
“Sita,” panggil Athar.