Kesuwun

Jaudan Nahidl Ghybran
Chapter #2

Chapter 2 - Seratus Dua Puluh Tujuh Halaman

Buku Bapak dimulai dengan foto sebuah bangunan tanpa pintu. Batako telanjang, lantai tanah, atap asbes bekas kandang ayam. Di bawahnya tertulis miring: Dari keterbatasan, lahirlah harapan. Aku memperbesar foto sampai butiran gambarnya mulai pecah. Bapak dan empat laki-laki lain berdiri di depan bangunan sambil memegang cangkul. Semuanya menghadap kamera. Bagian yang paling kuingat justru tidak masuk foto: semut merah di dekat tumpukan pasir, Bayu yang terus minta digendong, dan Ibu menyuruhku menjaganya selama rapat yayasan. Aku mengecilkan foto lagi. Di layar, bangunan itu kembali terlihat sederhana dan heroik.

Pesanan toko sudah selesai sejak setengah jam lalu. Mesin cetak besar diam, tinggal kipas exhaust yang bunyinya mendengung dari belakang dan printer kasir yang sesekali mencetak nota pelanggan terakhir. Kalau siang, aku biasanya mengerjakan tiga hal sambil ditanya empat orang. Malam lebih enak. Bau tinta masih ada, tapi kehilangan rasa terburu-burunya. Aku menaruh nasi bungkus yang belum disentuh di sebelah mouse, kemudian melihat struktur buku Bapak dari awal. Lima bab: Masa Kecil, Panggilan Menjadi Guru, Merintis Sekolah, Menjaga Amanah, dan Mewariskan Nilai.

Tidak ada bab tentang utang. Gelang kawin Ibu yang dijual buat beli semen tidak mendapat satu baris. Bimbingan belajarku yang berhenti karena uangnya dipakai untuk membayar papan tulis juga tidak ada. Aku sempat mencari kata gelang lewat fitur Find, lalu semen, lalu namaku sendiri. Dan hasil namaku tetap dua. Sama seperti tadi sore.

Pada halaman dua puluh tiga, Bapak menulis panjang tentang keluarga yang memahami perjuangan. Kalimat terakhirnya berbunyi: Istri dan anak-anak memahami bahwa perjuangan membutuhkan kesabaran, ketulusan, dan kesediaan mendahulukan kepentingan bersama. Lalu setelah itu aku membaca bagian kepentingan bersama dua kali, lalu membuka komentar di sampingnya.

Kepentingan bersama siapa?

Ketik.

Diam.

Aku melihat komentarku sendiri beberapa detik, kemudian menekan delete sampai kotaknya hilang.

Pintu depan percetakan berbunyi. Mbak Santi masuk lagi padahal tadi sudah pamit, membawa sebungkus nasi goreng dan botol air mineral. “Ini.” Bungkus nasi ditaruh di samping tanganku. “Saya udah makan.” Matanya menjurus ke layar. “Buat saya?” tanyaku. Bibirnya sudah siap monyong. “Buat tikus. Kamu kebetulan duduk di sini.” Aku membuka karet bungkusnya. “Terima kasih, Mbak.” Ia melirik layar lagi. “Masih buku Bapak?” “He-em.” “Jangan mati di toko saya.” “Kenapa? Takut diperiksa polisi?” “Iya. Nanti dikira saya mempekerjakan orang paksa.” Aku melihatnya. Mbak Santi mengangkat bahu. “Saya bayar BPJS kamu, Ras. Itu bukti kasih sayang paling resmi.” Aku tertawa sambil membuka sendok plastik. “Romantis banget.” “Ya sudah. Makan.”

Baru empat suapan, WhatsApp dari Ibu masuk. Jangan lupa foto keluarga yang di rumah dimasukkan semua ya. Belum sempat kubalas, sebuah foto menyusul. Bukan foto keluarga. Tabel penuh angka, garis, bunga, angsuran, dan stempel koperasi yang menutup sebagian tulisan. Pesan berikutnya: Sama ini nanti coba dilihat. Bapak bilang kamu ngerti angka. Aku menaruh sendok. Foto kubuka penuh. Sebagian angka buram karena difoto miring, tapi jumlah di baris paling bawah masih terbaca.

Rp286.000.000.

Aku mendekatkan wajah ke layar. “Hah?”

Mbak Santi yang sedang mencari sesuatu di laci kasir menoleh. “Kenapa?” Aku memiringkan ponsel. “Ini kayaknya utang sekolah.” Ia tidak langsung berkomentar, cuma menyipit melihat angka dari jauh. “Dua ratus delapan puluh enam?” “He-em.” “Sedikit?” Aku menatapnya. Mbak Santi menutup laci. “Tadi katanya sedikit.” “Jangan mulai, Mbaaak..”

Lihat selengkapnya