Kesuwun

Jaudan Nahidl Ghybran
Chapter #4

Chapter 4 - Meja Makan

Saat kuamati, rumah tampak lebih kecil setiap kali aku pulang. Pagar besinya baru dicat hijau, tapi karat di dekat engsel masih muncul seperti flek yang gagal ditutup bedak. Enam pasang sandal berserakan di teras; satu sandal jepit tipis tanpa pemilik tetap tergeletak miring dekat pot bunga. Aku belum sempat mengetuk ketika pintu dibuka dari dalam. “Aduh… kurus lagiii,” kata Ibu sambil langsung menarikku masuk. Pelukannya kena dagu karena tubuhnya lebih pendek. Bau minyak telon, bawang goreng, dan bedak menempel di bajunya, campuran yang sama sejak aku masih harus berdiri di kursi kalau mau mengambil gelas dari rak atas. Tangannya sudah bergerak ke koper sebelum selesai memeluk. “Bawa apa aja? Berat amat.” Aku menahan gagangnya. “Laptop, baju.” Ibu melihat plastik yang menggantung di tanganku. “Itu?” “Lumpia.” Wajahnya langsung berubah. “Nahhh, itu baru anak pulang.” Ia mengambil tas paling berat juga meski aku sudah bilang biar kubawa sendiri. “Udah. Kamu baru dari kereta. Masuk dulu.”

Di ruang tengah, Bapak duduk bersama dua guru dengan kertas susunan acara terbuka di meja. Ada daftar jumlah kursi, nama pengisi sambutan, dan coretan panah yang kelihatannya sudah pindah tiga kali. Bapak bangkit begitu melihatku. “Nah, ini editor kita dataaang, Ha ha hahaha.” Nada suaranya lebih lebar daripada ketika meneleponku di kereta, suara yang dipakai kalau ada orang lain di ruangan. Salah seorang guru berdiri dan menyalamiku dengan dua tangan. “Mbak Raras, ya? Wah, Pak Darma sering cerita. Katanya kerja di penerbitan.” “Percetakan, Bu...” “Iya, itu. Sama aja, kan? Pokoknya buku-buku, deh.” Aku hampir menjelaskan bedanya, lalu melihat Bapak tersenyum bangga di sampingnya dan memutuskan membiarkan percetakan menjadi penerbitan selama lima menit. Bapak menepuk punggung kursi. “Nanti bukunya dilihat lagi, Ras. Pak Surono bilang foto gedung lama bagus kalau dibesarkan.” Aku cuma mengangguk. “Besok ya, Pak? Laptop Raras.. masih di tas.” “Iya, iyaaa... Istirahat dulu. Kamu baru sampai.” Kalimatnya terdengar tulus. Kertas revisi masih berada di bawah telapak tangannya.

Aku lolos ke dapur dan langsung harus berjalan menyamping. Lorong menuju kamar mandi dipenuhi kardus air mineral, karung beras, mi, gula, saus, plastik, kotak makan, dan dua baskom besar yang ditumpuk terbalik. Ibu sedang membuka satu buku kecil berisi angka-angka rapat ketika aku datang. “Panitia bilang konsumsi lima ratus. Ibu bikin lebih dikit, lah. Nanti kalau orang datang bawa suami, anak, terus kurang… aduh, malunya.” Aku melihat tumpukan beras. “Biayanya dari mana?” Ujung bolpoin Ibu berhenti sebentar di atas daftar. “Campur. Panitia ada, sekolah ada, Ibu pakai sedikit tabungan.” “Hah? Tabungan siapa, Bu?” “Ya tabungan Ibu sama Bapak, Nduk.” Ia langsung menutup bukunya setengah, kemudian menunjuk baskom merah di lantai. “Udah, daripada baru pulang langsung jadi auditor. Itu cabainya tolong petikin.” Di pintu kulkas, nota obat Ibu tertahan magnet berbentuk stroberi. Di bawahnya ada kertas cicilan kulkas dengan dua bulan yang belum dicoret. Aku mengambil baskom dan duduk di bangku pendek. Ibu ikut duduk sambil mengupas bawang. “Bu.. Ibu capek?” tanyaku. “Namanya juga acara.” “Aku mau yang jawab Ibu, bukan pantia, Bu.” Ibu mendengus, menyingkirkan kulit bawang dengan punggung pisau. “Kalau Ibu jawab capek, terus, cabainya bisa kepetik sendiri gitu?” Kuku telunjuknya terbelah dekat ujung; ada plester kecil di pergelangan tangannya. “Kenapa enggak katering aja?” tanyaku. Ibu menghela napas berat, “Mahal. Lagian orang-orang maunya masakan Ibu. Katanya lebih enak kok. Hhhh hmm....” Ia mengatakan bagian terakhir sambil tersenyum sedikit. Bangga dan capek ternyata bisa duduk di bangku yang sama tanpa saling mengusir.

Bu Yati masuk lewat pintu belakang membawa dua nampan aluminium dan cerita soal harga telur yang naik lagi. Nampannya ditaruh, lalu tangannya langsung ikut masuk baskom cabai seolah rumah kami punya sistem perekrutan sendiri. “Lho, Raras pulaaang. Tambah cantik, ih.” Aku baru sempat tertawa ketika matanya menyapu wajahku dan pertanyaan berikutnya keluar, “Anaknya berapa sekarang?” Tanganku berhenti memegang cabai. “Nikah aja belum, Bu.” “Hah? Belum?” Bu Yati menoleh ke Ibu seolah ada tahap administrasi yang terlewat. Ibu tertawa kecil sambil tetap mengupas bawang. “Dia mah kerja terus.” “Ya kerja boleeeh, tapi jangan kelamaan lho yhaa... Ibumu keburu tua nanti.” Aku melirik Ibu. “Hubungannya apa sama Ibu tua?” Bu Yati sudah keburu bercerita tentang anak sulungnya yang kerja di kapal dan tiap bulan kirim uang, cuma mukanya hampir tidak pernah kelihatan. “Uang masuk, iya. Alhamdulillah. Tapi orang tua tuh kadang pengin lihat anaknya duduk aja, lho. Enggak ngapa-ngapain.” Ibu mengangguk sambil berkata, “Nah, itu.” Cabai di tanganku pecah dan bijinya masuk ke sela kuku. Aku mengisap napas. “Nah apanya?” Ibu malah menyodorkan baskom lain. “Ini penuh. Ganti yang itu.” Bu Yati sudah pindah ke cerita telur sebelum aku sempat mengejar jawaban.

Di lantai atas, Nisa sedang mengganti seprai kamar lamaku. Kamar itu sudah kehilangan hak menyebut dirinya kamarku: buku kuliah Nisa memenuhi meja, kardus undangan sekolah masuk ke bawah ranjang, beberapa seragam lama tergantung di lemari, dan piagam lombaku masih menempel di dinding, mungkin karena mencopot selotipnya lebih merepotkan daripada membiarkannya. Nisa menarik sudut seprai sampai tegang. “Biar enggak bau lemari,” katanya. Aku meletakkan tas di lantai lalu bertanya, “Nis, soal pinjaman sekolah kamu tahu?” Tangannya tetap sibuk menyelipkan kain ke bawah kasur. “He-em.” “Seberapa tahu?” Nisa berhenti, melihat sudut kasur yang sudah rapi, lalu membetulkannya lagi padahal tidak ada yang salah. “Sedikit.” Aku menunggu. Dia tahu aku menunggu; aku tahu dia tahu. Tetap saja tidak ada kalimat berikutnya. “Sedikit tuh apanya?” tanyaku akhirnya. Nisa baru menoleh. “Bapak nyari cara biar cicilannya lebih ringan. Pernah dengar nama Mbak disebut… tapi aku enggak tahu bentuknya apa.” Dari bawah, Ibu berteriak, “NISAAA! Ayam kecapnya lihat, nanti gosooong!” Nisa langsung membalas, “IYAAA!” lalu menatapku sebentar. “Nanti malam kayaknya dibahas.” “Semua orang bilang nanti...” Nisa mengangkat satu bahu. “Ya gitu deh... berarti kompak.” Dia turun duluan.

Malamnya kami makan berlima di meja dengan taplak buah anggur yang sudah ada sejak aku SMA. Sayur asem, ikan asin, sambal terasi, tempe goreng, dan ayam kecap memenuhi meja sampai teko air harus ditaruh dekat siku Bapak. Ibu mengambil paha ayam sebelum aku menyentuh sendok dan menjatuhkannya ke piringku. “Makan yang banyak. Di Semarang siapa yang masakin kamu?” “Beli.” “Nah, tuh. Pantes kurus. Sesekali masak sendiri, Ras. Perempuan kalau enggak bisa masak nanti repot.” Bayu yang sedang menggulung nasi dengan ujung sendok langsung nyeletuk, “Enggak repot, Bu. Mbak Raras tinggal nikah sama abang nasi goreng.” Aku menoleh kepadanya. “Tesmu gimana?” Senyumnya langsung turun setengah. “Yaaa… masih dalam tahap menerima hasil usaha dan menyerahkan sisanya pada Tuhan.” Nisa mendengus. “Belajarnya dua puluh menit.” Bayu menunjuk adiknya pakai sendok. “Kamu enggak tahu proses di balik layar. ya Nis! Hmm...” “Aku lihat kamu tidur empat jam.” “Heyheyhey...! Itu konsolidasi memori, Nis. Ilmiah.” Bapak yang sedari tadi memisahkan duri ikan mengangkat kepala. “Sudah-sudah... jangan saling menjatuhkan. Saudara itu harus saling dukung. Bayu, kalau memang tes ya belajar yang serius. Nisa juga enggak perlu nyindir terus.” Bayu menjawab, “Siap, Pak,” dengan volume jauh lebih kecil, sementara Nisa cuma memecah tempe menjadi dua dan meneruskan makan.

Lihat selengkapnya