Kesucian yang Ternoda

maspupah Az-Zahra
Chapter #15

Memilih Pergi

Sejak foto itu beredar, kampus tidak pernah benar-benar kembali menjadi tempat yang sama bagi Athar. Bangunan yang sama. Koridor yang sama. Perpustakaan yang sama, bahkan orang-orang yang sama.

Namun setiap kali Athar melangkah melewati halaman fakultas pendidikan, selalu ada sesuatu yang membuat langkahnya terasa lebih berat. Bukan karena ia takut dengan bisikan orang lain, tetapi karena ia tahu ada seseorang yang ikut menanggung akibat dari sesuatu yang tidak pernah mereka rencanakan.

Sita. Nama itu sering muncul di kepalanya setiap kali melihat mahasiswa lain menoleh terlalu lama.

Suatu siang, Athar berdiri di depan papan pengumuman fakultas sambil memegang beberapa lembar dokumen organisasi. Dari kejauhan, dua mahasiswa yang sedang berjalan tiba-tiba memperlambat langkah ketika melihatnya.

Salah satunya berbisik. Athar tidak mendengar seluruh kalimatnya. Hanya potongan suara.

“... Sita juga....”

Ia menundukkan kepala. Tangannya meremas ujung kertas. Beberapa meter di belakangnya, Sita baru saja keluar dari ruang dosen. Ia berjalan bersama Nisa sambil membawa map.

Ketika melihat Athar, langkahnya sempat berhenti. Tatapan mereka bertemu, tidak lama. Sita kemudian mengangguk kecil.

Athar membalasnya. Tidak ada percakapan. Mereka sudah terbiasa seperti itu sejak foto tersebut beredar. Saling melihat. Saling mengerti, lalu memilih melanjutkan langkah. Bukan karena marah. Bukan karena tidak peduli. Justru karena terlalu banyak hal yang tidak bisa mereka katakan.

Athar mulai memperhatikan perubahan pada Sita. Perempuan itu masih datang ke kegiatan organisasi. Ia masih tersenyum kepada anak-anak ketika menjalankan program literasi. Ia masih menyelesaikan laporan tepat waktu, dan ia masih mengenakan pakaian yang sama-sama sederhana dan tertutup seperti biasanya.

Namun, ada sesuatu yang hilang dari wajahnya. Keceriaan yang dulu muncul tanpa perlu dicari kini hanya terlihat ketika ia sedang bersama anak-anak. Begitu kembali ke lingkungan mahasiswa, senyumnya seperti ikut disimpan.

Athar pernah melihatnya duduk sendirian di sudut sekretariat setelah semua orang pulang.

Sita membuka laptop. Ia tampak mengetik, menghapus, mengetik lagi, lalu, berhenti. Ia menutup wajah dengan kedua tangan.

Athar berdiri di luar pintu. Ia tidak masuk. Saat itu, ia merasa kehadirannya mungkin bukan lagi sesuatu yang membuat Sita merasa aman. Mungkin justru sebaliknya. Ia mundur perlahan.

Malam itu, Athar tidak langsung pulang. Ia duduk di atas motornya di halaman kampus yang mulai sepi. Lampu-lampu gedung satu per satu dimatikan.

Ponselnya bergetar. Pesan dari grup organisasi masuk.

"Besok rapat lagi untuk program literasi. Dua minggu lagi program ini selesai. Koordinator lapangan dimohon kehadirannya."

Athar membaca pesan itu cukup lama. Ia tahu amanah masih berada di pundaknya. Ia adalah salah satu duta literasi kampus. Ia juga masih dipercaya sebagai koordinator kegiatan aktivis literasi.

Pergi begitu saja bukan pilihan yang bisa diambil tanpa pertimbangan. Tetapi, semakin lama ia bertahan, semakin sering Sita harus berhadapan dengan tatapan orang-orang yang menghubungkan mereka. Padahal mereka bahkan tidak satu kelas. Tidak pernah duduk sebangku. Tidak pernah mengerjakan tugas kuliah bersama. Mereka hanya berasal dari fakultas yang sama, Pendidikan.

Pertemuan mereka hampir selalu terjadi karena organisasi. Rapat. Program literasi. Kegiatan sekolah binaan. Festival dan tugas-tugas yang memang membuat mereka harus berada dalam satu tim. Sesekali bertemu di perpustakaan hanya untuk membahas program. Kadang basa-basi menanyakana kabar.

Namun bagi sebagian orang, kebersamaan dalam organisasi sudah cukup untuk membangun cerita sendiri. Athar menghela napas panjang. Ia menatap gedung kampus, lalu menunduk.

“Kalau aku tetap di sini, sampai kapan Sita harus menanggung ini?” Tidak ada yang menjawab.

Beberapa hari kemudian, Athar mulai mengurus sesuatu yang tidak diketahui siapa pun. Ia mendatangi bagian akademik. Mengisi beberapa formulir. Mengurus surat pindah. Menghubungi kampus tujuan. Semuanya dilakukan diam-diam.

Bukan karena ia ingin melarikan diri. Justru karena ia ingin memastikan keputusan itu tidak menjadi beban bagi orang lain. Ia tetap menyelesaikan tugas-tugas organisasi yang menjadi tanggung jawabnya.

Athar tetap hadir dalam rapat. Ia tetap mengawal kegiatan literasi. Ia tetap memastikan program yang sudah direncanakan berjalan. Ia tidak menghilang. Ia hanya sedang menyiapkan jalan keluar.

Suatu sore, setelah rapat organisasi selesai, Athar duduk di ruang sekretariat bersama ketua organisasi.

“Athar, kamu akhir-akhir ini sering ke bagian akademik. Ada apa?”

Athar terdiam beberapa saat. “Aku mau pindah kampus.”

Ketua organisasi itu langsung menatapnya. “Serius?”

Athar mengangguk.

“Kenapa?”

“Keputusan pribadi.”

“Kamu punya masalah di sini?”

Athar tersenyum tipis. “Bukan masalah kampus.”

Ia menatap meja. “Aku cuma merasa ada hal yang lebih baik kalau aku selesaikan dengan cara pergi.”

Ketua organisasi itu masih terlihat bingung. “Program literasi gimana?”

“Aku tetap selesaikan amanah yang sedang berjalan. Aku nggak akan meninggalkan semuanya begitu saja.”

“Terus setelah itu?”

Lihat selengkapnya