Kesucian yang Ternoda

maspupah Az-Zahra
Chapter #14

Tatapan yang Berbeda

Pagi itu, Sita merasa ada yang berbeda sejak pertama kali menginjakkan kaki di kampus. Bukan bangunannya, bukan udara paginya, bukan pula suara mahasiswa yang bersahutan di sepanjang koridor. Semuanya tampak sama. Hanya tatapan orang-orang yang berubah.

Sita berjalan sambil memeluk beberapa buku di dada. Dari ujung koridor, dua orang mahasiswi yang sedang berbicara tiba-tiba berhenti ketika melihatnya.

Salah satunya menatap Sita. Yang lain berbisik. Sita tidak mendengar apa yang mereka katakan. Namun, ketika ia semakin dekat, keduanya mendadak sibuk dengan ponsel.

Sita terus berjalan. Langkahnya tidak berubah. Hanya genggaman tangannya pada buku yang semakin erat.

“Assalamu'alaikum." Biasanya sapaan itu akan dibalas dengan senyum. Pagi ini, hanya terdengar jawaban pendek. “Wa'alaikumussalam.”

Sita berhenti di depan ruang kelas. Ia menatap teman yang menjawabnya tadi. Perempuan itu langsung menunduk dan membuka buku. Sita menarik napas pelan.

Mungkin mereka sedang lelah. Mungkin ia terlalu banyak berpikir. Ia memilih tidak mempermasalahkannya. Namun, ketika masuk ke kelas, perasaan itu semakin sulit diabaikan.

Beberapa mahasiswa yang biasanya duduk bersamanya memilih tempat lain. Seorang teman yang biasanya meminta catatan kuliah hanya melirik sebentar, lalu berkata kepada orang di sampingnya.

“Nanti saja.”

Sita mengangguk. “Oke.”

Ia duduk sendiri, membuka buku. Pulpen diletakkan. Dosen masuk. Pelajaran dimulai. Sita berusaha memperhatikan penjelasan di depan kelas. Namun kalimat-kalimat dosen seperti berjalan terlalu cepat. Pikirannya justru tertahan pada satu hal. Kenapa semua orang seperti menjauh?

Saat jam istirahat, Nisa datang membawa dua botol air mineral. Hari ini ia tidak memasuki kelas bersmama Sita.

Nisa meletakkan salah satunya di meja Sita. “Minum," ucapnya pelan dan tegas tidak seperti biasanya penuh dengan senyuman dan candaan.

Sita tersenyum kecil. “Terima kasih.”

Nisa duduk. Beberapa detik mereka diam.Sita menatap wajah sahabatnya. “Nis.”

“Hm?”

“Kamu mau ngomong sesuatu?”

Nisa tidak langsung menjawab. Tangannya memainkan tutup botol. “Kamu belum lihat grup?”

“Grup apa?”

Nisa mengeluarkan ponsel. Ada beberapa pesan yang sudah dibacanya sejak pagi. Ia ragu menunjukkan kepada Sita. Namun Sita akhirnya mengambil ponsel itu.

Satu foto muncul di layar. Foto Athar dan dirinya di koridor belakang perpustakaan. Athar memegang tubuhnya. Sita tampak berada sangat dekat dengannya, bahkan ia lupa kalau kemarin kedua tangannya memegang erat lengan Athar.

Di bawah foto itu, beberapa komentar sudah bermunculan.

"Bukannya mereka selalu bicara soal menjaga batas?"

"Kalau memang agamis, kok bisa begitu?"

"Pantas sering bareng."

"Jadi selama ini kegiatan literasi cuma alasan?"

Sita membaca semuanya. Wajahnya perlahan kehilangan warna. Jarinya berhenti menggulir layar. “Nis….”

“Iya.”

“Ini….”

“Aku tahu.”

“Jadi selama ini orang-orang berpikir….” Sita tidak melanjutkan kalimatnya.

Nisa menghela napas. “Aku nggak percaya.”

Sita menatapnya. Nisa menggenggam tangannya. “Aku kenal kamu.”

Mata Sita mulai panas. Namun, ia menahan air mata. “Jangan jelaskan apa-apa ke mereka,” katanya.

Lihat selengkapnya