Kesuwun

Jaudan Nahidl Ghybran
Chapter #6

Chapter 6 - Transfer Pertama

Ada sedikit kenangan lama. Aku mulai bekerja sebelum tahu pekerjaan apa yang ingin kulakukan. Saat itu, umurku enam belas ketika Bu Rukmini, pemilik tempat fotokopi dekat pasar, memintaku membantu setiap Sabtu sepulang sekolah. Hari pertama aku disuruh mengurutkan tiga ratus lembar soal ujian. Mesin fotokopinya punya kebiasaan menarik dua kertas sekaligus, berhenti dengan bunyi krek-krek, lalu memuntahkan halaman empat lebih dulu daripada halaman tiga. “Jangan dilawan pas dia bunyi begitu,” kata Bu Rukmini dari balik meja. Tangannya hitam kena toner sampai ke kuku. “Tungguin aja. Dia kalau dipaksa malah ngambek.” Aku menatap mesin yang pintunya sedang terbuka. “Mesin bisa ngambek, Bu?” “Yang beli kredit tiga tahun mah harus dianggap keluarga, hahaha ha...” Ia tertawa sendiri, lalu menyuruhku memisahkan halaman genap dan ganjil. Sore itu ia memberiku dua puluh lima ribu rupiah dan sebungkus gorengan yang minyaknya mulai menembus kertas. “Nih.” Aku menerima uangnya dengan dua tangan. “Buat Raras?” Bu Rukmini menatapku. “Lha iya. Masa buat saya lagi? Saya sudah dapat capeknya lhooo...” Dua lembar sepuluh ribuan dan satu lima ribuan itu kulipat, masuk saku rok, lalu sepanjang jalan pulang beberapa kali kuraba dari luar kain untuk memastikan masih ada.

Di depan toko alat tulis aku berhenti. Di etalase paling atas ada buku catatan bersampul biru tua. Bukan buku sekolah bergambar rumus atau peta Indonesia; cuma biru, polos, agak gelap, dengan kertas tebal, garis tipis, dan sudut membulat. Delapan belas ribu. Aku berdiri cukup lama sampai penjaga toko bertanya dari dalam, “Cari apa, Neng?” “Enggak… lihat aja.” Aku ingin membelinya. Tapi di rumah, Ibu sedang duduk di lantai dapur dengan tumpukan receh di depan lutut. Kompor tidak menyala. Bayu tidur di kamar dengan handuk kecil di dahi, wajahnya merah karena demam. Di pintu kulkas ada tagihan listrik yang jatuh tempo besok. Bapak belum pulang dari rapat yayasan. Ibu melihat seragamku, lalu plastik gorengan di tangan. “Dari Bu Rukmini?” “He-em.” “Dibayar?” Tangannya masih menyusun uang lima ratusan ketika bertanya, “Dapat berapa?” Aku merogoh saku. Dua puluh lima ribu itu masih hangat oleh paha. Kutaruh semuanya di telapak tangannya. Ibu berhenti menghitung. “Ini… semuanya?” Aku mengangguk. Wajahnya yang sejak tadi tegang perlahan mengendur. “Ya Allah… anak Ibu udah gede.” Ia memelukku dari posisi duduk, satu tangannya masih menggenggam uang. Pelukannya lebih lama dari biasanya dan dagunya menekan perutku. “Makasih ya, Nduk. Gasnya habis dari tadi. Bayu juga obatnya tinggal satu.” Aku berdiri sambil mengusap punggungnya. Gorengan dari Bu Rukmini, kami makan berdua di dapur sebelum Ibu pergi membeli gas.

Malamnya Bapak pulang membawa martabak telur. Entah Ibu sudah cerita atau ia melihat tabung gas baru di dapur, aku tidak tahu. Kami makan di ruang tengah sambil Bayu tidur dibungkus selimut. Bapak menepuk bahuku dua kali. “Nah… begini. Anak sudah besar, mulai ngerti keadaan orang tua.” Nada suaranya ringan, malah bangga. “Kerja itu bagus. Biar tahu cari uang susah. Tapiii… sekolah jangan sampai turun, ya.” “Iya, Pak.” “Kalau bisa bantu orang tua, ya alhamdulillah. Rezekinya jadi berkah.” Ibu menggeser potongan martabak yang paling banyak telurnya ke piringku. Aku memakannya sampai habis. Buku biru tetap di etalase.

Aku kembali ke tempat Bu Rukmini Sabtu berikutnya, lalu Sabtu setelahnya. Lama-lama aku tidak cuma mengurutkan soal. Aku mengetik undangan, mengatur margin makalah mahasiswa yang panik karena jilid harus selesai satu jam lagi, membersihkan latar abu-abu dari fotokopi KTP, mengganti tinta stempel, sampai belajar dari suara mesin kapan kertasnya akan macet sebelum lampunya berkedip. Upahku naik sedikit. Ibu hampir selalu bertanya sepulang kerja, “Hari ini dapat berapa, Nduk?” Kadang langsung, kadang setelah menaruh teh di depanku. Kalau rumah sedang longgar, sebagian uang kembali ke sakuku. Kalau ada kebutuhan, jumlah yang kembali mengecil sendiri. Bulan ketiga, buku biru itu masih ada di rak paling atas, sudah berdebu di bagian punggung. Aku membelinya sebelum pulang. Penjaga toko mengusap sampulnya dengan kain dan memasukkannya ke plastik bening. “Dari kemarin lihat ini terus, kan…?” Aku langsung menoleh. “Kok tahu?” “Muka orang yang kepengin barang ya kelihatan, Neng.” Aku membawa buku itu pulang di dalam tas, menyelipkannya di bawah kasur, lalu malamnya beberapa kali ingin mengeluarkan lagi. Halaman pertama masih kosong. Aku belum tahu apa yang mau kutulis. Itu justru bagian yang kusuka.

Dua hari kemudian Ibu masuk kamar mencari uang iuran Bayu. Kasurku diangkat sedikit dan sampul birunya kelihatan. “Lho? Beli ini??” Aku yang sedang mengerjakan tugas di meja menoleh. “He-em.” Ibu membolak-balik bukunya. “Berapa?” “Delapan belas.” “Delapan belas ribu??” Matanya naik ke wajahku, lalu kembali ke halaman kosong. “Buku tulis kamu di lemari masih banyak, lho.” “Yang ini beda.” “Bedanya apaan?” Aku membuka mulut. Aku ingin bilang: aku mau punya kertas yang kupilih sendiri. Kalimatnya terasa aneh bahkan sebelum keluar. “Pakai uang Raras sendiri kok, Bu.” Ibu berhenti pada halaman pertama. “Uangmu sendiri…?” Nada itu tidak tinggi. Lebih seperti ia sedang mencoba memahami kategori baru. “Iya, Ibu tahu dari hasil kerja kamu. Maksud Ibu ya… kalau masih ada buku, ngapain beli lagi?” Ia menutup sampulnya. “Mau dipakai apa?” Aku tidak tahu cara menjelaskan sesuatu yang ingin kumiliki justru karena belum ada yang memesannya. “Belum tahu.” “Halahh….” Ibu terkekeh kecil. “Ya sudah. Jangan beli cuma gara-gara lucu warnanya.” Buku itu diletakkan kembali.

Keesokan sore aku pulang dan menemukannya terbuka di meja kantin sekolah. Di halaman pertama sudah ada tulisan tangan Ibu: Mi instan 2.500. Telur 1.000. Es plastik 500. Di bawahnya ada dua nama anak yang berutang. Aku berdiri di depan meja beberapa detik. Ibu sedang melayani murid, satu tangan mengambil uang, tangan lain membuka stoples kerupuk. “Ras, tolong ambilin plastik yang bawah itu!” Aku melihat buku biru sekali lagi, lalu membungkuk mengambil plastik. Aku tidak pernah mengambilnya kembali.

Tahun aku lulus SMK, sebuah amplop putih berlogo biru datang ke rumah. Namaku tertulis di depan. Aku membuka lemnya pelan-pelan karena takut merobek sesuatu yang bahkan belum kubaca, kemudian membaca kata diterima sampai lima kali. Program studi penerbitan. Perguruan tinggi negeri. Namaku. Aku membawa surat itu ke tempat Bu Rukmini sebelum pulang. Ia baru selesai membersihkan kaca mesin ketika kusodorkan kertasnya. “Bu.” “Hm? Apaan?” Aku tidak menjawab. Dia membaca sendiri. “HAH?” Tangannya langsung mencengkeram lenganku, kain lap bertinta masih tergantung dari jari. “Raras?! Negeri?!” Aku tertawa karena dia malah lebih kaget dariku. “He-em.” “Ya ambil!” katanya cepat. “Ambil. Kamu punya mata buat kerja begini. Jangan habis di mesin tua saya.” Ia menepuk mesin fotokopi di sebelahnya. “Maaf ya,” katanya kepada mesin, lalu kembali menatapku. “Serius, Raras… SERIUUUSS! Ambil.”

Di rumah, Bapak membaca surat itu dari atas sampai bawah, lalu sekali lagi bagian yang memuat namaku. Wajahnya terang. “HAHAHA… Anak Bapak masuk negeri…!” Dan, malam itu kami membeli lima mangkuk mi ayam. Bayu meminta bakso tambahan, Nisa tidak habis mi lalu dipindahkan ke mangkuk Ibu. Surat penerimaanku kutaruh di tengah meja dalam plastik bening supaya tidak kena kuah. Baru setelah mangkuk mulai kosong Bapak bertanya, “Daftar ulang berapa?” Aku menyebut angkanya. Sendok Ibu berhenti di dalam es teh. Di sebelah suratku ada nota rumah sakit, tunggakan sekolah Bayu yang tadi siang dibawa pulang, dan daftar seragam Nisa yang harus dibeli sebelum tahun ajaran baru. Bapak menarik napas, mengusap mulut dengan tisu, kemudian mengambil surat penerimaan lagi. “Ya… tetap harus diambil. Kamu cari beasiswa. Sekarang banyak, kan? Bisa sambil kerja juga.” Ia melihatku. “Bapak dukung. Jangan baru lihat susahnya terus mundur. Banyak orang yang kondisinya lebih berat masih bisa kuliah.” “Iya, Pak...” “Yang penting niat.” Ibu mengaduk es tehnya, padahal gulanya pasti sudah larut sejak tadi. “Kalau sambil kerja kuat enggak, Nduk?” Aku melihat nota rumah sakit, angka seragam Nisa, tunggakan Bayu, lalu plastik surat penerimaanku. “Raras kerja dulu setahun aja.” Sendok Ibu berhenti lagi. “Yakin?” tanyanya. Aku belum menjawab, tetapi bahunya sudah turun sedikit. Bapak mengernyit. “Kalau ditunda, nanti daftar lagi dari awal.” “Setahun aja, Pak. Nabung dulu.” “Hmmm….” Ia menatap surat itu cukup lama. “Kalau memang itu keputusanmu. Tapi jangan keterusan. Tahun depan daftar lagi.” “Iya...” Kami pulang membawa lima mangkuk plastik bekas kuah dan satu rencana setahun.

Lihat selengkapnya