Nomor Ibu muncul ketika aku sedang membetulkan kata “pengabdian” untuk ketujuh kalinya. Seorang calon kepala dinas menulis bahwa hidupnya adalah pengabdian, lalu mengejanya sebagai pengabdiaan, pengapdian, dan terakhir penghabdian. Yang terakhir membuatku berhenti agak lama. Sudah salah, pakai h segala. Aku belum selesai menimbang apakah huruf itu perlu dikasihani ketika ponsel kembali bergetar di samping keyboard. IBU. Di belakang, mesin potong kertas masih meraung. Aku membiarkannya satu dering, dua dering, sampai pisau besar turun dan ruangan mendadak lebih sepi. Getaran ponsel jadi terdengar kayak serangga nyangkut di gelas. Mbak Santi melirik dari seberang sambil membolak-balik katalog pupuk yang warna hijaunya meleset jadi lumut kamar mandi. “Angkat, Ras. Nanti nelepon toko lagi.” Aku menatapnya. “Jangan lihat saya begitu,” lanjutnya. “Pernah, kan?” Pernah. Ibu pernah menelepon percetakan dan bertanya kepada Yoga, yang baru tiga hari magang, apakah aku sedang sakit, marah, atau punya laki-laki. Yoga menjawab semuanya dengan kurang tahu, Bu, lalu seminggu memandangku seperti aku menyimpan skandal.
Aku mengangkat sambil membuang napas. “Halo, Bu…” Tidak ada halo balik. “Lagi sibuk?” tanya Ibu. Di belakang suaranya ada sendok kena panci, televisi keras, lalu suara lemari dibuka. “Lumayan.” Ibu diam sebentar, kemudian suaranya memanjang, “Nduk… Bapak pensiun minggu depan. Kamu inget, kan?” Aku membuka kalender di komputer walaupun tanggalnya sudah hafal. “Ingaaaat.” Ibu langsung mendecakkan lidah. “Dih, kok kayak enggak ikhlas gitu.” Aku menarik napas lagi. “Ingat, Bu.” Baru setelah itu ia masuk ke maksud sebenarnya. “Umm… buku kenangannya sudah jadi. Tinggal kamu rapikan, ya? Bapak maunya kamu yang pegang. Katanya kalau orang lain nanti bahasanya asal.” Tanganku berhenti di mouse. Firasatku jelek. “Berapa halaman?” Ibu menjawab enteng, “Enggak banyak. Seratus dua puluhan. Ada foto-foto juga. Kamu kan cepet.” Aku menjauhkan ponsel dari mulut. “Haaaaargh…” “Apa?” “Enggak, Bu.” Seratus dua puluh halaman adalah jumlah yang dianggap sedikit oleh orang yang belum pernah disuruh merapikan seratus dua puluh halaman. “Kirim file-nya.”
Ibu malah berkata, “Pulang aja sekalian. Bantu persiapan. Bayu juga lagi ngurus tes, Nisa praktik, terus Ibu sendirian.” Nah. Mulai. Aku melihat deadline tiga buku di kalender. “Aku ada deadline Jumat.” Ibu menjawab, “Ohh… tapi acara Bapak Sabtu. Kamu pulang Kamis malam juga bisaaa.” “Jumat aku harus kirim tiga buku, Bu…!” Nadaku naik. Langsung terasa sendiri setelah keluar. Seberang telepon sunyi; tutup panci bergeser, lalu keran dimatikan. “Ya…” kata Ibu akhirnya. “Ya sudah. Ibu cuma bilang. Bapak juga sebenarnya enggak minta.” Aku sudah mau memutus telepon. Jempolku bahkan sempat bergerak ke tombol merah, terus berhenti sendiri. Sama Ibu memang begitu. Mau menutup telepon pun tubuhku masih sempat ingat sopan santun. Dari meja seberang, Mbak Santi sudah mengangkat mata. Aku memijat pangkal hidung. “Yayayaya… aku pulang Kamis.” Nada Ibu langsung berubah. “Nah. Kesuwun yo, Nduk.”
Aku sudah hendak menurunkan ponsel ketika Ibu seperti baru ingat sesuatu. “Oh iya, ada sedikit urusan sekolah juga. Nanti Bapak yang ngomong.” Tanganku naik lagi. “Urusan apa?” “Nanti ajaaa. Biar enggak salah ngomong di telepon.” “Bu, urusan apa?” “Udah, nanti Bapak.” Lalu sambungan mati. Aku masih menempelkan ponsel ke telinga sebentar, mendengar tuuut sendirian, kemudian meletakkannya di meja. Mbak Santi menunggu sampai tanganku lepas dari ponsel baru bertanya, “Seratus dua puluh halaman?” “Katanya enggak banyak.” Aku menyandarkan punggung. “Hoooofft.” Dia mendengus kecil. “Setiap keluarga punya satu orang yang dianggap bisa mengerjakan apa aja karena pernah berhasil buka PDF.” Aku tertawa. “Jahat.” “Benar?” “Sayangnya.” Mbak Santi menjepret stapler dua kali lalu bertanya lagi, “Urusan sekolah apa?” “Belum tahu. Katanya nanti Bapak.” Ia mengangguk pelan. “Kalau ibumu bilang sedikit, bawa meteran.” Aku kembali ke monitor sambil masih senyum, menghapus penghabdian, lalu mengetik pengabdian. Garis merahnya hilang. Satu masalah selesai.
Pukul sebelas, Yoga datang membawa laptop dengan muka yang sudah cukup menjelaskan bahwa Microsoft Word habis berbuat sesuatu. “Mbak, ini kenapa daftar tabel aku lompat-lompat?” katanya sambil mendorong laptop ke mejaku. Aku melihat angka 2.3 disusul 4.1, turun lagi ke 2.6, lalu entah bagaimana ada 7.2 di bab tiga. “Ini kamu ketik nomornya manual?” tanyaku. Yoga menggaruk pipi. “Sebagian.” Aku menoleh. “Sebagian berapa?” Dia nyengir. “Hehe… Sebagian banyak.” “Ya Allah...” Aku menarik kursinya, rodanya berdecit saat mendekat dan aku menunjuk dua judul tabel di layar. “Lihat yang ini sama yang ini. Cara bikinnya beda. Satu pakai nomor otomatis, satunya kamu ketik sendiri. Makanya pas daftar tabel diperbarui, Word bacanya berantakan.” Yoga mendekat. “Oh… jadi bukan daftar tabelnya yang rusak?” “Bukan. Judul tabelmu yang perlu disamain dulu. Habis itu baru update lagi.” Ia mengangguk, kali ini benar-benar melihat apa yang kutunjuk. “Berarti yang manual dibenerin semua?” “Iya. Sekali aja. Jangan tiap nomor kamu tambal sendiri.” Dari belakang, Mbak Santi menyela tanpa menoleh, “Dengerin Raras buat urusan dokumen aja, Yoga. Jangan dipakai buat hubungan.” Yoga menoleh kepadanya. “Kenapa, Mbak?” “Nanti putus gara-gara margin.” “Saya enggak punya pacar.” Mbak Santi akhirnya melihatnya. “Nah.” Yoga tambah bingung. Aku menggeser laptop kembali ke depannya. “Udah, kerja.”