Kesuwun

Jaudan Nahidl Ghybran
Chapter #7

Chapter 7 - Anak Tertua

Bayu lahir ketika aku berumur lima tahun. Nisa menyusul empat tahun kemudian. Tidak ada hari ketika seseorang duduk di depanku lalu menjelaskan bahwa tugasku berubah. Yang ada hanya kalimat-kalimat kecil yang datang sambil tangan orang dewasa sibuk dengan hal lain. “Ras, pegang Bayu sebentar…” “Temani adikmu tidur, ya...” “Suapin dulu, Ibu tangannya kotor, Ras.” “Kamu kan kakaknya...” Kadang sebentar benar-benar berarti sebentar. Kadang sampai azan magrib. Lama-lama tanganku tahu suhu susu dari pergelangan, tahu popok mana yang dipasang terbalik, tahu Nisa akan berhenti menangis kalau punggungnya ditepuk mengikuti irama iklan mi instan. Dari jarak dua gang aku mengenali suara motor Bapak. Dari suara batuk Bayu aku bisa membedakan ia cuma tersedak atau mulai demam. Aku tidak pernah merasa sedang belajar menjadi orang yang selalu tahu. Orang-orang cuma kelihatan lega setiap kali aku tahu. Ilmu mengasuh ini kudapat dari pengalaman.

Waktu Bayu mulai TK, setiap pagi, di rumah punya urutan yang hampir selalu sama. Ibu sudah di kantin sebelum matahari tinggi, Bapak berangkat lebih dulu kalau ada rapat, dan aku, aku berdiri di depan lemari mencari kaus kaki yang pasangannya entah ke mana. “Mbaaak, sepatu Bayu basah…!” teriak Bayu dari kamar mandi. Dari kasur, Nisa yang masih kecil ikut memanggil karena kancing seragamnya nyangkut. Aku berjalan membawa sisir di mulut, satu kaus kaki di tangan, dan botol minum di ketiak. “Bayu, pakai yang hitam dulu. Nis, sini bajunya.” “Yang hitam sempit.” “Hari ini aja.” “Enggak mauuu...” “Yu, tujuh menit lagiii.” Aku tidak tahu dari mana angka tujuh menit itu datang. Mungkin dari jam dinding, mungkin dari suara Bapak yang sering menghitung keterlambatan. Nisa mengangkat tangan supaya bajunya bisa kubetulkan. Rambutnya berdiri di belakang. Aku menyisir sambil membaca ulang tugas sekolahku sendiri yang belum selesai. Ketika Ibu pulang sebentar mengambil uang kembalian, ia berhenti di pintu melihat kami sudah hampir siap. “Nahh... kalau ada Mbaknya, Ibu tenang…” Kalimat itu terasa seperti pujian. Aku menyimpannya seperti anak menyimpan stiker bintang dari guru.

Ketika Bayu berumur tiga tahun, genggamannya lepas di pasar. Ibu sedang memilih cabai untuk kantin, Bapak berhenti karena bertemu wali murid, dan aku berdiri dekat penjual mainan sambil menahan tangan Bayu yang sejak tadi ingin meraih truk plastik merah. Aku ingat telapak tangannya berkeringat. Aku ingat ada orang lewat membawa dua ekor ayam hidup yang kakinya diikat. Aku menoleh karena ayamnya berisik. Ketika kembali melihat ke samping, tanganku sudah kosong. “Bayu? …eh? BAYU?!” Kaus kuningnya lenyap di antara kaki orang dewasa. Aku memanggil lebih keras, menyenggol keranjang sayur, plastik ikan, hingga pinggul orang yang tidak kukenal. Seseorang bilang lihat anak kecil lari ke arah kaset. Seseorang lain bilang ke pintu belakang. Sepuluh menit kemudian, penjual kaset menemukan Bayu duduk dekat pengeras suara, menangis tanpa bunyi, napasnya putus-putus dan satu sandalnya hilang.

Ibu meraih Bayu lebih dulu, memeluknya sambil mengucap istigfar berkali-kali, lalu telapak tangannya mendarat di pahaku. “Kamu kakaknya, Raras! Ya Allah... kamu kakaknya!” Aku tidak menangis sampai kami pulang. Malamnya bekas merah itu diolesi minyak kayu putih. Ibu duduk di tepi kasur, mengusap pelan tempat yang tadi dipukul. “Ibu panik, Nduk... tadi Ibu panik banget. Jangan dimasukin hati, ya.” Dari ruang depan, Bapak masih membahas bagaimana anak sulung perlu belajar tanggung jawab lebih cepat karena adik mengikuti. Ia tidak sedang marah. Nada suaranya justru sabar, panjang, seperti pelajaran yang ingin disimpan. Bayu sudah tidur di sampingku sambil menggenggam ujung bajuku. Wajahnya bengkak bekas menangis. Aku menggeser lengannya supaya tidak ketindih, lalu menghafal sandal yang hilang: biru, gambar ikan, ukuran dua puluh empat. Besoknya Ibu membeli yang baru. Sejak hari itu mataku menghitung jarak adik-adikku di tempat ramai. Nomor kendaraan Nisa kuhafal saat ia mulai sekolah. Obat, alamat, nomor telepon guru, jadwal jemput, semuanya mendapat tempat sendiri di kepala. Orang-orang menyebutnya teliti. Aku tidak pernah bilang dari mana ketelitian itu mulai tumbuh.

Besok setelah kejadian di pasar, paha kiriku masih nyeri ketika duduk di bangku sekolah. Bu Guru bertanya kenapa aku beberapa kali berdiri untuk melihat ke jendela. Aku bilang tidak apa-apa. Di luar, anak kelas satu sedang berbaris menuju lapangan dan ada satu anak memakai kaus kuning di bawah seragam olahraga. Setiap ia menghilang di balik tiang, perutku menegang sebentar. Sepulang sekolah aku langsung mencari Bayu. Ia sedang jongkok di halaman, sandal barunya masih kaku, memindahkan kerikil ke dalam kaleng susu. “Jangan ke mana-mana, ya...” Bayu bahkan tidak menoleh. “He-em… Iya.” Lalu kemudian ia sudah pindah dekat pagar. Aku menarik lengannya terlalu keras. “Tadi bilang apa? HM?!!” Bayu memandangku bingung, bibirnya mulai turun. Ibu yang sedang menjemur kain melihat dari jauh. “Jangan galak sama adik…” Aku melepaskan tangan. Bekas jari muncul sebentar di kulit Bayu, lalu hilang. Saat malam sudah jatuh, aku tidur dengan punggung menghadap dia. Ia tetap mencari ujung bajuku seperti biasa.

Kami juga pernah sangat senang menjadi saudara. Kardus bekas kulkas berubah menjadi loket bank; Bayu membuat uang dari sobekan buku tulis dan memberi dirinya sendiri gaji paling besar, Nisa membuka toko obat dengan persediaan kelereng, karet rambut, dan dua permen yang dilarang dimakan sebelum permainan selesai. Aku menulis aturan pada tutup kardus. Bayu menambah pasal bahwa pemilik bank boleh tidur siang. Nisa menggambar cap bunga yang bentuknya lebih mirip matahari meledak. Ketika listrik mati, kami meneruskan permainan memakai senter, dan Bapak yang lewat memasukkan uang seribu rupiah ke loket. “Hahaha… Modal usaha,” katanya. Besok paginya uang itu dibelikan es lilin bertiga. Bayu langsung mengambil warna merah. Nisa menangis karena ingin warna yang sama. Aku membagi es milikku menjadi dua, lalu marah seharian karena bagian yang tersisa terlalu kecil. “Kan kamu kakaknya,” kata Ibu ketika melihatku cemberut. Bayu menawarkan satu gigitan dari es merahnya setelah hampir habis. Aku menolak. Malamnya kami tidur berdempetan karena hujan deras, membuat cerita tentang penghuni awan. Tokoh jahat milik Bayu selalu dikalahkan kentut. Tokoh perempuan milik Nisa selalu jadi dokter, bahkan kalau ceritanya sedang tentang bajak laut.

Kadang aku memakai kuasa kakak seenaknya. Remote kusembunyikan. Kesalahan mereka kulaporkan. Pernah aku memaksa Nisa menulis ulang tugas sampai hurufnya rapi. Kertas pertama penuh bekas hapusan. Yang kedua masih miring di baris ketiga. “Ulang! Ini masih jelek.” Nisa mengusap mata dengan punggung tangan. “Capek, Mbak…” “Sebentar lagi selesai…” “Udah dua kali, iiihh…!” “Makanya yang bener dari awal, Nis...” Di tengah kalimat itu aku mendengar suara Bapak keluar dari mulutku sendiri. Kecepatan bicaranya, tekanannya pada dari awal, cara seolah-olah solusi sudah tersedia kalau orang lain cukup disiplin. Aku mendengarnya dan tetap menyuruh Nisa menulis. Baru ketika ia mulai menangis tanpa suara, aku mengambil kertasnya. “Ya udah... sini…” Besok sore kubelikan dia es lilin sebagai permintaan maaf. “Merah?” tanyaku. “Hijau…” Ia mengambilnya tanpa melihatku. Bekas tekanan pensil pada kertasnya masih dalam sampai halaman belakang.

Lihat selengkapnya