Kesuwun

Jaudan Nahidl Ghybran
Chapter #3

Chapter 3 - Paragraf Pertama

Bapak menelepon ketika kereta sudah melewati Pekalongan. Laptop terbuka di paha, ditahan satu tangan karena meja lipatnya bergoyang setiap roda menghantam sambungan rel. Di kursi seberang, seorang ibu sedang menyuapi anak laki-lakinya telur rebus sambil memutar pesan suara keluarga dengan volume yang membuat tiga baris kursi ikut tahu ada sepupu bernama Dimas yang belum pulang. Bau minyak kayu putih bercampur kopi sachet dan sesekali bau toilet setiap pintu otomatis terbuka. Aku baru selesai memindahkan satu foto ketika nama Bapak muncul di layar. “Sudah sampai mana?” tanyanya setelah kuangkat. “Baru lewat Pekalongan.” Bapak langsung menyambung, “Bukunya?” Aku melihat angka halaman di bawah dokumen. Seratus dua puluh tujuh sudah turun menjadi seratus sembilan belas setelah foto ganda, dua sambutan kosong, dan tiga versi riwayat hidup yang isinya nyaris sama kuhapus. “Layout awal hampir selesai.” Bapak menggumam sebentar, lalu berkata, “Paragraf pertama kok begitu?” Tanganku berhenti di trackpad. “Begitu bagaimana?” “Dingin. Kayak tulisan orang enggak punya rasa.” Ia mengatakannya tanpa nada marah, malah terdengar seperti sedang menunjukkan typo. “Bapak baca dua kali, Ras. Enggak kebawa apa-apa.”

Kereta berguncang cukup keras sampai kursor pindah satu baris. Aku mengembalikannya sambil bertanya, “Terus Bapak maunya kayak gimana?” Di seberang telepon terdengar seseorang memanggil, Bapak menjawab sebentar tanpa menutup sambungan, kemudian kembali kepadaku. “Ya yang menyentuh. Orang baca itu langsung kebayang dulu susahnya seperti apa. Jangan cuma kalimatnya benar. Isinya juga dirasa.” Aku mengusap tepi laptop dengan ibu jari. “Nanti aku tulis ulang.” “Nah. Dari dulu kamu kalau nulis begitu. Banyak mikirnya. Kadang sampai orang yang baca enggak tahu harus merasa apa.” Tepat ketika Bapak mengatakan itu, anak di depanku menjatuhkan setengah kuning telur ke lantai. Ibunya buru-buru membungkuk sambil menahan tangan si anak. “Eh, jangan diambil lagi. Jorok. Udah, udah, Mama ambilin.” Aku melihat mereka terlalu lama sampai Bapak memanggil, “Raras?” “Hm?” “Dengar, kan?” “Dengar.” Bapak menghela napas kecil. “Kalau dikoreksi jangan diam begitu, lah. Bapak ngomong supaya hasilnya bagus, bukan nyari salah kamu.” Aku menurunkan mata ke layar. “Iya, Pak.” “Sama komentar yang Bapak kasih dicek. Yang terlalu kasar enggak usah dimasukin. Ini buku pensiun, bukan berita kriminal.” Aku hampir menjawab sesuatu, tapi yang keluar cuma, “He-em.” “Apa?” “Enggak.... Di kereta berisik...” Padahal sinyal penuh dan suara Bapak jelas sekali.

Setelah telepon selesai, tiga komentarnya masih terlihat di margin: Jangan pakai kata miskin terlalu sering. Kurang elegan. Lalu Bagian jual rokok ketengan diganti membantu berdagang. Yang terakhir: Cerita dipukul Mbah tidak perlu. Orang yang meninggal jangan dibuka aibnya. Aku mencoba membaca bab Masa Kecil sambil membayangkan semua revisi itu sudah diterapkan. Jalan kaki tujuh kilometernya masih ada. Nasi jagung masih ada. Kata miskin berkurang. Rokok ketengan naik pangkat menjadi membantu berdagang. Mbah Kakung hilang bersama darah di bibir. Anehnya, setelah dirapikan seperti itu, bagian yang tersisa justru terdengar lebih mirip paragraf pertama yang tadi dibilang terlalu dingin. Aku menutup panel komentar dan tanpa sengaja tertawa kecil. Umur sebelas tahun tulisanku terlalu gelap. Umur dua puluh sembilan terlalu dingin. Susah juga ternyata mengatur cuaca.

Waktu umur sebelas, aku pernah menulis cerita tentang perempuan yang tinggal di dalam sumur. Yang pertama kuingat malah kertas folionya: garis biru, tulisan tangan terlalu kecil, noda minyak di sudut karena kubawa pulang bersama gorengan. Guru Bahasa Indonesia memberiku sembilan puluh dan menulis dengan tinta merah, Imajinasi bagus. Akhirnya terlalu gelap. Malamnya Bapak membaca cerita itu di meja makan. Baru dua paragraf, dahinya sudah berkerut. “Kenapa harus sumur?” Aku yang sedang menyendok nasi menjawab, “Karena dia tinggal di sana.” Bapak memandangku seperti jawabanku justru menambah masalah. “Yaaa.. kenapa HARUS tinggal di sumur??” “Memang ceritanya begitu, Pak.” Ia melanjutkan beberapa baris, lalu menaruh kertas di dekat piring. “Anak kecil kok pikirannya begini. Nulis yang berguna kek. Tentang sekolah, guru, cita-cita. Masa, ada orang kok.. tinggalnya di sumur...?” Aku masih ingat kesal karena menurutku ia tidak membaca dengan benar. “Dia bukan dimasukin ke sana, Pak..” Bapak mengangkat mata. “Hmm, Terus??” “Dia memang sudah ada di situ.” Ada napas panjang dari hidungnya sebelum kertas dikembalikan kepadaku. Salah satu sudutnya terlipat kena dasar piring. Beberapa tahun kemudian aku pernah menemukan lembar yang sama di dapur; bagian belakangnya sudah dipakai Ibu untuk mencatat harga minyak goreng, gas elpiji, dan utang telur.

Anak di kursi seberang rupanya sudah bosan dengan telur dan mulai menekan tombol meja lipat berkali-kali. Tak. Tak. Tak. Ibunya menangkap pergelangan tangannya. “Dek, nanti rusak.” “Bosen...” “Isshh.. lihat luar.” Anak itu menengok jendela sebentar lalu protes, “Sawah semua, hmph!.” Ibunya berpikir beberapa detik, kemudian menyuruhnya menghitung tiang listrik. “Sampai berapa, Bu..?” tanyanya. “Seratus.” “Hah? memang kalau sudah seratus dapat apa?” Ibunya menjawab tanpa berpikir, “Dapat tidur.” Anak itu langsung menggeleng keras. “Humm.. Enggak mau...” “Ya udah.. dua ratus!” Dia menatap mamanya lama sekali, mungkin mulai sadar sistem hadiahnya mencurigakan. Aku menahan senyum dan menutup laptop sebentar. Di kaca, wajahku bertumpuk dengan sawah, gudang pupuk, atap seng, kemudian halaman belakang rumah-rumah yang cuma terlihat beberapa detik sebelum hilang. Seorang anak perempuan berdiri di atas kursi plastik untuk menjemur seragam. Tidak jauh darinya, bayi duduk di tanah sambil memukul panci dengan sendok.

Lihat selengkapnya