Sejak program literasi kampus berjalan, nama Athar dan Sita semakin sering disebut bersamaan. Kini, mereka benar-benar biasa saja dan melupakan kejadian yang membuat mereka sempat canggung.
Awalnya tidak ada yang merasa aneh. Mereka memang sama-sama aktif. Sama-sama sering berada di lapangan. Sama-sama dipercaya menjadi koordinator dalam berbagai kegiatan. Jika ada rapat, mereka hadir. Jika ada sekolah yang harus dikunjungi, mereka ikut. Jika ada laporan yang harus disusun, nama mereka hampir selalu tercantum dalam daftar panitia.
Bagi sebagian orang, itu hal biasa. Namun tidak bagi semua orang. Di antara banyak mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan kampus, ada seorang mahasiswi bernama Ranis yang diam-diam menyimpan perasaan kepada Athar.
Perasaan itu sudah tumbuh cukup lama. Sejak semester awal. Sejak pertama kali mereka berada dalam satu kepanitiaan. Sejak pertama kali Athar membantu mengangkat kardus-kardus buku tanpa diminta.
Ranis menyukai kesederhanaan Athar. Menyukai caranya berbicara. Menyukai caranya memperlakukan orang lain dan seperti banyak kisah lainnya, ia menyimpan semua itu sendirian.
Sampai suatu hari, Ranis memberanikan diri. Bukan untuk menyatakan cinta secara terang-terangan, melainkan menyampaikan perasaannya dengan cara yang sopan.
Ia melihat Athar sedang duduk sendirian di taman kampus. Ranis merasa kesendirian Athar di taman merpakan berkah baginya. Ia seakan didukung semesta untuk mengungkapkan keresahan hatinya.
"Athar!" panggilnya pelan.
Pria yang dipanggil menoleh. "Ada apa?"
"Aku... aku cuma ingin jujur," ucap Ranis terbata dan pelan.
Athar terdiam. Ia seakan tahu apa yang akan diutarakan Ranis temen sekelasnya di kampus. "Aku menghargai kamu. Lebih dari teman."
Kalimat itu diucapkan dengan suara yang bergetar. Athar menundukkan pandangan sesaat. Ia tahu keberanian seperti itu tidak mudah. Karena itulah ia berusaha menjawab dengan hati-hati. "Terima kasih sudah jujur."
Ranis tersenyum tipis. Namun senyum itu perlahan memudar ketika Athar melanjutkan ucapannya.
"Tapi aku belum ingin membuka hubungan apa pun saat ini."
Rania berusaha tetap tenang. "Karena kuliah?"
Athar mengangguk. "Itu salah satunya."
Ia tidak menyebut nama Sita. Tidak menyebut bahwa hatinya mulai condong kepada seseorang. Tidak menyebut apa pun yang bisa membuat Ranis semakin terluka. Namun terkadang penolakan yang paling lembut sekalipun tetap menyisakan luka dan luka yang tidak dikelola dengan baik bisa berubah menjadi sesuatu yang berbahaya.
Hari-hari berlalu. Ranis mulai memperhatikan sesuatu. Setiap kegiatan literasi, Athar dan Sita hampir selalu berada dalam tim yang sama.
Setiap rapat besar, mereka sering berdiskusi. Setiap evaluasi, nama mereka selalu disebut bersamaan. Semakin lama, perasaan kecewa dalam dirinya berubah menjadi prasangka.
"Katanya belum ingin membuka hubungan apa pun, tetapi dari gerak gerik mereka, aku yakin mereka ada sesuatu," gumam Ranis kecewa.
Padahal tidak pernah ada hubungan istimewa di antara Athar dan Sita. Mereka justru berusaha menjaga jarak. Namun bagi orang yang sudah terluka, kenyataan sering kali terlihat berbeda.
Suatu sore, kampus mengadakan kegiatan pengelolaan perpustakaan untuk program literasi desa.
Sejumlah mahasiswa berkumpul di gedung perpustakaan lama yang sedang direnovasi. Mereka harus menyortir ratusan buku sebelum dikirim ke beberapa sekolah.
Cuaca sejak siang sudah mendung. Angin bertiup cukup kencang. Meski begitu, pekerjaan tetap berjalan. Di tengah kesibukan itu, Ranis berbicara dengan seorang mahasiswa laki-laki yang dikenalnya. Mahasiswa itu perokok. Pembicaraan mereka berlangsung singkat. Tidak ada yang memperhatikan. Tidak ada yang curiga.
Menjelang sore, sebagian besar mahasiswa berada di ruang utama. Sementara Athar dan Sita mendapat tugas mengecek daftar buku di sudut perpustakaan bagian belakang. Sita lupa kalau ada tugas berdua dengan Athar. Ia akan meminta ditemani oleh sahabatnya Nisa agar kejadi beberapa waktu lalu tidak terulang.
Namun, kelelahan membuat ia lupa dan berjalan di belakang Athar menuju sudut perpustakaan. Tempat itu cukup sepi. Hanya ada rak-rak tua dan beberapa meja baca yang belum digunakan.