Pagi berikutnya Ibu membangunkanku dengan tiga ketukan, jeda, lalu dua ketukan lagi. Polanya masih sama sejak aku sekolah. Tiga ketukan berarti bangun. Dua berikutnya berarti menurut Ibu aku sudah keterlaluan lama pura-pura tidak dengar. Aku membuka mata setelah ketukan kelima. Tidurku bahkan belum dua jam; lidah pahit, tengkuk pegal, dan cahaya dari sela gorden rasanya terlalu putih. Plafon kamar masih punya noda lembap berbentuk pulau. Bunga matahari tempel yang kupasang di lemari umur sembilan tahun tinggal empat kelopak. “Raaas?” suara Ibu datang dari balik pintu. “He-em…” “Bapak udah nunggu dari tadi.” Aku menutup wajah dengan kedua tangan. “Iya, Bu…” “Bangun, ya, Nduk.” Langkahnya menjauh sebelum aku sempat menjawab lagi.
Di ruang tengah Bapak sudah duduk dengan map biru, kalkulator, dua cangkir teh, dan pulpen yang diletakkan sejajar dengan tepi meja. Satu kursi di depannya kosong. Begitu aku datang ia mengetuk sandarannya pelan. “Nah. Sini, Ras. Duduk dulu.” Aku duduk sambil masih mengikat rambut. Bapak membuka map. “Begini. Sekolah punya pinjaman lama buat renovasi. Dulu lancar, ya. Murid masih banyak, dana operasional juga masuknya enggak kayak sekarang. Tiga tahun terakhir murid turun, beberapa pembayaran telat, akhirnya angsurannya berat. Koperasi kasih jalan restrukturisasi.” Ia menggeser tabel yang semalam cuma kulihat dari foto. Di bawahnya ada lembar lain. Judulnya dicetak tebal: Pernyataan Penjamin Perorangan. Aku menarik kertas itu lebih dekat, membaca baris pertama, lalu berhenti. Nama lengkapku sudah ada. Nomor KTP. Alamat Semarang. Pekerjaan. Penghasilan bulanan. Angka penghasilannya salah hampir satu juta. Alamat kantor justru cukup tepat. Aku menatap Bapak. “Hah? Pak… kenapa nama Raras udah ada di sini?” Bapak baru hendak mengambil tehnya. “Itu baru draf.” “Iya, Raras tahu ini draf. Kenapa drafnya sudah pakai data Raras?”
Sebelum Bapak menjawab, Ibu datang dari dapur membawa piring pisang goreng. Langkahnya melambat begitu melihat kertas di tanganku. Satu pisang hampir bergeser dari tumpukan dan ditahannya dengan ibu jari. Aku menunjuk angka penghasilan. “Bu, ini dari siapa?” Ibu meletakkan piring. “Apanya?” “Gaji Raras.” Tatapannya pindah dari kertas ke Bapak, lalu balik lagi kepadaku. “Yaaa… Ibu kira-kira.” “Alamat kantor juga Ibu kira-kira?” “Lho, kan kamu pernah kirim paket dari kantor. Alamatnya masih ada.” Aku menahan napas sebentar. “Terus nomor KTP?” Ibu mengerutkan dahi seolah sedang mengingat letak benda. “Fotokopinya pernah ada di map dokumen. Waktu ngurus apa, ya… BPJS apa bank dulu itu.” Bapak menggeser tehnya sedikit. “Ras, dibaca dulu sampai selesai. Jangan baru lihat nama langsung…” “Raras lagi baca, Pak.” Suaraku keluar lebih cepat daripada yang kuinginkan. Bapak diam. Aku menurunkan mata lagi ke formulir.
Bahasanya tidak panjang. Kalau sekolah gagal memenuhi kewajiban, penjamin bersedia menanggung sisa pinjaman beserta biaya yang timbul. Aku mencari batas jumlah tanggungan sampai halaman habis. Tidak ada. Aku balik ke halaman pertama, lalu halaman kedua lagi. Masih tidak ada. “Pak.” “Hm?” “Di sini enggak ada batas tanggungannya.” Bapak sedikit mencondongkan badan. “Maksudnya?” Aku memutar kertas supaya menghadap dia dan menunjuk paragrafnya. “Kalau sekolah gagal bayar, yang ditagih sisa kewajiban sama biaya-biayanya. Tapi enggak ditulis paling banyak Raras nanggung berapa. Jadi ini enggak cuma, misalnya, Raras bantu cicilan sekian per bulan. Selama suratnya berlaku, nama Raras ikut nempel ke utang itu.” Bapak belum melihat bagian yang kutunjuk; matanya masih di wajahku. “Yaaa… makanya jangan langsung diputuskan enggak bisa. Dibaca lengkap dulu, nanti kita tanyakan juga ke koperasi.” “Sudah Raras baca.” “Baru lima menit.” “Suratnya dua halaman, Pak.” Aku menaruhnya kembali. “Raras enggak bisa tanda tangan ini.”
Ibu yang sejak tadi berdiri akhirnya duduk di sebelahku. Tangannya otomatis mendorong piring pisang goreng mendekat. “Makan dulu satu. Dari semalam kamu makannya juga dikit.” Aku tidak mengambil. Bapak mengembuskan napas lewat hidung, kemudian merapatkan kedua tangan di atas meja. “Dengar dulu. Aset sekolah ada. Murid juga masih ada. Ini jalan supaya angsurannya turun dan sekolah bisa napas. Jadi jangan dibayangkan seolah besok koperasi langsung datang nagih kamu.” “Raras enggak bilang besok ditagih.” “Nah, ya itu.” “Yang Raras bilang, kalau nanti sekolah gagal bayar, surat ini kasih mereka hak buat nagih Raras.” Bapak menggeleng kecil. “Kamu selalu begitu. Baru lihat risiko, yang dilihat risikonyaaaa teruss.” “Karena yang diminta tanda tangan Raras…” Ada jeda pendek. Ibu merapikan ujung taplak dengan kuku. Bapak mengambil tehnya, meniup sekali, lalu berkata lebih pelan, “Keluarga kita siapa lagi yang bisa, Ras...? Bayu kerja saja belum tetap. Nisa masih kuliah. Ibu juga enggak ada penghasilan bulanan yang bisa dipakai. Kamu yang datanya paling masuk.” Aku menatapnya. “Kan… Yayasan punya pengurus, Pak.” Rahangnya bergerak sedikit sebelum tehnya diletakkan lagi. “Pengurus sudah bantu sesuai kemampuan. Jangan ngomong seakan Bapak belum mikirin orang laiiin... Ini sekolah dibangun puluhan tahun, bukan kemarin sore...”
Ibu menyentuh lenganku, ringan dulu, lalu telapak tangannya menetap. “Udah… enggak harus jawab sekarang, Nduk. Dipikirin dulu. Bapak juga cuma jelasin…” Aku melihat tangannya sebelum kembali ke formulir. “Bu, yang Raras masalahin dari tadi, kenapa data Raras sudah dimasukin sebelum ada yang nanya?” Ibu menghela napas kecil. “Kan baru draf…” “Nah,” Bapak langsung masuk, “baru draf. Kamu jangan membesar-besarkan bentuk kertasnya.” Aku mengangkat formulir setinggi dada. “Pak, bentuk kertas ini kalau ditandatangani bisa dipakai nagih uang Raras.” Bapak memandangku beberapa detik. “Jadi sekarang kamu curiga sama Bapak?” Pertanyaannya tidak keras. Justru itu yang membuat bahuku mengencang. Aku menurunkan kertas perlahan. “Raras lagi baca surat, Pak. Raras belum ngomong soal percaya atau enggak percaya.” “Ya kalau setiap yang Bapak jelaskan dibalas kayak pemeriksaan begini, itu kamu kenapa?” “Karena Bapak minta nama Raras masuk utang sekolah.”
Ibu melepas lenganku dan mengambil satu pisang goreng, lalu tidak jadi memakannya. Bapak bersandar. Dari arah sekolah terdengar bel pertama, tipis menembus jendela. Aku melihat tabel pinjaman lagi. “Raras mau lihat pembukuannya.” Bapak mengernyit. “Pembukuan apa??” “Keuangan sekolah. Pinjaman ini dipakai buat apa aja, cicilannya dari mana, aset sekolah apa, pengeluaran yang masih jalan. Kalau nama Raras diminta nanggung, Raras perlu tahu yang ditanggung itu bentuknya apa.” Bapak mengusap kening. “Hhh… kamu kalau sudah pegang angka memang begini, ya.” “Iya, Pak.” “Sekolah itu enggak bisa dibaca cuma dari tabel. Ada guru, ada murid, ada orang tua yang enggak mampu. ADDA TANGGUNG JAWwWAB...” “Raras juga enggak bilang semuanya tabel.” Ibu akhirnya menggigit pisang gorengnya, mengunyah sebentar, lalu berkata, “Bapakmu bangun sekolah itu dari nol, Nduk. Kamu kecil juga tahu. Murid yang enggak punya uang tetap diterima, guru yang butuh ditolong ya ditolong. Masa sekarang mau pensiun, terus semuanya dibiarkan ambruk?” Aku menggeser map mendekat. “Makanya Raras mau lihat datanya, Bu.” Ibu menelan. “Terus kalau setelah lihat data kamu tetap enggak mau, siapa yang bantu?” Tanganku berhenti di tepi map.
Bapak menarik map kembali setengah jengkal. “Sudah. Udah dulu. Kamu kurang tidur, Bapak juga ada urusan acara. Kerjakan bukunya dulu. Nanti kalau kepala sudah enak kita omongin lagi.” Ia berdiri sambil mengambil handuk yang sejak tadi tersampir di kursi sebelah. “Mapnya boleh Raras lihat?” tanyaku. Bapak menoleh. “Lihat. Jangan dibawa ke mana-mana.” “Raras cuma baca.” “Ya.” Ia berjalan menuju kamar mandi, lalu berhenti satu langkah sebelum lorong. “Dan jangan langsung bikin kesimpulan dari satu dua angka, Ras.” Setelah itu baru pergi. Ibu mengangkat piring pisang goreng. Ada dua yang hilang meski aku tidak melihat kapan Bapak mengambil satu. “Kamu mau?” tanyanya. Aku menggeleng. “Ya udah. Nanti dingin jangan bilang enggak enak.” Ia kembali ke dapur membawa piring itu.
Map biru kubawa ke teras. Gang masih basah bekas disiram orang. Penjual sayur berhenti di rumah seberang sambil meneriakkan harga tomat, dua anak bersepeda melewati genangan dan sengaja menginjak bagian paling dalam, lalu bel sekolah berbunyi lagi. Lima menit kemudian Bu Hesti muncul dari arah gerbang sambil membawa tas kain dan setumpuk lembar ujian yang ditekan ke dada. Begitu melihatku, alisnya naik. “Lhooo… baru pulang udah pegang map? Ya Allah. Bapakmu itu kenal cuti enggak, sih?” Aku menggeser sandal supaya dia bisa naik ke teras. “Bu Hesti masih ngajar matematika?” “Masih…” Ia duduk, meletakkan lembar ujian di paha, kemudian mulai menghitung dengan jari. “Matematika, wakil kurikulum, bendahara kalau bendaharanya pusing, petugas listrik kalau token bunyi, sama ibu asuh anak yang lupa bawa bekal. Gajinya satu.” Aku tertawa pendek. “Promosi jabatannya banyak.” “Makanya. Tinggal gajinya yang belum ikut rapat.”
Aku membuka map pada tabel pinjaman. Bu Hesti masih tersenyum sampai matanya jatuh ke angka di bagian bawah. Senyumnya hilang sendiri. “Bu… keuangan sekolah memang separah ini?” Ia tidak langsung menjawab. Satu lembar ujian yang ujungnya terlipat diratakannya dulu dengan telapak tangan. “Bapakmu… cerita apa?” “Katanya restrukturisasi. Versi administrasi.” Bu Hesti mendecakkan lidah kecil. “Yaaa… administrasi memang. Cuma administrasinya sudah bikin orang susah tidur.” Ia menoleh ke jalan menuju sekolah. “Murid turun tiga tahun. Dana bantuan kadang telat. Wali murid banyak yang nunggak. Gedung yang baru itu dulu hitungannya terlalu berani. Waktu masih ramai kelihatannya ya bisa.” “Guru… telat dibayar??” “Honorer sih.. yang paling kerasa.” “Hmm?? Berapa lama?” Bu Hesti mengembuskan napas, pipinya sedikit menggembung. “Dua bulan pernah. Tiga juga pernah. Kadang… dicicil, jadi bukan benar-benar enggak dibayar… cuma ya, duit lima ratus ribu datang dua ratus dulu, sisanya kapan-kapan. Coba bayangin kalo beli di warung, tapi mau dibayar pakai kalimat kapan-kapan.”